~3~ Bitch Diary (1)

11.1K 132 2
                                        


Terkesan aneh memang jika orang dewasa menulis diary kan? Terlebih seorang pelacur sepertiku. Tapi apalagi yang bisa aku lakukan, tak banyak hal yang bisa aku lakukan dengan kondisiku sekarang. Duduk, berjalan perlahan, tidur. Tak ada lagi yang bisa lakukan untuk mengusir kebosananku.

Kini biar ku habiskan waktuku untuk mengenangnya, menceritakan tentang 'dia' dari sudut pandang seorang wanita penggoda sepertiku.

"Love at first sight..."

Terlalu kekanakan jika aku membahas tentang cinta pada pandangan pertama di usiaku sekarang ini.

Tapi itulah aku. Seorang pelacur yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Murahan sekali.

Aku bertemu dengannya selalu dalam keadaan mabuk. Yah kau selalu mabuk saat bertemu denganku jas.

Tapi malam itu kau tak mabuk. Kau menghampiriku dengan segar bugar dan senyum yang begitu menawan, justru aku yang malam itu mabuk. Aku sedang menyesali hidupku yang terlampau menyedihkan bahkan saat itu aku merasa jika diriku adalah pemeran utama opera sabun murahan yang sering di tayangkan di tv.

Kau menghampiriku, hatiku bersorak bahagia kala itu. Aku ingat, saat itu kau hanya mengenakan kaos polos berwana abu-abu yang di lapisi dengan jas pas badanmu berwarna hitam, dan jangan lupakan bagian lengan yang sengaja kau lipat hingga siku, kemudian celana jeans hitam yang membalut kaki jenjangmu, ah sederhana tapi sangat menarik bagiku.

Aku sudah mabuk berat saat itu, tapi aku masih cukup sadar untuk menemanimu bicara.

"Kau mabuk jen?" Katamu saat kau duduk di sampingku sambil menyesap martini yang baru saja di berikan bartender untukmu sesuai dengan pesananmu.

"Yaa dan kurasa aku akan memiliki teman minum malam ini" jawabku ringan, pengaruh alkohol sialan itu belum sepenuhnya menguasai diriku saat itu.

"Yaa kau benar, aku akan menemanimu kali ini, karna pada kesempatan sebelumnya kau yang selalu menemaniku" jawabmu sambil menatapku intens. Membuatku salah tingkah dan malu di saat bersamaan.

Aku seperti remaja labil kala itu, sayangnya pipiku tak terlihat merona karna kulitku yang kecoklatan.

"Haha lihat saja nanti siapa yang akan bertahan lebih lama." Aku sudah hafal denganmu jas, walaupun baru beberapa kali bertemu, kau bukan orang yang kuat minum walau hanya dengan beberapa gelas minuman sialan itu.

Kau hanya terkekeh dan meminum martini itu lagi. Tak ada yang bicara untuk sesaat. Kau masih sibuk dengan pikiranmu sendiri. Akupun hampir tenggelam dalam pikiran ku sendiri dan aku tak mengharapkan itu saat aku bersamamu. Bersamamu menjadi kebahagiaan lain yang aku rasakan dan aku tak ingin menyia-nyiakan saat berharga ini.

"Kau selalu kesini jika kau kesepian dan dalam masalah. Aku benar?" Kataku memulai percakapan kita. Kau langsung menoleh ke arahku dan tersenyum masam kala itu.

"Ku rasa kaulah orang yang paling mengerti aku jen, yah walaupun kita baru kenal. Bagaimana kau tau jika aku sedang kesepian?" Tanyamu mengakhiri deklarasi yang cukup panjang darimu. Itu kalimat terpanjang yang kau ucapkan padaku saat kau sadar jas, apa kau menyadarinya?

"Ayolah jas, itu gunanya aku dan tempat ini, tempat orang-orang yang putus asa dan bersenang-bersenang dengan jalang sepertiku." Ada sedikit nyeri yang berdesir di hatiku saat itu jas. Entahlah aku memang jalang, tapi seorang jalang yang tengah jatuh cinta.

Aku sadar siapa diriku, aku hanya seorang pelacur yang tiba-tiba jatuh cinta pada seorang yang bahkan tidak aku tahu apa pekerjaannya. Kau terlalu baik untuk manusia rendahan sepertiku. Terlalu sempurna.

"Mulai saat ini kau temanku jenifer dove. Jangan pernah menyebutmu seperti itu lagi." Jawabmu ketus.

Tanpa ku duga hatiku bersorak gembira saat kau mengatakan hal itu. Menurutku kau tidak suka aku merendahkan diriku sendiri sebagai jalang. Apa benar seperti itu jas?

Bitch DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang