Gue baru aja jalan-jalan kecil disekitar tenda. Gila ya, pagi-pagi disini tuh seger banget, suasananya tuh ya, bikin susah move on. Gue lihat si ketus main pergi aja, kebiasaan ya tuh anak pergi gak bilang-bilang.
"Bemo, mau kemana lo?"
"Ngambil air."
Ngambil air? Berarti dia mau ke sungai dong? Ah? Sungaiii? Gue harus ikut. Gue langsung menyusul si ketus dan mensejajarkan posisi jalan gue sama dia. "Gue ikut ya?"
Dia langsung berhenti, dan natap gue sinis. "Ngapain sih lo. Gak! Balik sana!"
Gue manyun. Malesin banget sih ini anak. Pelit! Gue kan mau liat sungai. "Please, ikut ya ya ya?"
"Gak! Ngeribetin aja lo."
Hm, gue memasang puppy eyes gue yang pasti bikin semuanya gak ada yang nolak permintaan gue. "Please, janji gak akan ngeribetin deh." ujar gue sambil membentuk dua jari.
Bimo berdecak dan akhirnya dia pasrah. Kan, puppy eyes gue tuh gak akan ada yang bisa nolak, bahkan si ketus aja gak bisa nolak. Jago kan gue.
Sepanjang jalan ke sungai, Bimo sama sekali gak ngomong sama gue, udah gitu jalannya cepet banget lagi, gak tau apa ya kaki gue pendek gini. Ngeselin banget.
Akhirnya, sampe juga disungai. Gila! Keren banget! Sungainya bersih banget! Gue langsung selfie disana, sedangkan Bimo sibuk masukin air ke botol besar yang ia bawa. Gue menghampiri dia, bermaksud mengajaknya wefie.
"Eh Bemo, Bemo, wefie yuk?"
Bimo malah berdecak, "Apaan sih, ogah alay."
Anjirrrr songong banget nih orang ya. Gue manyun dan berjalan menjauh darinya lima langkah. Gue memasukkan ponsel ke saku jeans. Dan gue teriak-teriak gak jelas gitu. Sumpah, rasanya plong banget.
"Eh, berisik banget sih lo!" ketus si Bimo.
Gue menghela nafas dan menghampirinya, "Bemo, lo harus ikutan gue, gue jamin rasanya plong! Ayo Bemo, lepasin semua masalah lo! Ayo teriak!"
"Sorry ya gue masih waras."
"Maksud lo gue gila?" sinis gue.
"Lo sendiri yang ngaku."
Lah iya juga ya? Ah tau ah, males gue sama si Bemo alias Bimo alias ketus. Gue kembali berteriak dengan kencang sambil memutar-mutar tubuh dan merentangkan tangan. Tiba-tiba gue tersandung sesuatu, dan karena licin, gue jadi tergelincir, lalu jatuh. Arghhh, sumpah bokong gue sakit banget.
Bimo malah hanya melihati gue dan dia....tertawa(?) sumpah ini kali pertamanya gue lihat dia tertawa, dan gue terpaku, nganga lebar-lebar. Gila, gue baru sadar kalau dia gantengnya pakai banget. Kenapa jantung gue jadi deg-degan gini ya ngeliatnya? Astaga! Sadar woi! Gue langsung mengatupkan mulut dan geleng-geleng. Apaan coba gue mikir kayak tadi. Dia tuh gak ganteng! Dia ngeselin! Inget itu Karenina!
Dia masih aja ketawa, dan gue masih aja deg-degan. Ini gue kenapa sih? Efek jatuh kali ya? Jadi jantung gue bermasalah? Aduh, kayaknya balik dari kemah gue harus cek deh ke dokter.
"Eh, bukannya nolongin, malah ketawa!" ujar gue sambil manyun.
"Rasain tuh efek norak."
Astaga! Gue lagi jatuh aja dia masih ngeselin lho ya. Dia tuh terbuat dari apaan sih? Es batu? Atau emaknya ngidam es batu pas hamil dia? Jutek banget jadi orang.
