Tujuh belas

1.8K 88 0
                                        

Salsha merasa di sekitarnya gelap. Ia celingak-celinguk dengan panik, berharap

seseorang menemukannya. Dadanya terasa penuh, rasa takut semakin

menekannya dengan begitu kuat. Ia ingin menangis. Ia ingin tau dimana dirinya

saat ini. Ia seperti tersesat! Dan satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah

menangis tanpa suara.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

Itu suara anak kecil. Anak laki-laki.

Salsha mendongakkan kepala. Matanya menyipit. Sosok anak kecil itu samarsamar berubah

menjadi seorang sosok cowok dewasa. Sebisa mungkin salsha

mengamati sosok itu, tapi wajah orang itu tetap tak terlihat.

“Rumah kamu di mana?” tanya cowok itu dengan suara yang terdengar lebih berat, bukan suara anak kecil.

Salsha bisa melihat senyum di wajah cowok itu. Senyum yang mampu membuat rasa takutnya menghilang begitu saja. Ia merasa menemukan titik terang dalam ketersesatan ini.

“Di sana...,” tanpa sadar Salsha menjawab sambil menunjuk ke belakang cowok itu.

Si cowok tersenyum lembut sambil mengulurkan tangan salsha balas tersenyum. Ia mengenal sosok di hadapannya ini. Ia pun merasa pernah mengalami kejadian ini. Entah kapan. Tapi yang pasti, bila harus mengulang, ia akan melakukannya dengan senang hati. salsha menyambut uluran tangan si cowok. Tiba-tiba kepalanya terasa berputar. Ia memejamkan mata untuk menghalau rasa sakit di kepalanya.

Saat ia membuka mata, semuanya berubah menjadi terang. Udara sore hari pun terasa menyegarkannya dari kegelapan tadi. Cowok tadi sudah tidak lagi ada di hadapannya, melainkan jauh di depannya.

Dengan gesit, cowok itu mendribel bola dan melemparkannya ke ring. Bola masuk dengan sempurna!

Si cowok tersenyum puas ke arah salsha. Seakan ikut merasakan kepuasan yang dirasakan cowok itu, salsha balas tersenyum. Ini seperti bukan dirinya.

semuanya berjalan di luar kendalinya.

“Aku iri sama kamu!” seru salsha, masih dengan senyum bahagianya.

Cowok itu memungut bola dan kembali menoleh pada salsha.

“Kenapa iri?” tanyanya.

“Karena kamu jago basket. Sedangkan aku, dribel bola aja nggk bisa,” kata

Salsha sambil pura-pura merengut.

Cowok itu menghampiri salsha. Sayangnya, salsha nggak bisa melihat wajah

cowok itu dengan jelas. Tapi salsha merasa sudah kenal dekat dengan cowok itu.

“Nggak bisa juga nggak apa-apa. yang penting kan kamu punya aku,” ujar cowok itu lembut.

“Ya... untungnya aku punya kamu,” sahut salsha sambil tersenyum bangga.

“pulang yuk! Udah sore nih.”

salsha mendongak. Dilihatnya langit mulai gelap. Tapi begitu ia menatap cowok itu lagi, cowok itu sudah menghilang. Salsha melayangkan pandangannya ke segala arah, berharap menemukan cowok itu.

Salsha terus mencari. Rasa takut itu pun kembali menghampirinya. Ia mulai panik. Ia ingin menangis. Ia ingin cowok itu kembali menemukannya dan pulang bersamanya...

Salsha terbangun dengan napas nggak beraturan. Peluh membasahi wajahnya.

Tubuhnya keringat dingin. Ditatapnya langit-langit kamar yang putih bersih.

Tidak ada kegelapan yang ditakutinya seperti dalam mimpinya barusan.

Mimpi...

Salsha mengembuskan napas panjang. Mimpi aneh pertama yang dialaminya semenjak kecelakaan itu. Apa benar semuanya hanya mimpi? Atau janganjangan, itu sebuah petunjuk untuk ingatannya yang hilang?

Bersambung....
Vote & comment
Yoooooi

Kamu Yang Ku TungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang