[Calum Hood]
Smut content•
-
Jam 1 dini hari. Calum baru pulang. Dan aku masih disini. Disofa menonton tv. Berlagak seperti aku tidak menunggunya. Ia meninggalkan bajunya sehingga hanya tersisa badan indahnya dengan tatonya dan skinny jeansnya. "Kamu dari kemarin pulang jam segini?" Ujarku tanpa memikirkan apa Calum akan menjawabnya atau tidak. Ia berbalik. Menghadap kearahku dengan segelas kopi yang tadi ia buat."kau peduli?" Sahutnya balik bertanya. Sungguh ini keterlaluan. "Oh Tuhan, sungguh aku tidak mengerti. What's wrong cal?" Tanyaku dengan nada yang kini meninggi. "What's wrong? Aku hanya bertanya. Mengapa tidak kau jawab?" Ujarnya dengan nada bicara yg ia tahan agar tidak meninggi. Ugh. Aku terlalu tahu semua tentang pria beralis tebal ini.
"Terserah. Aku muak." Ujarku kemudian melangkah masuk kekamar. Saat aku hendak berbalik untuk menutup pintu kamar, Calum sudah ada dihadapanku. "Ada apa denganmu?" Ujarnya dengan nada khawatir dan aku masih melihat luka dimatanya. Namun apa yg telah ia lakukan membuat tak habis pikir. Kejam. "Ada apa denganmu? Tidak bisakah kau berfikir ada apa denganmu? Ha? Pernahkah kau tanyakan itu pada dirimu sendiri?" Ujarku dengan nada tinggi. "Apa maksudmu?" Ujarnya kini dengan nada yang meninggi.
"Argh, you sucks!" Ujarku seraya berbalik, mengambil koper dan membuka lemari. Memindahkan pakaianku. Malam ini juga, aku berniat untuk meninggalkan Calum diapartment ini. "Hey, apa yang kau lakukan?" Ujarnya mendekat aku tahu betul ia ada dibelakangku. "Pergi! Aku tidak ingin mendengar lelaki busuk yang berkhianat!" Ujarku masih berteriak dan kini dengan bodohnya aku menangis. "Y/n hentikan! Ini pukul satu pagi dan kau tidak boleh pergi. Ini berbahaya. Berhenti membereskan barangmu dan tetap tinggal. Kau tidak boleh pergi tanpa aku. Kapan pun dan kemanapun!" Ujarnya yang kini ikut menyentakku. Apa maksudnya? "Apa peduli mu pengkhianat! Kau bahkan tak berhak melarangku karna aku tak pernah melarangmu! Bahkan aku tidak melarangmu untuk pergi dengan wanita lain disaat aku sangat ingin melihatmu sebelum tidur! AKU TIDAK MELARANGMU! DAN KAU MELAKUKANNYA! KEJUTAN YANG BAIK MR. HOOD!" Ujarku dengan berteriak penuh tangisan menghadap kearahnya. Sungguh, sedrama apapun ini tapi aku benar benar tidak dapat menahan ungkapan hatiku.
"Aku? Berjalan dengan perempuan lain?" Tanya nya kini dengan wajah yg bersalah. Semarah apapun aku saat ini wajah itu tetap dapat menyelimuti hatiku. Meski selimut itu masih terkoyak dengan sakit hatiku. "Ya, menonton konser bersama. Like double date oh my god, Calum you are the perfect couple with her. HAHA." Ujarku dengan nada sarkastik dan aku masih menangis. Kini aku menutup koper dan beranjak pergi. Namun Calum menahan tanganku. "Tidak, y/n. Don't go. Please. Dengarkan aku." Ujarnya dengan suara melemah dan wajah yang takut, sedih dan... bersalah. "No, Calum. I'm not as good as her. Let me go." Ujarku menangis tanpa menatap wajahnya.
Kami terdiam sesaat. Kemudian aku merasakan pelukan hangat menjalar ditubuhku. Pelukan ini. Pelukan yang selama ini aku rindukan. Pelukan yg membuatku merasa aman, tenang dan nyaman. "I'm sorry y/n. I'm so sorry. Please don't go." Ujarnya dengan suara bergetar. Ia menahan tangisnya. Aku menangis semakin keras dipelukannya. "But i'm the one and only that makes our baby dead, Calum. I'm not a good mommy." Ujarku disela tangisanku. Dan aku merasakan Calum mencium puncak kepalaku berkali kali. Cara menenangkanku. "No, you're not. So sorry, y/n." Ujarnya disela ciumannya.
