Bruk...
Aku hampir saja kehilangan keseimbanganku, jika saja tidak ada lengan yang menahan punggungku.
Huh, saat itu aku benar-benar shock jas. Aku takut jika aku benar-benar terjatuh apa yang akan terjadi pada kandunganku?
"Jenifer?"
Ku alihkan pandanganku pada pemilik suara itu. Tak menyangka akan bertemu dengan orang lain yang mengenalku di sini.
***
"...Queen of Bitch..."
Aku hanya terdiam, memandang seseorang yang baru saja menyebut namaku.
Tak ada bayangan tentang siapa laki-laki di hadapanku itu. Apa dia salah satu teman tidurku dulu?
Ahh kenapa harus bertemu dengan orang-orang dari masa laluku? Apa dia juga akan memperlakukanku seperti lelaki pirang beberapa bulan lalu?
"Kau benar jeniferkan?" Lelaki dengan paras yang cukup tampan menurutku.
Aku tak ingin kejadian beberapa bulan lalu terulang lagi. Aku hanya menunduk kemudian menggumamkan terima kasih yang entah dia dengar atau tidak.
Aku berjalan melewatinya masih sambil menunduk, tak ingin membuat masalah dengan seorang laki-laki lagi. Sudah cukup aku di hina habis-habisan di tengah super market. Tidak lagi di tengah rumah sakit di mana banyak orang membutuhkan ketenangan di sini.
Aku baru beranjak saat tiba-tiba suara seorang perempuan memanggil nama 'edward' dan laki-laki yang tadi mengenalku menyahutinya.
"Ah ya, kau sudah selesai?" Suara lembut lelaki itu menyahuti suara perempuan tadi.
Suara yang jauh berbeda dari saat dia menyapaku tadi. Suara penuh kelembutan dan mungkin... cinta.
Entahlah aku tak pernah tahu sapaan penuh cinta itu seperti apa. Tapi aku ingin ada yang menyapaku seperti itu.
Aku iri? Tentu saja jas. Sejak aku lahir tak ada seorangpun di dunia ini yang benar-benar peduli padaku, sebagian besar orang yang dulu ada dalam hidupku, mereka memang menanyakan kabar atau keadaanku. Tapi mereka tak ada yang peduli hanya ingin tau tanpa ingin peduli.
"Ya."
Ku langkahkan kakiku lagi meninggalkan lelaki dan perempuan yang tak aku lihat wajahnya tadi. Mungkin mereka pasangan. Bukan urusanku.
"Siapa dia ed?, kulihat kalian tadi berbicara." Tanya perempuan itu pada laki-laki yang bernama edward tadi, masih sayup-sayup ku dengar.
Aku semakin mempercepat langkahku, takut jika lelaki yang kini aku ingat siapa dia. Ya dia Edward Thompson. Satu-satunya pelangganku yang menghabiskan waktunya bersamaku tanpa menyentuhku sama sekali.
Aku ingat malam itu. Dia menghampiriku saat masih di club. Kulihat dia menghampiriku dalam keadaan setengah mabuk.
Dia membawaku ke kamar hotel yang berada tak jauh dari club itu.
Kami hanya diam sepanjang perjalanan. Bahkan edward masih cukup sadar untuk menyetir mobilnya sendiri.
Dia mulai merangkulku, mencium sekitar telinga dan leherku saat kami berada di dalam lift. Sekeluarnya dari lift, dia semakin memelukku posesif. Dia mulai mencium bibirku.
Ciuman lembut tanpa nafsu di sana. Lama kami seperti itu sampai kami berada di dalam kamar dan dia mulai menyebut nama lain. Dia menyebut nama emi.
Aku sudah pernah mengatakan kan jas, jika kau bukan orang pertama yang menyebut nama lain saat bersamaku.
Tapi entah kenapa rasa sakit yang di timbulkan berbeda. Tak ada perasaan kecewa saat edward yang menyebut nama emi saat bersamaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitch Diary
RomanceKesedihan, kesakitan, tak di hargai, menjadi makananku sehari hari. Tak ada yang bisa aku salahkan karna memang ini salahku, ini karmaku. Dan maaf harus membuatmu merasakannya karnaku. -jennifer Dove- Keegoisanku membuatku menyesal, ketidak pekaanku...
