Harris POV
"Jadi.. Haikal , Miki , Heri dan juga Bisma menyelinap masuk kedalam gedung itu meninggalkan Fabian yang tengah terluka?" tanya Nial. I just want to ask that one! Aku kembali berpaling pada bapak yang menjawab pertanyaan anak semata wayangnya itu dengan anggukan.
"Tapi pak, apa Fabian nggak ketahuan sama penjaga? Kan banyak penjaganya tuh" kali ini ibunya Nial juga ikut bertanya. That old lady terlihat sama antusiasnya dengan anaknya saat Bapak menggantungkan kalimatnya ketika mengatakan ke-4 tentara itu menerobos masuk kedalam markas besar Boomer.
"Nggak lah buk. Wong Fabiannya nyari tempat yang agak enakan dikit buat sembunyi"
"Bapak, but how did they could escaping themselves out of that place? I mean , kau bilang itu semua adalah misi bunuh diri" Aku lalu mencondongkan badanku sedikit kedepan. "It's really impossible bagi mereka untuk kabur"
Nial terangguk angguk mendengar perkataanku. How about his mother? She's confused as always sebelum Nial mengartikan perkataanku padanya dan langsung ditimpali dengan "Ooooh.." ,"Njee Njee" . What is Njee?
"Kemarikan kepala kalian"
Me, Nial and his mother melakukan perintah Bapak. Kami mendekatkan kepala kami kepadanya dan masing masing dari mata kami menatap mantan tentara ini dalam dalam. Begitu dalam. Too deep. Too sharp.
"Mereka..."
Hening.
Masih hening. What the hell , Bapak!? Just say it!
"Bersambung..." Katanya pelan didekat telinga kami bertiga
"Damn it!!" Reflekku sambil memukul dahiku sendiri dengan telapak tangan kanan.
Nial dan Ibunya terduduk lemas dikursi mereka masing masing. Bapak tertawa terbahak bahak sambil memegangi perutnya. Airmatanya bahkan sampai mencuat dari sudut sudut kelopak matanya. Dia mengerjaiku , damn it!.
"Kalian terlalu serius mendengarkan cerita ini. Padahal Bapak hanya menceritakan hal yang Bapak ingat saja" bapak lalu merapikan duduknya. "Terutama kau Harris"
Aku mendengus sebal mendengar kata kata bapak barusan. Padahal aku sudah begitu membayangkan bagaimana serunya adegan tembak-menembak yang akan terjadi nanti. Aku begitu berharap bahwa Boomer dan pemimpin Negeri Para Kurcaci itu mati ditangan ke-4 tentara. Kau bayangkan saja orang sejahat Boomer yang tak peduli dengan arti sebuah nyawa beserta bawahannya yang jumlahnya bahkan mengalahkan jumlah murid di 10 sekolah melawan beberapa tentara yang tengah cidera akibat terluka dalam peperangan. How cool is that?
Nial beranjak berdiri lalu masuk kedalam kamarnya. Bapak dan Ibunya Nial tersenyum lalu menyuruhku menghampiri Nial. And i did. I went there for him dan aku mendapatkan Nial yang sedang mengambil beberapa berkas daridalam tasnya. Much of paper.
"What do you do?"
Nial menoleh sebentar padaku lalu kembali berkutat pada kertas kertasnya. "Kenapa kau kesini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
CAN'T
RomanceSiapa tau ternyata hidup seorang Nial penuh dengan tanda tanya? Dan perlahan tanda tanya itu datang menerpa hidupnya yang sudah pecah tanpa sepengetahuannya. Dipermainkan oleh ingatan, apakah orang-orang di sekitar Nial bisa membantunya? Trilogi ke...
