Hai hai haiii...
Mian yah baru update lagi setelah ni author menghilang. Miaaaaaannnnn!! Nih yaa.. kita lanjut lagi ke Part 20. Masih pada inget ga gimana dilemanya Tae mi antara Luhan sama Yi fan?
Daripada penasaran.. kita lanjut aja yuu! Enjoy reading!! ^^------------
Akupun menerima ajakkan itu. Sedikit memalukan karena beberapa kali aku menginjak kakinya itu, kemudian terus meminta maaf. Ia selalu mengunci pandanganku dengan pandangannya yang mematikan itu.
Sesaat ia menatapku lekat-lekat sampai pandangan kami bertemu. Namun tak lama ia mendekap tubuhku sampai dipelukkannya dan tetap menggerakkan kakinya layak berdansa. Alunan musik membuat kami terhanyut dalam suasana.
"Tae mi-ahh, Aku sangat mencintaimu! Percayalah itu..." Ia berbisik di telingaku. Jantungku terus berdegup kencang ketika ia mengatakan itu. Benarkah aku juga jatuh cinta padanya?Setelah musik berhenti, kami pun menghentikan semuanya ditengah riuhnya sorak semua orang pada kami. Tapi lengannya itu tetap mendekap pinggangku sampai kami tak berjarak lagi.
"Kalian hebat!!"
"Terimakasih..."Ucap kami bersamaan.
"Ahh.. Itu!! Sepertinya Sehun tiba!" Hyung sik tampak menunjuk seseorang yang jauh dibelakan kami. Sontak Yi fan berbalik untuk memastikannya sedangkan aku menjadi terpaku ditempat. Aku tak berani untuk melihatnya.
"Benarkah itu ia?"FLASHBACK ON
"Chagiya, nan neol saranghae!" Ujar Sehun padaku saat kami bermain bersama.
"Kau gila, Sehunnie!!!" Aku memukulnya.
FLASHBACK OFFAku mengingatnya. Aku ingat namja kecil yang selalu merangkulku dan memanggilku "Chagiyaa~" dengan sangat manja. Aku sangat merindukannya. Ia yang kucari selama ini. Bukanlah ...
"Yi fan-ssi!!" Panggilnya dari kejauhan. Aku masih memunggunginya saat ini, aku tak siap bertemu dengan namja itu walaupun aku tak melihatnya lagi setelah 10 tahun.
"Oh.. Sehunnie!" Sahut Yi fan yang mulai membalikkan tubuhnya untuk menyapa teman lamanya itu.
"Ohhh.. Bagaimana kabarmu, sobat?" Tanyanya.Aneh! Aku mengenali suaranya. Ini bukanlah suara yang baru terdengar olehku. Dengan rasa penasaranku, akupun membalikkan tubuhku untuk melihat dan memastikannya.
"Lu.. Lu.. Luhan?" Aku terkejut mengetahui siapa orang itu. Kalimatku terbata-bata dibuatnya, dan lagi seribu pertanyaan muncul di kepalaku. Apa ia Sehun? Atau Luhan namjachinguku? Atau ia.. sedang... Menipuku? Tapi aku sudah mengetahui semuanya. Mungkin pertanyaan terakhir dibenakku ini sudah sangat tepat.
"Ah iya aku hampir saja lupa memperkenalkanmu pada yeojachinguku!" Ujar Yi fan menghampiriku dan memeluk pinggangku. Sedikit tidak nyaman, karena saat ini namjachinguku tepat berada di hadapanku.
"Tae.. Tae mi-ahh?" Ia kini menatapku dengan tatapan yang tajam. Tangannya dikepalkan dan wajahnya memerah karena kesal. Ia marah padaku, tapi tinjuannya mendarat tepat di bagian pipi kanan Yi fan. Sontak aku yang melihat kejadian di depan mataku itu langsung memegang pipi Yi fan yang kesakitan.
"Gwenchana, Tae mi-ahh. Kumohon menyingkirlah! Aku ingin menyelesaikannya." Rintihnya.
