"Ra!".
Aku refleks batuk, "Apasih Dil, yaelah ngagetin aja lagi minum juga".
Raut wajah Dilan berubah sedih. Aku penasaran, "Kenapa kamu? Kok jadi kusut gitu?".
Dilan terdiam sejenak, lalu, "Boleh engga sih kangen sama seseorang?".
Aku tak percaya Dilan bisa berbicara seperti itu, "Ya boleh lah! Yakali ada yang ngelarang".
Dilan melanjutkan kalimatnya, "Kamu juga ya? Lagi kangen? NGAKU!".
Aku mengelak, "Eh apaan sih kok jadi aku yang kena, ah kesel!". Loh kok jadi salah tingkah gini sih?
Dilan cekikikan melihat tingkahku yang jadi begini, "Kangen Guntur ya?".
Sumpah ya nih anak, udah tau malah nanya, hehe.
Aku menggeleng cepat, "Kangen apaan coba? Enggak".
"Eh Ra, aku tuh tau kali raut muka kamu kalau lagi bohong. Ketahuan mampus dah".
Aku bangun dari bangkuku, "Tau ah!", lalu bergegas keluar kelas.
Dilan mengejarku, "Yee jangan ngambek dong".
Aku berhenti melangkahkan kakiku. Guntur?
Dia sedang tersenyum.
Kangen kamu boleh gak sih, Tur?
---
...
KAMU SEDANG MEMBACA
Curious
Novela JuvenilAku sangat penasaran tentang siapa yang ada di dalam hatimu. -The 1st book-
