Hari ini sepulang sekolah, setelah mengganti baju dengan baju santai (Namakamu) menghantarkan Caca pulang kerumah, kini saatnya (Namakamu) menjalani pekerjaannya yang lain yaitu menjadi nanny Caca.
Sampai dirumah (Namakamu) mengganti baju Caca dengan baju santai berlengan pendek berwarna biru dan titik-titik putih dan memakai celana pendek berwarna sama, rambut caramel milik Caca (Namakamu) gerai dan hanya di hiasi jepit kecil nerwarna pink.
"Caca seneng deh Ibu jadi pengasuh Caca." Caca tersenyum memamerkan gigi putih kelincinya yang masih lengkap dan rapi.
(Namakamu) tersenyum, kemudian menggandeng Caca menuju luar kamar, tiba-tiba Caca melepaskan gengaman di tangan (Namakamu), dia berlari ke sebuah kamar, yang tak lain adalah kamar Iqbaal, (Namakamu) menghela napas panjang, kemudian mengikuti langkah kecil gadis itu.
"Caca." (Namakamu) memasuki sebuah kamar yang cukup luas, kamar ini bernuansa hitam putih, dan ada beberapa boneka Caca disini.
Caca duduk di atas kasur yang tadinya masih rapi, berhadapan dengan sebuah buku dan sebuah krayon yang juga berada di atas kasur.
Caca menoleh mendapati (Namakamu) yang masih berada diambang pintu.
"Kak (Namakamu) sini." Caca mengubah sebutan untuk (Namakamu) karena emang (Namakamu) yang memintanya, ia hanya sedikit risih karena dipanggil ibu diluar sekolah.
Dengan ragu (Namakamu) melangkah masuk, aroma maskulin menyeruak dihidungnya menghampiri Caca yang terlentang diatas kasur dan membalik-balikan bukunya (Namakamu) duduk di tepi ranjang, (Namakamu) menatap Caca lekat-lekat, gadis ini sangat Cantik, sesekali dia menepis rambut yang jatuh dihidung membuat hidung kecil nya terasa gatal.
"Kak, bantuin Caca mewarnai ya. " Caca menatap (Namakamu) yang masih diam, kemudian (Namakamu) mengangguk, mengambil alih krayon yang Caca berikan.
"Kakak mewarnai yang mana?"
Caca terdiam menatapa buku mewarnainya, mulutnya terbuka, "Ariel, Ib- eh kakak mewarnai princess Ariel, " Caca menunjuk sebuah gambar yang masih belum di warnai sama sekali, kemudian (Namakamu) mengambil warna hitam dan mulai mewarnai tapi tangannya di halang oleh Caca, "Kakak, rambut princess Ariel warna merah, " Caca mengerucutkan bibirnya kesal, (Namakamu) nyengir, meruntuki kesalahannya, wajah lah sekarang kan dia sudah dewasa, sudah tidak pernah melihat tokoh-tokoh Disney.
"Oh iya, " (Namakamu) kembali mewarnai dengan warna merah sesuai perintah Caca.
"Kakak Caca lapar, " tangan mungil Caca memegangi perutnya sendiri, (Namakamu) terkekeh, kemudian mengajak Caca turun.
(Namakamu) dan Caca menuju pantry mungkin sedikit memasak untuk Caca, disana (Namakamu) menemukan Rike yang sedang menggoreng telur.
Rike menoleh, "eh, (Namakamu), tante ke depan dulu, " Rike meninggalkan telur yang sudah matang begitu saja di atas penggorengan tapi kompor nya sudah mati. (Namakamu) mengerutkan kening kenapa Rike begitu menghindar ketika bertemu Caca.
"Eyang selalu begitu, " Caca melepaskan genggamannya melangkah dan naik ke atas kursi dengan sebisanya.
(Namakamu) membuka sebuah panci diatas kompor, dan mendapati sebuah sup yang masih hangat, mungkin Rike yang batu saja memasak. Dengan cekatan (Namakamu) menyiapakan makanan Caca.
"Ini." (Namakamu) meletakan sepiring nasi lengkap dengan telur yang tadi di goreng Rike.
Caca tersenyum girang, tapi sedetik kemudian dia mengerucutkan bibir, "Caca gak bisa makan sendiri. "
(Namakamu) menarik kursi duduk disamping Caca dan ulai menyuapi. "Emangnya eyang kenapa Ca?" (Namakamu) sebenarnya sangat penasaran atas perubahan Rike jika bertemu dengan Caca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heartbeat || idr
FanfictionEND - 8 Desember 2016 Sebagian cerita [Private-Hanya bisa dibaca oleh followers] Apa ketika jantung berdetak cepat itu menjamin orang jatuh cinta? Apa ketika kita nyaman akan seseorang tapi jantung kita tidak berdetak cepat itu juga jatuh cinta...
