[special chapter] bukan ilusi

4.3K 748 21
                                        

Lisa mengumpat kesal saat melihat sepeda yang tergeletak begitu saja di depan pintu café, benar-benar menghalangi jalan untuk masuk ke dalam café tersebut.

"Hey, nona! Jangan menggeletakkan sepedamu sembarangan begitu!" ujar seorang pria yang tampak ingin masuk juga ke dalam café.

Jelas saja Lisa menggeleng keras saat itu juga. "Tapi ini bukan sepeda saya."

"Astaga, anak zaman sekarang, tidak pernah mau mengaku kalau salah. Ayolah, cepat pindahkan sepedamu ke tempat parkir!"

"Tapi--"

Pelototan mata pria itu membuat Lisa menciut seketika, dengan berat hati ia mulai memindahkan sepeda berwarna hitam itu ke tempat parkir sambil terus menggerutu.

"EH! ITU SEPEDAKU MAU DIBAWA KE MANA?" suara teriakan panik seorang pemuda membuat Lisa mendengus kesal.

Sekarang apa lagi? Apa ia mau dituduh sebagai pencuri?

Dengan malas, Lisa menoleh pelan-pelan ke belakang. Sambil berpikir apakah ia harus memarahi si pemilik sepeda yang ceroboh ini atau bagaimana?

Sampai saat dunia terasa berhenti berputar saat melihat siapa sosok yang berlari menuju ke arahnya. Sosok yang hampir selama dua tahun ini berusaha ia lupakan, namun nyatanya tak pernah terlupakan.

Pemuda itu sontak menghentikan langkahnya. Menatap tak percaya pada apa yang ada di hadapannya. Gadis berambut panjang yang sedang menuntun sepeda kuning miliknya, Lalisa Manoban.

Waktu bagai berhenti, namun hanya untuk sebentar saja. Karena sang pemuda telah melangkah maju, pelan-pelan berharap bahwa yang di depannya bukanlah ilusi.

"Lisa?"

Ingin dijawabnya sapaan itu, namun semua kata bagai tertahan di ujung lidahnya. Ia masih tak percaya, mata Lisa bahkan mengerjap berkali-kali untuk memastikan.

"Bambam?"

Terjawab sudah. Segalanya bukan ilusi.

***

Dari Lisa, Untuk BambamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang