Maybe one day, we'll meet in a coffee shop in a far away city.
-
Didorongnya pintu kaca itu ke dalam, seiring dengan langkahnya yang menapak masuk hingga tepat berada di depan meja kasir. Sapaan ramah sang kasir, ia balas dengan senyum simpul.
"Aku mau satu ice vanilla latte dan strawberry waffle. Makan di sini," pinta Lisa saat ia selesai melihat gambar deretan makanan di atas kasir.
"Totalnya delapan won," ucap sang kasir.
Lisa mengangguk sekilas. Tas punggung kecilnya, ia alihkan ke depan, tangannya kini mengaduk-aduk tas, mengambil dompet yang berasa di dalamnya.
Diserahkannya selembar uang. Lalu dengan asal, agak menghempas tas punggungnya untuk ke posisi semula.
Bugh.
Gadis itu membelalakkan mata saat merasa tasnya sempat menubruk sesuatu, sebelum mendarat sempurna di punggungnya. Oh, jangan bilang kalau...
"Auh, tak bisakah kamu memakai tas dengan cara biasa saja? Jangan menghempas saat ada orang lain di belakangmu!"
Ah, ia memang membuat tasnya menubruk seseorang di antrian belakangnya. Dengan malu, gadis itu langsung membungkuk berkali-kali. "Maafkan aku, maaf, aku sungguh minta maaf."
Lisa kemudian mendongak, sekali lagi mengucap maaf.
"Ya ... tidak apa-apa," suara lirih terdengar dari balik masker hitam yang dikenakan sang pemuda.
"Maaf nona, ini pesanannya," kasir itu menginterupsi, membuat Lisa langsung berbalik badan dan mengambil nampan berisi pesanannya.
Gadis itu sekali lagi membungkuk pada pemuda tadi, tanpa sadar bahwa sepasang mata itu tengah menatapnya lamat-lamat. Manik mata hitam kelam itu sesekali mengerjap lambat, tak percaya.
"Tujuh ice caramel mocha, dibungkus."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Lisa, Untuk Bambam
FanfictionKarena kamu adalah salah satu alasan mengapa aku bisa bertahan hingga sejauh ini. [Sebagian cerita telah diprivate].