Gue mencoba untuk bangun, namun kaki gue terasa sangat sakit. Gue meringis. Ya ampun, gue gak bisa berdiri. Emang tadi gue tergelincirnya parah banget apa?
"Aw, Bemo, bantuin dong, sakit banget kaki gue." ringis gue.
Bimo mengulurkan tangannya, gue menerima uluran tangannya. Tiba-tiba gue jadi deg-degan lagi. Duh, apaan sih ini jantung gue. Gue mencoba berdiri dengan bantuan tangan Bimo, namun gue benar-benar gak bisa. Gue meringis. "Sakit banget..." ringis gue.
Bimo jongkok agar menyetarakan posisinya dengan gue. Gue masih meringis, gila ini sakit banget, gue gak pernah tergelincir sampe gak bisa berdiri begini. "Sakit banget?" tanya Bimo.
"Iyalah! Kalau gak sakit gue udah lari-lari!" jutek gue. Abisan kesel, gue udah kesakitan gini dia masih aja nanya.
"Yaudah sini." Bimo meluruskan kaki gue yang sakit.
"Eh-eh, mau apa lo?" tanya gue panik.
Bimo tak merespon, dia memijat kaki gue yang terkilir dan itu sakit banget parah. Gue meringis sampai berairmata tau gak sih. Sakit banget. Dia memutar-mutar pergelangan kaki gue yang lagi sakit..dan PRETEKKK! Gila itu sakit banget.
"Cengeng!" ujarnya. "Udah enakan belum?"
Gue manyun sambil menepis airmata yang keluar dari mata gue. Gue merasa-rasa kaki gue, masih sakit sih, tapi gak sesakit tadi. Sekarang kaki gue bisa digerakkin walau sakit, kalau tadi sama sekali gak bisa gerak gue. Gila, si ketus jago ngurut ya. "Ya, better." ujar gue.
"Yaudah kita balik ke tenda." ujar Bimo, ia meraih tangan kiri gue dan ia meletakkan tangan kiri gue dibahu kirinya. Ia merangkul gue, membantu gue berjalan. Gila, walaupun dingin ternyata dia baik ya, gentle juga lagi. Kayaknya dia cuma perlu dideketin aja, gak diketusin balik. Selama ini kayaknya gue salah deh nanggapin sikap dia. Harusnya gue gak balas jutek.
Gue sama Bimo sampai di tenda dan Silla, Fero langsung nyamperin gue sambil panik gitu.
"Nin, kenapa lo?" tanya gue.
"Biasa, norak." jawab Bimo.
Gue manyun, Bimo tuh ya gak ada abis-abisnya bikin gue emosi. Tapi sabar, Nin. Lo harus bisa bikin dia gak dingin, karena sedingin-dinginnya es, kalau diberi sedikit kehangatan pasti sedikit demi sedikit akan mencair. Percayalah! Asik.
"Ini lho, tadi gue terkilir. Tapi udah baikan kok, diurut sama si Bemo, hehe, thanks ya Bemo." ujar gue pada Bimo yang masih merangkul gue.
"Yaudah, betah banget lo dirangkul gue?" ujar Bimo, dan gue berhasil dibikin blushing. "Istirahat sana ditenda!" sambungnya. Yaampun Bim, dingin tapi perhatian. Itu bikin gue deg-degan sumpah.
Gue melepas tangan gue yang masih dibahu Bimo dan berjalan kearah tenda.
=================================
Thanks for reading Don't forget to vote, comment, and follow my wattpad account: buterabieberstories
Thank you
KAMU SEDANG MEMBACA
HE'S COOL
Teen FictionApa sih defini cowok dingin menurut Lo? ✔Nyebelin ✔Sok ✔Malesin ✔Bikin Emosi ✔Minta digaruk ✔Bikin batal puasa ✔De El El Begitu? ya emang awalnya sih iya, tapi entah, makin kesini pemikiran gue malah makin muter 360°. Kalau menurut gue, cowok dingi...
