PART 17

628 36 5
                                    

Udah sekian lama yah ga di next terus. Maafin lagi banyak halangan nih..
Ini udah di next part. So, enjoy reading guys! ^^

Aku dibawa olehnya ke suatu cafe kosong, hanya kami berdua. Wajahnya tersirat rasa bingung ditambah rasa canggung berada didekatku. Tentu saja! Kita baru saja saling mengenal, dan itupun karena ketidaksengajaan. Tak lama pelayan datang, aku sama sekali belum memesan apapun. Aku langsung menyimpulkan jika cafe ini adalah miliknya.
"Jelaskan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi?" Aku membuka topik pembicaraan kali ini.
"Aku meminta maaf karena harus berbohong jika kau ini pacarku. Ini gila kan? Ini akan sangat memalukan jika kau mengetahui apa alasannya." Ujarnya sambil berdehem. Ia keren juga!
"Lalu, Apa alasanmu? biarkan aku mengetahuinya." Dengan rasa penasaran aku menanyakan hal itu padanya. Padahal aku tak yakin ia akan menjawabnya.
"Sebenarnya aku pernah mengaku-ngaku mempunyai pacar. Tapi kenyataannya, sampai saat inipun tidak." Pengakuan yang terdengar miris, memalukan dan kekanak-kanakan. Jujur saja, aku tak percaya jika namja sesempurnanya tak memiliki hal itu. Tapi aku tetap mentertawainya.
"Kau gila ya?! So childish!" Ledekku seraya tertawa.
"Yaa!! Pelankan suaramu!" Ia tampak kesal dan menggebrak meja. Membuatku kaget saja.
"Baiklah aku berhenti.." Aku mendekap mulutku dan kembali serius menanggapinya.
"Kau mengerti kan?"
"Ya, aku paham. Tapi aku tidak percaya semua itu!" Jawabku.
"Ini sungguhan! Bantulah aku.." Ia mengeluarkan sedikit aegyo nya. Uuu manis sekali!
"Hanya sebentar kan?" Tanyaku singkat.
"Ya, akan ada pesta beberapa hari lagi. Dan kau hanya menemaniku saat itu, karena Kyung sik hadir. Setelah itu, kita selesai. Semuanya berakhir. Bisa kan?" Wajahnya memelas.
"Baikah jika hanya itu. Aku akan membantumu." Jawabku tanpa ragu. Namun setelah itu aku baru memikirkan bagaimana dengan perasaan Luhan nantinya. Aku pun mengiyakannya walaupun ada yang mengganjal.
"Aku janji, setelah semuanya berakhir aku akan menuruti apaapun yang kau mau. Dan, kau tenang saja ! Selama kau berurusan denganku, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu." Ujarnya sedikit sombong. Tapi kesombongannya itu sama sekali tidak mengurangi 1% pun ketampanannya. Eyy.. Apa yang kubicarakan? Tapi memang iya, kuakui itu. Jujur saja, sampai sekarang aku tidak percaya dengan pengakuan mirisnya barusan. Itu hal yang mustahil bukan?! Penampilannya yang sangat menarik itu tidak dapat menarik hati yeoja manapun? Itu gila! Yang benar saja, namja setampan dan semapannya tak memiliki kekasih?
"Aku hanya merasa takut.. Aku takut salah dalam memilih. Itu alasanku tidak memilih wanita manapun tuk kujadikan kekasih." Ujarnya tiba-tiba seolah-olah ia mengetahui pertanyaan apa yang berputar dibenakku. Tentu saja membuatku terperanjat kaget dan tersedak saat menyesap minumanku.
"Ahh.. Begitu ya! Tapi menurutku itu bukan hal yang salah." Aku meresponnya sesantai mungkin.
"Benarkah?" Tanyanya lagi.
"Ya, itu alasan yang cukup kuat karena kau adalah orang yang serius dalam hal itu. Kurasa aku memahaminya." Jawabku sambil menyesap minumanku lagi.
"Aku merasa sangat senang mendengarkan tanggapanmu." Ujarnya seraya tersenyum. Omo!! Namja ini tersenyum? Andwae!!!
"Ummm.. Aku ada urusan lain. Bisakah kita lanjutkan lain kali saja?" Aku segera berpamitan, karena aku merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika aku berada didekatnya.
"Ahh.. Baiklah.." Jawabnya sambil mendongakkan kepalanya karena aku sudah bangkit dari kursiku.
"Terima kasih atas minumannya! Senang bisa mengenalmu.. Permisi.." Aku menenteng tasku, lalu bergegas pergi.
"Ehh.. Tunggu!" Ia menghentikan langkahku karena ia menahan tanganku. Dug.. dug... dug.. dug..
"Y.. Ya?" Aku tergagap seketika.
"Aku minta kartu namamu, agar aku bisa leluasa menghubungimu." Ujarnya lalu melepaskan tangannya itu.
"Ini.." Aku menyodorkan selembar kartu namaku padanya.
"Aku akan menghubungimu nanti! Berhati-hatilah.." Ujarnya.

Akupun segera keluar dengan degup jantungku yang kini tak menentu. Pipiku pun semakin memanas. Apa semua ini?! Yang benar saja.. Apa aku tertarik padanya sekarang? Ahh.. Nan micheoseo!

Tak lama ponselku bergetar tanda ada panggilan masuk. Dari... Dari Luhan?!
"Ne, oppa?" Tanyaku.
"Kau sedang apa? Apa kau sedang sibuk? Aku sudah meneleponmu selama 34 kali dan kau tak mengangkatnya. Wae?" Sial!!! Apa benar? Namja tadi itu membuatku melupakan segalanya.
"Ahh.. Mianhae. Jeongmal mianhae.. Ponselku di dalam tas sedari tadi dengan mode getar, sedangkan aku sedang mencoba melakukan terapi ingatan itu." Jelasku. Untung saja aku tak terlihat bodoh karena sedang mencari alasan. Jika seperti itu, ia bisa saja mengira aku sedang berselingkuh.
"Baguslah. Akhirnya kau mau melakukan itu. Aku senang mendengarnya!"
"Oppa, bagaimana keadaanmu disana?" Tanyaku.

Like The First Sight [EXO FanFiction]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang