PART XIV

133 8 2
                                    

Vanya memutuskan untuk kembali ke rumah, dia berjalan dengan santai memasuki rumahnya. Di ruang tamu dia melihat Gege dan Laura yang tengah menangis seraya berpelukan. Dan Drian yang menatap kosong entah kemana arah pandangnya.

Vanya tak menghiraukan keberadaan mereka, dengan tak perdulinya dia berjalan melewati mereka. Tiba-tiba saja tangannya di cekal oleh Gege. "Van, ada yang harus lu tau. Dengerin dulu ya" ujar Gege dengan nada memohon.

Dengan seenaknya Vanya menghempaska tangan Gege, "apa perduli gua?" ujar Vanya dingin. Tak menunggu jawaban dari mereka, Vanya segera berjalan menuju kamarnya.

Gege, Laura, dan Drian tersikap melihat perubahan Vanya. Ekspresinya yang dingin membuat mereka mengerutkan kening tak percaya. Gege mencoba menanyakan perubahan sikap Vanya, namun Laura sendiri tak tahu kenapa Vanya bisa sedingin ini.

Akhirnya karena keadaan yang tak memungkinkan Laura dan Drian memutuskan untuk pulang. Gege sendiri tengah menaiki tangga menuju ke kamarnya bersama Vanya.

Namun apa yang di lihatnya membuat dia kalap, bagaimana tidak? Semua barang dan bajunya sudah berserakan di depan pintu kamar. Dengan segera Gege membuka pintu kamar, namun ternyata di kunci dari dalam. Akhirnya Gege menggedor pintunya,

TOK TOK TOK TOK TOK

"VANYA! BUKA GAK?! TEGA-TEGANYA LU YA?!" teriak Gege tak habis pikir dengan sepupunya.

Dengan santai Vanya membuka pintu kamarnya dan menatap datar ke arah Gege, "kenapa lu taro luar barang-barang gua?! Lu mau ngusir gua?!!" Teriak Gege kesal.

"Mulai sekarang lu tidur di kamar tamu," ujar Vanya masih dengan wajah dan nada suara datarnya.

"Kalau lu marah karena gua baikan sama Laura lu ngomong dong!!! Lu gila tau ga?!! Lu bahkan belum tahu yang sebenernya Vanya!!!"

Vanya hanya tertawa meremehkan, dengan santainya dia menutup kembali pintu kamarnya. Dia sungguh malas mendengar omongan sepupunya itu.

Gege yang melihat kelakuan Vanya memblalakan matanya, kaget dengan perubahan sikap yang di tunjukan Vanya. Ada apa dengan sepupunya itu?

---

Malam ini Vanya, Bundanya dan Gege tengah makan bersama. Namun sang Bunda mengerutkan kening melihat sikap anaknya, tak biasanya Vanya mengacuhkannya seperti ini.

"Anya, kamu sehat-sehat aja nak?" ujar si Bunda seraca menatap cemas ke arah Vanya.

"Ya, dan tidak pernah sebaik ini," ujar Vanya datar tanpa menatap ke arah sang Bunda. Melihat keadaan Vanya, sang Bunda memutuskan untuk diam.

Selesai makan, Vanya segera kembali ke kamarnya, tanpa sepatah katapun yang di ucapkannya. Akhirnya sang Bunda bertanya tentang keadaan Vanya ke Gege. Dan mengalirlah cerita itu dari awal hingga akhir.

Sang Bunda mengangguk mengerti permasalahannya, namun yang dia tak mengerti kenapa Vanya seakan menutup dirinya dari siapapun?

"Yaudah ya Bunda, Gege mau ke kamar dulu. Ngantuk hehe" ujar Gege seraya melangkah ke kamar tamu di lantai satu.

Melihay arah tujuan Gege sang Bunda memanggilnya kembali "Gege kok kesana? Kamarnya kan di atas bareng-bareng Vanya?"

"Vanya nyuruh Gege tidur di kamar tamu Bun," jawab Gege dengan semyum pahit.

Sang Bunda lagi-lagi tersikap, mengapa anaknya berubah? Vanya kini sungguh tak sama lagi. Membuat sang Bunda menangisi anaknya malam ini.

---

Vanya memutuskan menghadiri acara Prom Night sekolahnya yang di adakan di salah satu gedung mewah di Jakarta, hari ini. Malam ini Vanya menggunakan gaun dengan warna peach selutut, dan rambut yang di tata sedemikian cantiknya. Dengan heels warna silver dan tas berwarna senada. Ditambah dengan make up tipis yang disapukan tipis di wajahnya membuatnya semakin cantik malam ini.

VANYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang