Terhitung sudah satu minggu (Namakamu) menjadi pengasuh Caca, datang mengantarkan Caca dan menemani Caca pulang setelah pukul lima sore, dan selama itu pula (Namakamu) mengetahui jika Iqbaal benar-benar berbeda dengan Fakhri tapi entah kenapa setiap berdekatan dengan Iqbaal, (Namakamu) selalu gugup dan sering berkeringat dingin, sama seperti ketika dia bersama fakhri.
"Lo udah mau berangkat?" Steffi yang sedang duduk di sofa sambil menyantap mie instan menoleh pada (Namakamu).
"Iya gue berangkat ya, " (Namakamu) hanya memakai kaos abu-abu polos dengan rok sebetis, tampilannya benar-benar sederhana tidak menampakan jika dia seorang guru.
Tinnn...
Suara klakson membuat (Namakamu) menoleh, mendapati Aldi bersama motor ninja merahnya, dan dia sedang melambai-lambaikan tangannya.
(Namakamu) melangkah menuju Aldi, kasihan juga jika Aldi, dicuekin dia sudah repot-repot mau kesini.
"Saya anter yuk, "
(Namakamu) masih diam tidak merespon, lima detik kemudian Aldi menarik lengannya, membuat (Namakamu) semakin mendekat "Ayo, gratis kok, dari pada naik ojek, " benar kata Aldi, itung-itung ngirit uang.
"Yaudah deh, " (Namakamu) naik keatas motor Aldi, dan dalam sekejap motor ninja berwarna merah itu memotong keramaian kota Bandung.
_______
"Di stop, " (Namakamu) menepuk bahu Aldi, supaya memberhentikan motornya, Aldi dengan segera meminggirkan motornya.
Aldi menyernyit melihat sekitar yang ternyata adalah sebuah pemakaman besar di kota Bandung, mungkin (Namakamu) ingin mengunjungi makam kedua orangtuanya.
"Lo pulang duluan aja!"
Aldi menggeleng, "Ngak, Saya nunggu kamu aja saya kamu janji nganterin kamu kerumah majikan kamu kan! " (Namakamu) tersenyum Aldi sangat baik padanya tapi sayang (Namakamu) tidak bisa membalas cinta Aldi.
"Yaudah, " ucap (Namakamu) sambil melangkah masuk kearea pemakaman, disini tempat dimana dia memitihkan airmata paling banyak untuk dua orang yang amat dicintainya, Papa dan Mamanya, dua orang yang meninggalkannya sendirian sebatang kara.
(Namakamu) menatap dua gundukan tanah yang mendekap dua orang yang dicintainya, mereka berdua meninggalkan (Namakamu) sendiri, sebatang kara, dia benar-benar kehilangan sosok Papanya yang bijak, sosok Mama yang selalu mejadi teman dikala dia bersedih, Mama yang selalu mendekapnya disaat dia tak sanggup menanggung beban hidup.
(Namakamu) menatap nanar nisan yang tertulis nama mamanya airmatanya jatuh ke pipi mendadak (Namakamu) merindukan belaian tangan Mamanya, tangan yang telah merawatnya sejak kecil tangan yang selalu menyuapinya dikala lapar, tangan yang selalu menepis airmata nya ketika dia sudah tak bisa menanggung berat nya hidup, tangan yang selalu menepuk-nepuknya sambil menyanyikan ninabobo, tangan yang selalu membuatkannya sarapan disetiap pagi.
Dia benar-benar kehilangan sosok itu.
Mata (Namakamu) beralih menatap nisan sang Papa, terbesit dibenak bayangan dirinya yang sedang digendong di bahu ayahnya menagis ketika dimarahi oleh ibunya, atau bayangan ketika dia merengek ingin dibelikan mainan, semua tersimpan jelas, di ruang hati nya tak terjamah, meninggalkan. sisi gelap ,menyimpan sejumlah luka yang tak akan pernah bisa disembuhkan.
Kini semua sudah hilang bersamaan dengan dirinya yang kehilangan Fakhri---sahabatnya. Semua terjadi begitu saja seakan-akan alam berkonspirasi membuat dirinya terluka, luka yang tak tanggung-tanggung
KAMU SEDANG MEMBACA
Heartbeat || idr
FanfictionEND - 8 Desember 2016 Sebagian cerita [Private-Hanya bisa dibaca oleh followers] Apa ketika jantung berdetak cepat itu menjamin orang jatuh cinta? Apa ketika kita nyaman akan seseorang tapi jantung kita tidak berdetak cepat itu juga jatuh cinta...
