"Tian Bas." Aldi melambaikan tangan pada seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya, tepat saat Bastian menuju Aldi yang berdiri di depan kantor Sekolah dasar.
"Di Al." Balasnya sambil mempercepat langkahnya menuju Aldi, Aldi dengan wajah berseri-seri berjalan menghampiri Bastian.
"Apaan deh lo senyum-senyum." Bastian menatap Aldi kebingungan.
"Gue bakal nembak (Namakamu), gue yakin." Dengan mantap Aldi berucap sambil matanya menyipit, kepalanya mengangguk-angguk meyakinkan diri sendiri.
"Wehhh serius nih?" Tanya Bastian tak percaya, "Lo udah siap dengan keputusan (Namakamu) kalau misalnya... nolak lo?" Dengan hati-hati Bastian berucap.
Aldi mengangguk, "Gue yakin kok."
"Pak." Aldi merasakan ada yang menarik celana hitamnya. Secara bersamaan Aldi dan Bastian menunduk dan mendapati seorang lelaki kecil dengan rambut yang dijambul.
Dia mengangkat tangan sedari tadi, dia ingin bersalaman, "Ehh iya." Aldi menerima tangan lelaki kecil itu dan lelaki itupun mencium tangan Aldi, begitu pula dengan tangan Bastian.
Setelah dia berhenti menyalami mulutnya kembali terbuka, "Oh iya bapak mau nembak siapa?" Tanya tanpa dosa.
Bastian dan Aldi melotot, kemudian menggaruk tengkuk kebingungan dengan jawabannya, jadi tadi anak kecil itu mendengar?
"Berarti Pak Aldi punya tembak-tembakan dong Danish boleh pinjem gak pak?" Tanya nya lagi sambil memamerkan dua gigi susu yang telah hilang dibagian atas. Aldi bingung ingin menjawab apa, kalau diingat-ingat lelaki itu bernama Danish masih baru beberapa bulan lalu masuk ke kelas satu.
"Iya iya nanti bapak pijemin." Bastian langsung memegang bahu Danish dan segera menuntunnya pergi sebelum dia bertanya-tanya lagi. Masalahnya anak kecil itu emang keponya keterlaluan.
"Ngomongnya nanti lagi." Ucap Bastian mengacungkan jempol sambil menuntun Danish pergi.
-------
Sudah dua hari Caca pergi meninggalkan Iqbaal yang semakin hari tidak bersemangat untuk bekerja ataupun melakukan hal lain, Iqbaal melangkah menuju sebuah kamar dekat dengan ruang makan, pintunya terbuka dan aroma lavendel menguar pada indra penciumannya.
Iqbaal memegang ganggang pintu kemudian mendorongnya pelan, pupil matanya menangkap wanita paruh baya sedang duduk di atas kasur bersprai coklelat muda. Dia menarik ujung bibirnya keatas, membentuk senyuman tipis kerutan disamping hidung dan mulutnya pun terbentuk, Iqbaal sadar Bundanya sudah tua.
"Bunda sering kesini makanya disini rapi." Rike tersenyum miris menepuk kasurnya pelan-pelan.
Iqbaal menghampiri Bundanya, duduk disamping Bundanya, menyerap kenangan yang sudah pernah terjadi ditempat ini, sudah lama dia tidak kesini.
Rike segera bangkit tidak isa lagi menutupi kesedihannya dari Iqbaal, Iqbaal hanya diam matanya menjelajah setiap sudut ruangan ini.
Dua pemuda berwajah mirip ini berada dalam keheningan, Fakhri duduk di meja belajarnya memegangi pulpen dan tangannya menari-nari di atas buku yang bertuliskan Biologi.
"Ishh." Iqbaal meringis ringisannya sampai terdengar ditelinga Fakhri, dengan perlahan Fakhri memutar badan melihat Iqbaal yang duduk diatas kasur sambil menempelkan kain yang sebelumnya telah direndam es.
"Sampai kapan lo mau jadi jagoan." Nadanya datar tapi terdengar sinis.
Iqbaal diam melirik malas saudara kembarnya, kemudian dia membuka mulut, "Peduli apa lo tentang gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Heartbeat || idr
FanfictionEND - 8 Desember 2016 Sebagian cerita [Private-Hanya bisa dibaca oleh followers] Apa ketika jantung berdetak cepat itu menjamin orang jatuh cinta? Apa ketika kita nyaman akan seseorang tapi jantung kita tidak berdetak cepat itu juga jatuh cinta...
