Mereka bilang, ketika kau menyukai orang lain disaat hatimu sedang menjadi milik seseorang, maka kemungkinan rasamu sudah bukan milik orang itu.
Hatiku adalah miliknya.
Sebanyak apapun kucamkan itu, sebanyak itu pula bayangan pria itu menguji tekadku.
"Lepaskan saja dia saat kau sudah mulai mencintai yang lainnya."
Aku menggeleng keras. Tidak. Bukan begini komitmen yang ingin kujalani.
"Apa gunanya? Hatimu sudah bukan lagi miliknya. Lepaskan saja."
Tidak. Tidak akan. Aku bisa menyakitinya.
"Kau sudah menyakitinya. Sudahlah. Jangan menyiksa hubungan kalian lebih jauh."
Baiklah. Aku menyerah.
"Itu bagus."
"Kau masih menyukainya? Ayolah, dulu kau melepaskannya demi pria itu."
Ya. Seharusnya aku tidak melakukannya.
"Kau menyesal?"
Sangat. Aku sadar, aku mencintainya.
Nyatanya, hatiku tak pernah beranjak barang sejengkalpun. Meskipun aku menoleh dan menemukan yang lebih baik darimu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Girls' Diary
RomansaBumi tak hanya seluas taplak meja. Jika kau bisa terbang dan melihat melalui jendela-jendela rumah, kau akan melihat cerita-cerita yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh penulis manapun. Tapi disini, aku ingin membicarakan sesuatu yang manis. Cint...
