Nial POV
"Yes i'm fine" aku yakin kalau Harris tengah menahan rasa sakit saat ini. Kepalanya berdarah dan dia masih bisa berkata seperti itu? Apa semua exhibionis seperti ini? Selalu tampak pemberani?
"No , kau bukannya tidak apa-apa. Kau berdarah"
"Ya dan aku tak apa apa"
Aku mengambil sapu tangan dari saku celanaku dan mengusapkannya pada bagian pelipis Harris. Semoga dengan ini darahnya berkurang sedikit. Ia telah menyelamatkanku tadi dari gerombolan Uda Ujang yang memang terkenal sebagai preman di desa ini. Baru kali ini aku bertemu dengan mereka setelah selama ini mendengar desas desus yang beredar di masyarakat. Pitaloka -temanku- bahkan katanya pernah melihat anak buah Uda Ujang memaki maki seorang petani karena tak membayar upeti -yang entah diwajibkan darimana-.
Harris terdiam saat aku menghentikan pendarahan yang terdapat di pelipisnya. Aku tau , pasti rasanya sakit. Ayahku yang mengatakannya. Dulu saat ia pergi berperang, ia dan teman temannya selalu bertemu ranjau panas meski mereka dapat melewati itu (dan beberapa dari teman ayahku juga cidera karena itu). Dan kata ayahku, rasa sakitnya tak bisa ditandingi dari rasa sakit apapun. Aku saja yang menginjak sebuah paku berukuran kecil saja sakitnya sudah bagai akan dimakan harimau. Apalagi terkena serpihan beling?
"Wait. I'm fine trust me. Sepertinya kita harus pergi dari sini sebelum orang orang brengsek ini bangun"
"Aku antar kau ke puskesmas terdekat"
"Puskesmas? What is that?"
"Semacam pusat kesehatan di setiap desa desa kecil. Lukamu harus diobati" aku menarik tanganku. Tetapi Harris menahan tanganku.
"Jangan ajak aku kerumah sakit! Aku tak akan sudi jika kau membawaku kesana"
Aku mencoba melepaskan tanganku darinya. Tetapi exhibionis ini semakin kuat mengenggamnya. "Could you please release my hand?" Dan dia tampak sedikit tersadar karena perkataanku lalu ia melonggarkan genggamannya. "Tak akan ada hal buruk yang menimpamu di puskesmas. Percayalah"
"No!". Dia masih saja menolak. Apa semua Bule seperti ini? Setauku banyak kok Bule yang berkunjung didesa ini bertanya dimana letak puskesmas padaku.
"Uhm.. tak bisakah kau.. merawat lukaku di rumahmu?"
Huh? Dirumahku? "Bisa sih, tapi apa kau bisa menahan rasa sakitnya nanti? Rumahku agak jauh dari pasar ini"
"Really?"
"Really"
Dia terlihat berpikir sejenak lalu melepaskan tanganku dari genggamannya. "Baiklah kalau begitu, ayo kita kerumahmu" dan ia menarik kedua tanganku lagi lalu langsung berjalan didepanku. Aku jadi terlihat seperti anak kecil yang tengah dibimbing oleh ayahnya jika terus seperti ini. Apalagi , orang orang dipasar seakan akan punya objek baru untuk dijadikan pusat perhatian saat aku berjalan bersama Harris -dan lagi ia menarik narik tanganku seperti ia tau saja dimana rumahku- . Ada beberapa teman kelasku yang kujumpai , mereka seperti , "Ciee cieee" kepadaku. Hei! Bahkan aku tak mempunyai pacar saat ini! Langsung saja aku menarik tanganku. Malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
CAN'T
RomanceSiapa tau ternyata hidup seorang Nial penuh dengan tanda tanya? Dan perlahan tanda tanya itu datang menerpa hidupnya yang sudah pecah tanpa sepengetahuannya. Dipermainkan oleh ingatan, apakah orang-orang di sekitar Nial bisa membantunya? Trilogi ke...