"Apa maksudmu membawanya kemari dan merangkulnya seperti itu?!!" Sentaknya keras sambil menarik kerah kemeja Yi fan dengan kasar.
"Hah.. Aku membawa janjiku. Dan ialah yeojachinguku!! Kau mengerti?!!" Kali ini Yi fan yang menyentaknya balik. Namun tarikkan pada kerah Yi fan ini mengendur. Ia menatapku tajam, kemudian dengan kasar ia menarik tanganku dan membawanya ke rooftop.
"Lepaskann!!!!!" Teriakku kesakitan.
"Luhan-ssi, LEPASKAAAN!!!" Teriakku lebih keras lagi. Dan ia menurutinya kali ini walaupun nafasnya masih menderu.
"Apa yang kau lakukan?!" Sentaknya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan?!" Aku meneriakkinya kali ini.
"Tae mi-ahh, kau adalah yeojachinguku!!! Apa yang kau lakukan dengannya?!"
"Aku hanya membantunya!! Karena aku berhutang padanya. Lalu.. Apa maksudmu berpura-pura menjadi Sehun?! Apa kau gila?! Sejak dulu aku menginginkannya!!! Aku mencarinya!!! Dan aku mencintainya!!! Neo arra?" Pada awalnya aku menginterogasinya dengan berteriak. Namun karena Sehun nadaku melemah.
"Ne, nan arrayo!! Sejak dulu kau memang tak pernah menganggap keberadaanku, Tae mi-ah!! Aku mencintaimu!!! AKU MENCINTAIMU!!!" Jawabnya tegas.
"Tae mi-ahh, kajja!" Tak tahu darimana ia berasal Yi fan dengan sigap langsung menarik tanganku guna menjauh darinya.
"K... Kau.." Ucapku terbata-bata.
"Kajjayeo! Jangan dengarkan ia! Aku sudah mendengarnya tadi." Ia merangkul pundakku dengan mesra, membuat kami sangat dekat. Menyadari apa yang ia lakukan saat ini membuatku ingin berbalik melihat keadaan Luhan.
"Hajima!! Hajimarayo!!! Jangan berbalik! Hanya tataplah aku!" Rangkulannya semakin erat untuk menahanku. Ia bertindak dengan cepat seakan-akan ia mengetahui suara hatiku.Yi fan POV
Aku mendengar semuanya. Tapi aku masih tidak mengerti apa yang mereka permasalahkan. Satu hal yang kutahu, ia bukanlah Sehun sahabatku, ia Luhan. Aku jadi ingat jelas banyak hal tentang masa kecilku.Kau tahu? Sejak dulu aku, Sehun, dan Luhan selalu memperebutkan satu yeoja yang sama dan aku memang kesulitan untuk membedakan mana Sehun ataupun Luhan. Sekarang aku mengerti, Tae mi adalah Tae na. Saat itu, kami memperebutkannya seperti saling merebut mainan. Kekanak-kanakan, bukan? Dua tahun kami bersama-sama, akhirnya terdengar pula ucapan Tae na kecil yang ternyata ia juga menyukai Sehun. Aku terkejut mendengarnya.
Selang beberapa hari dari perkataan Tae na itu, appa kembali dipindah tugaskan ke China. Dan tak banyak kabar yang kudengar tentang Tae na setelah itu. Dunia begitu sempit, kan? Yeoja yang kucintai dan tak bisa kutemui, kini ia berada di sampingku. Like the first sight I met her, my heart still choose her for the second time.
"Yi fan-ssi, maafkan aku karena telah menghancurkan acaramu tadi. Kau jadi tak bisa bersenang-senang malam ini." Ia mulai membuka mulutnya setelah banyak air mata yang jatuh.
"Apa yang kau bicarakan Tae mi-ahh? Ini adalah sebuah kecelakaan. Tak ada satupun yang dapat menduganya." Jawabku santai.