Bibir ini. Bibir yang mempunyai candu luar biasa. Yang selalu bisa menghantarkan kenyamanan, cinta, kasih sayang, dan nikmat ysng membuatku ketagihan. Kini ciuman Calum turun, ia mengecup keningku, kedua mataku, aliran air mataku seakan menghapus jejaknya, pipiku, hidungku, dan kini ia melumat bibirku. Menyampaikan padaku kerinduan yang selama ini ia pendam. Menyampaikan betapa cintanya ia padaku. Dan ciuman ini adalah ciuman yang aku tahan selama tiga bulan ini karna kami tidak berbicara. Oh Tuhan, i'm so glad that he still loves me anyway.
Kini ciuman itu turun pada leherku. Ia meninggalkan tanda kepemilikannya disana. Kemudian ia menarik kaosku. Membuat kami menghentikan sejenak ciuman kami dan ia menarik kaosku. Sehingga aku hanya memakai bra dan hot pants. Aku merasakan bahwa ia menginginkanku. Dan aku juga menginginkannya. Dan ini semua membuatku berinisiatif melepas celananya. Ia menyadari itu dan melepaskan ciuman kami sejenak untuk melepas celananya. Meninggalkan bokser hitam ketatnya yang dapat terlihat juniornya menegang daei sini. Ia kemudian meraih lututku dan menggendongku. Aku memeluk lehernya memperdalam ciuman kami. Ia berjalan kearah tempat tidur. Dan menidurkanku dengan pelan seakan ia tak ingin menyakitiku. Dan ciumannya semakin turun, dan satu tangannya melepas kaitan braku dan melempar braku sembarangan. Sementara bibirnya kini bermain dikedua putingku. Dan sungguh, dia sangat pintar dalam hal ini. Dan aku tidak mungkin tidak mendesah. Aku menekan kepalanya kedadaku. Membuatnya makin asik bermain dengan payudaraku. Sampai akhirnya ciumannya semakin turun hingga keperutku. Dan ia melepas hotpants ku sekaligus dengan celana dalamku. Ia mengecup klitoris ku dan membuatku menggeliat. Kemudian ia mundur dan melepaskan boksernya. Tiga bulan. Tiga bulan aku tidak merasakan kenikmatan dari benda yang kupuja itu.
Ia mencium keningku sesaat dan kemudian memasukkan bendanya kedalam kelaminku. Desahan dan teriakan tak bisa kami hindari. Perpaduan desaan, teriakan dan suara persatuan tubuh kami menyatu. Sungguh ini juga aku rindukan. Aku merasakan sebentar lagi aku sampai. Dan aku tahu ia pun begitu. Ia mempercepat gerakannya dan menunduk. Menyaksikan persatuan tubuh kami seakan itu adalah hal yang indah. "AHH CALUMMM." Teriakku saat aku sampai pada pelepasanku. Dan ia menyusul beberaa detik kemudian dengan wajahnyabyg berkeringat dan memerah. Ia beristirahat diatas tubuhku. Saat nafas kami mulai stabil ia bergerak disampingku dan menghapus peluh diwajahku dengan perlahan. Dan aku menutup mata, menikmatinya.
"Maafkan aku." Ujarnya berhenti mengusap peluhku dan tangannya menangkup wajahku. Aku membuka mataku. Menatapnya. Mata itu penuh dengan perasaan bersalah dan menyesal. "Maafkan aku yang telah menyalahkanmu. Aku tau itu semua bukan keinganmu. Bukan keinginan kita. Ku mohon maafkan aku. Aku tahu aku salah menyalahkanmu dan aku brengsek karna tidak memberitahumu soal berita sialan itu. Aku dan Nia hanya teman. Aku pergi dengan ash dan bry dan ternyata Nia juga disana. Bersama teman teman satu genknya dan kami hanya sempat mengobrol singkat. Tidak lebih. Karna aku masih mencintaimu y/n. Maafkan aku." Ujarnya tanpa melirik kearah lain selain mataku. Seakan ia tidak mau melepasku. Aku menggeleng dan menarik kepalanya kedalam pelukanku. Sehingga ia berada dileherku sekarang. "Aku yang meminta maaf. Tidak bisa menjaga anak kita dengan baik. Tapi aku berjanji, Cal. Aku akan melakukannya lebih baik lagi. Maafkan aku yang berteriak padamu. Aku takut kamu pergi dan aku kehilanganmu. Maafkan aku, aku mencintaimu." Ujarku dengan memeluknya erat. Namun Calum melepaskan pelukanku. Kemudian ia memlukku dengan erat, seraya memberikanku begitu banyak kecupan sampai aku merasa lelah dan terlelap.
Yang aku yakini setelah ini adalah, aku tidak akan melepas kan Calum. Dan aku yakin, akan ada adik dari Junior diperutku setelah ini.
-
Writer; sacliffordx (sak)
KAMU SEDANG MEMBACA
One Shot(s) // 5SOS
Fiksi Penggemar"To live a creative life, we must lose our fear of being wrong." -Joseph Chilton Pearce Copyright ©2016 by Weirdo 5SOS, All Rights Reserved.
