Wanita berambut panjang itu mengernyit dalam saat menemukan sebuah notebook berukuran sedang dengan gambar headphone di sampul depannya, berada di atas meja kecil yang terdapat di pojok ruang latihan.
Kim Jisoo menatap sekeliling ruang latihan. Sudah kosong, entah sejak kapan. Tangannya meraih buku itu, dalam hati bertanya-tanya milik siapa.
Tanpa bermaksud untuk macam-macam, Jisoo memutuskan untuk membuka buku itu. Mencari nama sang pemilik, yang ia yakini adalah salah satu temannya.
Panpriya Manoban.
"Ah, ternyata punya Lisa!" gumam gadis itu pada akhirnya.
Tanpa sengaja, lembar pertama terbuka karena tangan Jisoo yang bergeser. Jisoo ingin segera menutupnya, namun urung karena rasa penasaran. Terlebih saat melihat satu lembar kertas hanya terisi beberapa baris paling atas, sisanya kosong.
Hari ini dia pergi. Meninggalkanku. Meninggalkan debut kami. Meninggalkan Thailand. Meninggalkan segala kenangan.
Alis Jisoo bertaut heran. Sampai ia tersadar bahwa buku yang ia pikir hanya notebook biasa itu, ternyata adalah diary. Ah, ia pikir sudah tak ada gadis yang menulis diary di zaman secanggih ini. Terutama gadis-gadis di kota Seoul.
Sekali lagi, Jisoo membaca tulisan itu. Ia memang tak tahu pada siapa itu ditujukan. Namun ia jelas tahu, bahwa tulisan sarat akan kesedihan. Semacam ada kekecewaan yang tertuang melalui tulisan singkat tersebut.
Jisoo segera menutup diary milik teman seperjuangannya itu. Baru saja ia ingin melangkah keluar, pintu ruang latihan lebih dulu berdebam terbuka.
"Hey, Lis?" sapa Jisoo.
Gadis itu tampak panik, terlebih saat ia melihat buku berwarna hitam itu ada pada genggaman Jisoo. "Kakak membacanya?"
Jisoo sempat tergeragap, namun ia mengangguk. "Ah, iya, aku membaca bagian depan. Mencari nama pemilik. Ternyata punyamu."
"Tidak membaca yang lain?" Lisa memastikan, matanya menyipit menatap Jisoo.
"Tidak," Jisoo menjawab cepat, ia ulurkan diary itu pada sang gadis Thailand. "Ini. Padahal baru mau nyari kamu, buat balikin. Eh, kamu udah datang duluan."
Lisa langsung membawa diary itu dalam dekapannya, benar-benar takut jika orang lain akan membacanya. "Thank you, Kak."
Jisoo mengangguk sambil memberi senyum manisnya, dirangkulnya Lisa. Membawa gadis itu menuju pintu. "Kantin yuk? Kakak lapar banget."
"Bukannya lagi diet, Kak?"
Tangan Jisoo mengibas di udara. "Ah, besok ajalah dietnya."
Lisa terkekeh geli mendengar itu, Jisoo memamg takkan pernah selamat dari godaan kantin YG. "Besoknya kakak tuh, sama aja kayak besoknya Pak Bos."
"Haha, iya. Besok kalian debut. Besoknya dia tuh pakai kalender suku maya," Jisoo berceletuk membenarkan.
Tawa Lisa pecah, memenuhi koridor-koridor yang mereka lewati. Sekilas Jisoo menatap gadis itu, gadis yang selalu tertawa bahagia itu, rupanya menuangkan kesedihan dalam diary.
Kenapa ia tidak bercerita saja? Tidakkah ia mempercayai Jisoo sebagai sosok kakak di perauntauannya sekarang?
***
Haloooo, jadi special chapter bakal muncul di waktu-waktu tertentu. Selebihnya cerita akan melalui apa yang Lisa tulis di diary saja ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Lisa, Untuk Bambam
FanficKarena kamu adalah salah satu alasan mengapa aku bisa bertahan hingga sejauh ini. [Sebagian cerita telah diprivate].