"Kau benar-benar namja yang baik, Yi fan-ssi!" Pujinya sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
"Aku tersanjung mendengarnya. Terimakasih.."
"Umm.. Tae mi-ahh, apa kau baik-baik saja sekarang?" Lanjutku.
"Ya, sedikit." Angguknya pelan.
"Bolehkah aku bicara?" Tanyaku.
"Mworago?" Matanya membulat seakan akan ia siap mendengar ucapanku.
"Tae na-yaa.. Apa kau masih mencintainya?" Tanyaku drngan nada lirih.
"Da.. Da.. Darimana kau tahu namaku,Yi fan-ssi?" Ia terkejut mendengar aku menyebut nama kecilnya. Ia mendekap mulutnya, dan seketika matanya kembali berkaca.
"Tae na-yaa.. Malhaebwa! Apa kau masih mencintainya?" Aku mengabaikan pertanyaanya dan kembali menegaskan pertanyaan yang membuatku penasaran sejak tadi.
"Luhan??"
"Molla... Aku merasa kecewa karenanya." Jawabnya pelan. Tapi aku yakin ada banyak keraguan dari jawabannya itu.
"Lalu... Sehun?" Tanyaku sambil mengangkat alisku.
"Bagaimanapun... Dan sampai kapanpun.. Aku tak bisa melupakan semua kebaikannya. Ia selalu membuatku berdecak kagum dan terpesona dengan semua perlakuannya kepadaku." Jelasnya singkat.
"Aku teringat... Akulah penyebab ketiadaanya. Aku yang membuat semua orang kehilangan. Kau tahu? Luhan pernah melempar boneka kesayanganku ke jalanan karena kesal, dengan nekat aku memberanikan diri untuk mengambilnya ke tengah jalan. Saat itu ada mobil yang berjalan ke arahku, seperti kehilangan arah. Dengan sigap, Sehun mendoring tubuhku ke tepi jalan hingga mobil itu menabraknya." Lanjutnya panjang lebar. Aku tercengang mendengar ceritanya. Jadi inilah kabar yang terlewatkan dan tak pernah kuketahui dari Tae na. Aku menyesal. Sangat menyesal. Tapi apa boleh buat. Di negaraku ini, saat itu aku hanyalah namja kecil yang tak bisa apa apa.
"Jika kuboleh tahu... mengapa namamu berganti dari Tae na menjadi Tae mi?" Tanyaku penasaran.
"Sehun mendorong tubuhku ke tepi jalan. Dan kupikir, aku hilang ingatan karena kata eomma, kepalaku terbentur ke trotoar jalan."
"Ahh.. begitu rupanya.."
"Lalu.. Kau ingin memanggilku apa? Tae na, Tae mi, atau Lan Dei Fei?" Tanyaku seraya tersenyum. Ia tak bergeming untuk menjawab pertanyaanku.
"Kris Oppa? Kau kah itu?" Air mata pun membasahi pipinya. Tanpa ragu ia langsung memelukku erat.
"Ahhh.. Neo!!!" Selagi ia memelukku aku mengelus rambut bergelombangnya.
"Bogoshippeo!" Ucapnya sambil tersedu.
"Oppa, kau tahu? Aku sempat tinggal di China.dan aku menggunakan nama Lan Dei Fei karena aku tak tahu mengapa aku menyukai nama itu. Mianhaeyo... Mungkin itu akibat hilang ingatan yang membuatku lupa dengan panggilan sayangmu padaku." Lanjutnya lagi.
"Gwenchana, Tae na-yaa!" Aku tersenyum lalu mengecup keningnya singkat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Like The First Sight [EXO FanFiction]
RandomCast : Kim Tae Mi (OC/You) Xi Luhan (EXO) Byun Baekhyun (EXO) Genre : Romantic, Friendship Length : Chaptered Aku hanya seorang yeoja periang yang tak pernah memperlihatkan sisi amarahku. Disaat aku merasa kesal, aku hanya meembuat orang lain senang...