-Sixth-(Fakta Tersembunyi)

4.9K 513 12
                                        

     Pukul 13.32 Steffi dan (Namakamu) berada di luar rumah Steffi

     "Makasih Pak nya, Steffi pulang dulu." Steffi mendadai tukang bakso langganannya diikuti (Namakamu) yang menenteng kresek berisi bakso.

     Rumah ini cukup luas dan nyaman, meski tidak semewah rumah Papa nya, Steffi tetap merawat rumah yang dibelinya dengan keringat sendiri, Steffi dan (Namakamu) melangkah menuju meja makan, menyiapkan makan siang mereka.

     "(Nam...) gue mau ngomong sama lo, " ucap Steffi sambil membuka pelastik bening yang membungkus baksonya.

    "Apaan?" (Namakamu) duduk di kursi sambil melakukan hal yang sama dengan Steffi.

    "Lo mau ya tinggal disini sama gue, " Steffi menatap sahabatnya memohon.

     "Hah?" (Namakamu) cengo.

     "Gue kesepian, apa lagi gue sering begadang." Steffi mengadu pada (Namakamu), memang benar terkadang Steffi takut tinggal dirumahnya sendiri apalagi saat dia harus begadang mengerjakan berkas-berkas yayasan.

     "Tapi ka—"

     "Please (Nam...), " Steffi menyatukan kedua telapak tangannya memohon agar (Namakamu) mau tinggal bersama.

     "Entar gue ngerepotin elo."

     "Enggak kok (Nam...) gue gak ngerasa kerepotan, bahkan gue seneng kalau lo tinggal disini." Steffi tersenyum girang dan mulai memasukan satu bakso kecil kedalam mulutnya.

     "Makasih ya Steff." Steffi yang membantunya dikala susah, Steffi yang selalu menyemangatinya kala dia sedih, Steffi adalah salah satu hal yang paling berharga bagi (Namakamu), meski terkadang dulu Steffi sering membully (Namakamu) waktu SMA, tapi entah mengapa Steffi malah menjadi sahabat (Namakamu).

Terkadang masalah yang diberikan tuhan pada sepasang sahabat, itu makin mempererat persahabatan mereka

     "Oh iya tunggu, " Steffi membanting pelan sendoknya, berlari kecil menuju ruang depan. "Nih, " Steffi memberikan selembar kertas pada (Namakamu).

     "Itu lowongan kerja kali aja cocok lo kan suka anak kecil, gajinya gede juga, " Steffi kembali duduk dan melahap bakso nya.

     "Di cari nanny secepatnya, " (Namakamu) mendikte kalimat yang tertera di kertas itu, jika dirinya bekerja tambahan maka akan cepat juga mengganti uang Steffi yang dia pinjam ntuk melunasi hutang Papanya.

     "Yaudah gue coba."

-------

     Sesuai dengan saran Steffi, stelah (Namakamu) membereskan pakaian dan berpindah ke rumah Steffi, (Namakamu) kini berada di depan gerbang rumah yang cukup megah, (Namakamu) terkesima rumah ini sangat bersih dan besar bahkan lebih besar dari rumah (Namakamu) yang dulu, dulu sebelum papanya meninggal dunia, dulu sebelum papanya meninggalkan banyak hutang dan (Namakamu) harus menanggungnya

     "Cari siapa neng?"

     (Namakamu) terkesiap matanya menagkap pria gempal yang berdiri di balik gerbang berhadapan dengannya.

     "Saya mau ngelamar pekerjaan pak, " jawab (Namakamu) setengah mengaguk sopan, kemudian pria yang bernama Muklis itu membukakan gerbang untuk (Namakamu). Muklis adalah seorang supir pribadi.

     "Yaudah neng silahkan masuk."

(Namakamu) mengaguk kemudian melangkah masuk, kesan pertama saat (Namakamu) memasuki gerbang tadi adalah, tempat ini sangat sejuk mungkin karena banyak tumbuhan hijau yang terawat dengan baik.

Heartbeat || idrCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang