"Ayah," Panggil Koi pada Nial yang masih betah duduk di depan nisan kedua orang tuanya. Meski ia sama sekali tidak bisa mengingat semua kenangan sewaktu kedua orang tersebut masih ada dulu, namun kesedihan yang ia rasakan sangat dalam. "Ayah, ini sudah malam. Ayah nggak boleh lama-lama di makam Eyang dan Oma."
Nial perlahan mengusap kedua pelupuk matanya yang sembab dan tersenyum tipis. Ia menoleh ke samping dan mengangguk pada Koi yang dari tadi duduk menemani sang Ayah berziarah. "Ya sudah. Kalau begitu ayo kita pulang sekarang."
"Tapi Koi nggak mampir kerumah, ya? Soalnya Adam nungguin juga di apartemen."
Nial tertawa. "Ya ampun, Koi. Tunanganmu itu begitu posesif, ya?"
Setelah kejadian beberapa tahun yang lalu, Nial menjadi lebih bisa menerima kenyataan dan mulai membuka diri untuk melihat indahnya dunia. Dia bertekad untuk bisa mengubah sisi introvertnya dan perlahan berhasil bercakap dengan lancar, meski harus melalui proses yang lama. Di tambah lagi dengan adanya sosok Koi dan juga Glenn yang selalu membantu Nial dan membimbingnya untuk berbicara.
Nial tak ingin lagi semua orang terluka gara-garanya.
Tapi sekarang, justru hatinya yang terluka. Karena sekarang, dia melihat sosok yang sudah ia impi-impikan sejak dulu berdiri di bawah pohon yang besar dan rindang tersebut.
Harris.
KAMU SEDANG MEMBACA
CAN'T
Roman d'amourSiapa tau ternyata hidup seorang Nial penuh dengan tanda tanya? Dan perlahan tanda tanya itu datang menerpa hidupnya yang sudah pecah tanpa sepengetahuannya. Dipermainkan oleh ingatan, apakah orang-orang di sekitar Nial bisa membantunya? Trilogi ke...
