Malam ini, kami bersepuluh—aku, Louis, Liam, Harry, Zayn, Niall, Taylor, Eleanor, Sophia, dan Nadine sedang berkumpul di rumahku. Sesuai dengan janjiku waktu itu, mengadakan party kecil-kecilan di malam minggu. Jauh dari ekspetasiku, bukan kesenangan yang kudapat, melainkan bosan.
Aku seperti kambing congek di rumahku sendiri, aku ingin punya pacar juga seperti yang lain, tapi Ashton belum mengizinkanku pacaran. Dia bilang padaku akan menjodohkanku dengan salah satu sahabatnya. Hell. Yang benar saja?
Kini aku berada di balkon kamarku, lebih baik aku membaca novel yang belum sempat kubaca dan memakan keripik kentang favoritku. Tak lama berada di sini, terdengar suara pintu kamar terbuka, aku merasakan seseorang berjalan masuk menghampiriku.
"Ed, sedang apa kau di sini? Mengapa kau tidak ke bawah dan bermain ToD bersama kami?" Tanya Liam.
"Apa kau tidak lihat? Aku sedang membaca." Jawabku, ketus.
"Ed, sebenarnya ada apa dengan kau dan Niall?"
Aku menghiraukannya. Tanpa seizin dariku, ia mengambil novel yang sedang kubaca.
"Hey! Kembalikan!"
"Akan kukembalikan jika kau menjawab pertanyaanku." Apa-apaan ini?
"Okay. Aku dan Niall tidak ada apa-apa. Jelas?" Ujarku.
"Sangat tidak jelas. Dan mengapa sikapmu pada kami pun jadi berubah?" Tanyanya lagi.
Aku tidak tahu, Li. Akhir-akhir ini aku merasa canggung berada di dekat kalian. Aku takut Niall benar-benar tau siapa orang yang aku cintai, dan dia memberitahunya kepada kalian.
"Ah, sudahlah, aku ingin ke supermarket membeli beberapa minuman."
"Di dapurmu banyak minuman, Ed."
"Tapi semuanya bersoda, aku tidak suka soda!" Aku pergi dari balkon kamarku meninggalkan Liam di sana.
"Itu berarti novelmu takkan kukembalikan!" Serunya.
"Terserah! Ambil saja!" Kututup pintu kamarku dengan keras.
Menuruni tangga, aku mendengar dentuman musik dan tawa mereka yang mengganggu suasana hatiku. Tanpaku, mereka terlihat sangat bahagia. Lebih tepatnya Zayn, setelah berhasil membawa Nadine ke rumahku, ia tampak sangat bahagia.
Dan kalian harus tahu sesuatu, tadi pagi Zayn dan Nadine datang menemuiku untuk meminta maaf atas kejadian di toko buku sewaktu itu. Apa aku memaafkan mereka? Iya.
"Hey, Ed, kau mau kemana?" Tanya Louis.
"Supermarket."
"Mau kutemani? Atau Niall?" Tawarnya.
"Tak usah."
Ya ampun, mengapa hari ini aku sangat sensitif?
...
Sebenarnya aku tidak ingin ke supermarket. Hanya ingin keluar dari neraka itu—rumahku.
Dengan berjalan kaki, kuterus susuri jalanan ini. Ramai sekali, banyak kendaraan yang berlalu lalang, orang-orang berjalan kaki, dan lampu-lampu jalan terang benderang. Aku senang, aku merasa tak kesepian.
Dan sekarang aku tak punya tujuan. Hyde Park sepertinya cocok untuk suasana hatiku, tapi sekarang kan sudah malam, Hyde Park pasti sudah tutup. Lantas aku harus kemana?
Tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat kursi yang biasanya ada di pinggir-pinggir jalan, karena merasa kakiku pegal, aku pun duduk di kursi itu. Apa aku harus berdiam diri di sini sambil menghitung berapa banyak mobil berwarna merah yang melewati jalan ini selama 15 menit? Hell no.
ANDA SEDANG MEMBACA
Mischievous
FanfictionKisah seorang gadis remaja dan kelima sahabat lelakinya yang hidupnya senang sekali membuat kerusuhan, benci dengan kesedihan, pemakan bukan penikmat, dan memiliki selera humor receh.
