PART XI

115 11 0
                                        

Hari ini Vanya memutuskan untuk menemui Laura. Semalaman dia sudah mencoba untuk menerima apapun yang di katakan oleh Laura nanti. Kini ia tengah menunggu Laura, di salah satu caffe langganan mereka dulu.

"Sorry Van lama, tadi macet," ujar Laura yang baru saja datang. Vanya hanya menganggukan kepalanya. Jujur, hingga kini dia masih merasa kecewa dengan orang yang sudah di anggap sahabatnya ini.

"Langsung to the point, gua gamau basa-basi," ujar Vanya dingin, Laura yang mendengar dinginnya ucapan Vanya mengubah ekspresinya, dia terlihat err ... Sedih? Mungkin.

Dan mengalirlah cerita itu dari mulut Laura ....

Flashback.

Hari ini Laura memutuskan untuk menemui Reyhan. Dia sudah tak tahan lagi dengan sikapnya pada sahabatnya yang seenaknya. Sudah semalaman dia memikirkan semuanya. Vanya harus bahagia sebelum dia pergi.

Hari ini terakhir ujian tengah semester diadakan. Laura sendiri belum menemui Vanya seharian ini, dia terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri.

Laura segera menghampiri Reyhan yang tengah bersama teman-temannya. "Reyhan, boleh ngomong bentar?," ujar Laura tanpa berani menatap ke arah Reyhan. Ini kali pertama dia berbincang dengan Reyhan, wajar kalau dirinya gugup.

"Engga," ujar Reyhan yang masih sibuk mengobrol dengan teman-temannya.

"Please Adrian, kali ini aja," lirih Laura .... Yang langsung saja membuat Reyhan menatap tajam ke arahnya. Dengar kasar Reyhan menarik tangan Laura, dan membawanya ketaman belakang.

"Kenapa lu manggil gua Adrian?," tanya Reyhan tajam.

"Ternyata lu bener-bener udah lupain gua ya yan?," lirih Laura.

"Siapa lu sebenernya?," tanya Reyhan tanpa mengalihkan tatapannya dari Laura.

"Lala," ujar Laura singkat namun berhasil membuat Reyhan terlonjak kaget.

Tanpa sadar Reyhan menarik Laura kedalam pelukannya, tak berniat melepaskannya lagi. Dari awal Reyhan memang seakan familiar ketika melihat Laura, sehingga saat ini dia langsung mempercayai ucapan Laura. Ya, Laura adalah, Lalanya, cinta kecilnya, wanita yang di tunggunya hingga hari ini.

Laura sendiri masih menangis terisak di pelukan Reyhan, jujur dia merindukan lelaki ini. Selama ini dia tak berani mengungkapkan siapa dirinya pada Reyhan, kini akhirnya kata-kata itu lolos dari bibirnya.
Laura tersadar dengan niat awalnya, dia langsung melepaskan pelukan di antara mereka.

"Aku sayang sama kamu La, sekarang kita sama-sama terus ya?," ujar Reyhan yang langsung saja di balas gelengan oleh Laura.

"Kenapa la?," tanya Reyhan lirih. Reyhan sangan menyayangi Laura, sedari kecil mereka sudah bersama, namun tiba-tiba saja Laura pindah. Namun Reyhan berjanji dalam hatinya kalau dia tidak akan melupkan Laura, Lala kecilnya.

"Ini," ujar Laura sembari memang dadanya, seakan menunjuk hatinya.

"Udah bukan punya kamu lagi." lanjut Laura dengan suara lirih.
Reyhan tersikap mendengar ucapan Laura, menyesal karena seharusnya dia menyadari Laura dari awal.

"Kenapa la? Kenapa kamu ga bilang ke aku dari awal kalau kamu itu Lala? Kenapa???!!" tanya Reyhan yang terdengar frustasi.

"Sudahlah yan, apa yang terjadi sama kita itu cuma masa lalu, tujuan aku kesini selain untuk memberitahu siapa aku, aku juga mau minta tolong sama kamu, jangain Vanya. Dia sahabat terbaik aku," ujar Laura lembut.

Reyhan sendiri hanya diam menatap Laura, bingung dengan apa yang di pikirkan oleh perempuan di depannya, mengapa dia menyuruh Reyhan menjada Vanya?

VANYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang