Di hari libur, bermalas-malasan adalah hal yang dipilihnya untuk melewati hari, terlebih lagi dinginnya cuaca yang membuat tidur semakin pulas dan semakin nyenyak. Hari masih sangat dingin, selimut tebal miliknya masih beta mentutup tubuhnya yang tertidur pula. Begitu tenang, begitu damai. Chanyeol menyukainya.
"Park Chanyeol!"
Seperti ditarik ke dalam mimpi buruk, pintu Chanyeol terbanting kuat disusul dengan teriakan nyaring yang merusakan ketenangan. Dalam selimutnya, Chanyeol mengerang. Ia hapal betul pemilik suara itu, juga, hanya ada satu orang yang sesukanya masuk dan keluar kamarnya dengan cara yang membuat telinga dan kepala Chanyeol terasa sakit.
"Bangun, Park."
Chanyeol merasa guncangan kencang di pundaknya. Memilih untuk tak peduli, Chanyeol kembali melanjutkan tidurnya, mencoba kembali ke alam mimipinya yang indah.
"CHANYEOL!"
Kaget, Chanyeol terlonjak dengan posisi duduk. Rambutnya acak-acakkan di tambah muka kusutnya membuatnya tetap terlihat tampan bagi gadis yang tengah tersenyum lebar karena lelaki itu telah terbangun. Berbanding terbalik dengan Yoona yang tersenyum, Chanyeol malah mencebik kesal dan menatap gadis itu geram. Telinganya benar-benar sakit karena pekikan Yoona yang tepat di samping telinganya. Jika ia seorang gadis, maka mungkin sekarang ia sudah menarik rambut Yoona yang terurai agar gadis itu tak bertingkah aneh lagi.
"Pagi, Yeol," sapa Yoona tanpa merasa bersalah sama sekali. Tak mendapat respon, Yoona melempar tubuhnya di atas kasur besar milik Chanyeol yang masih menyisahkan banyak tempat.
Laki-laki itu masih dalam posisi duduk, masih mencoba mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul sepenuhnya.
"Cepat mandi. Kau harus menemaniku," titah Yoona menarik-narik selimut Chanyeol. Kali ini laki-laki itu menatapnya dengan kernyitan bingung di kening.
"Untuk apa?" tanyanya kemudian setelah gesture keheranannya belum ditanggapi oleh Yoona. Oh, ia lupa, bahwa otak gadis itu sangat dangkal untuk mengartikan bahasa tubuh, dan juga jangan lupakan sikapnya yang sangat tidak peka. Bahkan gadis itu tak pernah bisa menyadari perasaan sukanya yang sudah bertahun-tahun dan menganggap perhatiannya selama ini hanya perhatian seorang sahabat. Hingga seminggu yang lalu, ia mengatakan perasaannya dan gadis itu terlihat sangat kaget. Benar-benar bodoh.
"Kau harus menemaniku ke toko buku, membeli banyak komik dan novel. Bacaanku sudah habis dan liburan masih ada seminggu, aku ingin membaca banyak bacaan selagi libur. Ah, ku dengar hari ini banya novel baru yang diterbitkan. Yuri mengatakan novelnya sangat bagus dan ceritanya sangat menyentuh. Kau tahu kan jika aku sangat menyukai cerita yang menyentuh. Selain itu, aku juga ingin membeli kado. Besok ulang tahun Yuri dan aku belum menyiapkan apapaun. Jadi... YAK PARK CHANYEOL!" Yoona berseru ketika Chanyeol membaringkan tubuhnya kembali di atas kasur.
Lelaki itu kmebali menutup matanya.
"Apa kau sedang mendongeng? Kau sangat berisik, membuatku ngantuk saja." Chanyeol berujar pelan dengan senyum miringnya. Ia merasa lucu sendiri dengan kata-katanya. Mengatakan Yoona berisik, tetapi di saat yang bersamaan hatinya senang karena bisa mendengar gadis itu bercerita panjang lebar lagi. Ia masih ingat ketika mereka bertengkar dan sangat jarang mendengar suara nyaring itu bercerita panjang lebar, dan sekarang, ia bisa mendengarnya lagi. Sangat melegakan.
"Kenapa sekarang kau jadi malas begini? Cepat bangun." Yoona mengguncang kembali tubuh Chanyeol.
"Aku bukan malas. Hanya mengantuk, Yoong. Diamlah."
Yoona berdecak. Chanyeol belum juga bangun dari ranjangnya dan itu membuatnya semakin kesal. Tak ingin menyerah, gadis itu kembali mengguncang tubuh Chanyeol. "Cepat bangun."
