Part 5: Rio yang Sabar yaa, Orang Sabar disayang Tuhan
"Lho? Itu kan.."
Setelah melihat gadis tersebut, Alvin segera memakai helm dan menyusul gadis tersebut.
***
"Pokoknya Papa gak mau ngeliat kamu melukis terus! Harusnya kamu sadar, kamu sudah besar, Via! Kamu bisa memilih mana yang terbaik buat kamu, ternyata Papa salah kamu masih belum bisa dewasa!" Seru Pak Rendra, ayah Sivia.
"Pa, udahlah!" Kata Bu Vina.
"Kenapa Mama selalu membela Via!? Via itu belum bisa memilih mana yang benar mana yang salah!!" Kata Pak Rendra.
Sivia merasa sakit hati mendengar omongan Papanya, ia merasa terlalu diatur, tak bisa melakukan apa yang disukainya, air mata sudah jatuh di pipinya. Papanya ingin Sivia menjadi dokter seperti Papa dan Mamanya, tapi Sivia lebih memilih melukis yang merupakan kesukaannya dari kecil daripada menjadi dokter.
"Papa bilang aku belum dewasa, Pa? Mungkin menurut Papa aku belum dewasa, tapi menurutku sendiri aku udah dewasa! Aku udah memilih sesuatu yang terbaik buat aku, melukis adalah yang terbaik buat aku!!" Sivia berlari menuju luar rumah meninggalkan Papa dan Mamanya.
"Siviaa!!!" Panggil Pak Rendra. Tapi Sivia tak menanggapinya, Sivia meninggalkan rumahnya dan pergi menuju suatu tempat. Selama di perjalanan, Sivia terus mengingat perkataan Papanya yang membuat dirinya sakit hati. Air mata tak berhenti keluar dari matanya, Sivia terus menghapus air matanya, tapi tetap saja air mata itu tak berhenti keluar dari matanya. Tiba-tiba saat Sivia sedang merenung, sebuah motor Tiger berhenti di sampingnya. Sivia memandang sang
pengendara motor tersebut. Si pengendara motor itu memakai helm full face sehingga Sivia tak bisa melihat wajahnya.
"Lo siapa? Tukang ojek? Maaf Mas, saya gak mau naek ojek." Sivia meninggalkannya dan berjalan cepat, tapi si pengendara motor itu tetap menyusul Sivia sampai-sampai berhenti di depannya.
"Mas, saya kan udah bilang!? Saya gak mau naek ojek! Maksa banget sih!? Tuh ada Ibu-ibu nunggu ojek di sana! Mending samperin aja tuh Ibu-ibu! Jangan saya yang disamperin!!" Seru Sivia sambil menunjuk kearah Ibu-ibu yang sedang duduk menunggu ojek. Kemudian si pengendara motor itu malah tertawa. Sivia mengangkat alis.
"Lo beneran gak tau siapa gue?" Tanya si pengendara motor.
"Lo tukang ojek, kan?" Tanya Sivia. Tawa si pengendara motor itu meledak. Ia membuka helmnya, sehingga membuat mata Sivia terbelalak.
"Masa orang ganteng kayak gini dibilang tukang ojek sih?"
"Kak Alvin??"
"Bukan, tukang ojek! Iya, gue Alvin!" Kata Alvin sambil tertawa. Muka Sivia memerah, malu setengah mati.
"Kok lo bisa ada disini, Kak?" Tanya Sivia.
"Rumah gue di komplek ini juga, Vi. Gue lagi bete, jadinya gue keliling komplek, terus pas gue lewat blok AB, gue denger ada keributan..di..rumah lo.." Gumam Alvin.
"Jadi lo denger ya?" Tanya Sivia.
"Maaf,ya Vi.."
"Gak papa kok, Kak." kata Sivia.
"Mending lo ceritain semuanya ke gue, ayo naek." Ajak Alvin. Sivia menerima ajakan Alvin untuk ikut dengannya, Sivia naik ke motor Alvin dan pergi ke suatu tempat.
***
Alvin dan Sivia duduk di sebuah taman yang berada tak jauh dari rumah Sivia.
"Sekarang lo cerita sama gue, Vi." kata Alvin. Sivia menghela napas.
KAMU SEDANG MEMBACA
CUMA GUE YANG BISA
Teen FictionBaca aja, siapa tau suka cerbung icil, saya repost dari blog http://ceritaceritarepost.blogspot.com
