Sosok

150 17 2
                                        


Belum pernah sekali pun di dalam hidup Agatha tidur tiga jam cukup untuk mengisi kembali tenaga setelah terkuras habis, ada semacam mekanisme alarm yang tertanam di dalam tubuhnya. Tidak lebih dari pukul lima pagi kedua matanya sudah terbuka lebar begitu segar tanpa kantuk, ia berpikir keras memikirkan apa benda milik Radian yang tertinggal di rumahnya dan di mana benda itu berada.

Dari pada membuang waktu, Agatha memilih untuk langsung bertindak. Ia menyisir setiap sudut rumahnya. Dari mulai ruang tamu hingga dapur, tidak satu pun celah luput dari perhatiannya.

"Kamu cari apa?" tanya Ibunya ketika bertemu Agatha di ruang tamu.

Agatha terkejut tapi ia berusaha untuk terlihat biasa saja, "cicin aku hilang, Bu." Kecoh Agatha.

Ibunya hanya mengerutkan dahi lalu pergi meninggalkannya, sepeninggal Ibunya Agatha langsung masuk ke kamar tamu yang selama ini ditempati Ibunya. Kamar itu berukuran sedang dengan sebuah lemari plastic, tempat tidur, dan meja. Kamar itu terasa sempit tapi masih cukup nyaman, Agatha mulai membuka lemari plastic untuk memeriksa bagian dalamnya. Lemari itu kosong, kebanyakan berisi majalah kadarluarsa milik ibunya yang ditumpuk sembarangan bercampur dengan kertas putih bekas.

Agatha dengan teliti membongkar tumpukan majalah untuk melihat apakah ada benda mencurigakan yang belum pernah ia lihat, nihil. Tidak ada barang yang seperti berhubungan dengan keluarga Radian.

Agatha beralih ke atas meja, tetapi semuanya tidak ada apa-apa selain berkas milik Ibunya yang berserakan. Agatha mulai putus asa, terakhir ia memeriksa kolong tempat tidur. Kosong, hanya ada lantai kotor yang berdebu.

Agatha mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, tidak ada celah rahasia yang punya kans tinggi digunakan untuk menyimpan benda rahasia.

"Caria pa, Non?" tanpa ia sadari Bi Nur sudah berdiri di ambang pintu kamar, matanya menatap heran.

"Aku lagi cari barangku yang hilang, Bi." Jawab Agatha.

"Barang apa, Non? Kali aja Bibi lihat."

Agatha menggeleng ringan.

"Cincin, Bi. Tapi Bibi gak usah takut, paling aku lupa simpan di mana." Ujar Agatha.

"Ya sudah, kalo perlu apa-apa kasih tahu Bibi aja." Bi Nur berkata ramah.

"Beres, Bi." Sahut Agatha.

Bi Nur meninggalkan kamar disusul Agatha, pagi itu pencarian tidak membuahkan hasil apa-apa. Sepulang sekolah ia harus mencoba lagi, masih ada kamar Ayahnya yang jarang ia jamah. Tapi tidak sekarang karena Ayahnya sedang berada di dalam, dan akan sangat fatal untuknya datang dan menggeledah kamar itu.

Agatha masuk ke kamar mandi, dan kemudian bersiap untuk berangkat sekolah.

***

Agatha yang sudah berseragam rapi datang ke meja makan untuk sarapan, hanya ada Ibunya yang duduk memandangi secangkir kopi hangat di hadapannya. Ayahnya tidak ada.

"Selamat pagi, Bu." Sapa Agatha lalu mengecup pipi Ibunya.

"Pagi, sayang." Balas Ibunya.

Ada kejanggalan yang masih terasa di dalam diri Agatha, sekeras apapun ia menampiknya dan menganggap keadaan baik-baik saja. Rasa janggal akan terasa kental mengendap di dalam dirinya.

"Udah ketemu barangnya?"

"Belum, tapi aku mau cari lagi nanti pulang sekolah."

Bi Nur menyediakan sarapan untuk Agatha, sedangkan Ibunya hanya memerhatikan. Ada yang aneh di dalam sorot mata Ibunya yang sayu.

"Ibu baik-baik aja?" tanya Agatha, ia menatp langsung ke dalam mata Ibunya.

Alih-alih menjawab, Ibunya justru termenung sejenak.

"Sebenarnya keadaan tidak terlalu baik, Agatha." Akhirnya ia menjawab.

"Memangnya ada apa, Bu?"

"Ayahmu," Ibunya melirik pintu kamar, "tadi mengamuk di dalam kamarnya." Suara Ibunya semakin pelan, setengah berbisik.

"Setelah mengamuk ia mengunci diri di dalam kamar dan tidak memperbolehkan siapapun masuk termasuk Bi Nur yang biasa merawat luka Ayahmu." Lanjutnya.

Kursi yang diduduki Ibunya bergeser, "kamu enggak usah masuk sekolah hari ini, temani Ibu di rumah,"

"Ibu takut."

Iris mata Ibunya mengecil, ada perasaan getir di balik matanya.

"Tapi kalo aku enggak masuk nanti aku ketinggalan pelajaran, Bu."

Dengan gerakan cepat, Ibunya menyambar tangan Agatha. "Ibu mohon, tinggal di rumah hari ini. Temani Ibu." Pinta Ibunya.

Agatha tak kuasa menolak permintaan Ibunya, raut wajahnya begitu memohon. Jika Agatha menolaknya sekali lagi, mungkin ia tidak sungkan-sungkan bersimpuh di kaki Agatha. Agatha mengembuskan napas panjang lalu mengangguk, rona kegembiraan sekaligus lega tergambar di wajah Ibunya.

"Aku mau ke kamar dulu buat nelpon teman sekelasku," Agatha beranjak dari meja makan dan berjalan ke kamarnya.

Diraihnya ponsel yang tergeletak di meja, ia kemudian menelpon Andini untuk mengatakan bahwa ia sakit dan tidak bisa masuk sekolah.

The Haunted DiaryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang