Ikatan

506 28 0
                                        

Kami sedang bertengkar. Ya. Aku dan dia. Berteriak satu sama lain selama dua jam, lalu saling mendiamkan lima hari berikutnya. Bertahan dengan ego masing-masing. Meskipun dalam hati aku sadar, ini salahku. Pangkalnya adalah aku. 

Ya, bukan masalah besar. Dia sibuk. Hanya itu. Terlalu sibuk untuk sekedar membalas pesanku. Terlalu sibuk untuk menjemputku. Terlalu sibuk untuk mengingat jika ada aku. Menunggunya.

Tidak. Bukan salahku. Itu salahnya. Kami tidak pernah seperti ini sebelumnya. Tapi belakangan ini dia seolah selalu menyulut api permusuhan diantara kami. Bukan salahku karena memergokinya muncul di timeline saat dia mendiamkan saja pesanku. Bukan salahku. Itu salahnya.

Kita perlu bertemu dan bicara.

Itu bagus. Sekarang dia akan memutuskanku? Hebat!


Dia terlambat sepuluh menit. 

Itu dia.

Astaga. Aku harus selalu belajar bernapas saat berada di dekatnya. Oh Tuhan.

Aku diam. Berpaling.

Sebentar lagi dia akan memutuskanku. 


Dia berjongkok,

"Kenapa kau selalu malas untuk mengikatkan tali sepatumu?"

Tangannya selalu terampil saat membuat simpul.

"Hey, maafkan aku."

Girls' DiaryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang