2•[vpr]• Stay

943 37 4
                                    

Tavela menghela nafasnya lelah. Ia penat. Jujur saja, sedari tadi yang ia lakukan hanyalah menunduk dan membaca buku biologi diperpustakaan. Lehernya terasa penat karena terlalu lama menunduk.
Jika bukan karena tugas yang besok akan dikumpul, Tavela tidak mungkin seperti ini. Ya mungkin Tavela memang anak rajin. Tapi tidak serajin ini yang rela membaca buku biologi ditengah jam istirahat.

"Loh, Tavela? Nyari rangkuman tugas biologi hm?" tanya suara yang sangat familier ditelinga Tavela. Tanpa Tavela lihatpun, ia tau siapa pemilik suara itu. Tavelav memdecak.

"Yakan lo tau sendiri gue ngapain. Bukannya malah bantuin, malah nanya pertanyaan retoris. Beliin minum gue kek apa gitu, kha" ucap Tavela dengan fokusnya yang masih saja ke buku biologi tebal dihadapannya.

Disebelahnya, Rakha segera duduk dan tersenyum. Ia menempelkan satu air mineral dingin dipipi Tavela dan membuat gadis itu menjengkit dengan raut wajah jengkel.
"Bisa gak sih ngasihnya halus dikit?" sindir Tavela sambil tersenyum remeh.

"Bisa gak sih sekali-sekali terima kasih?" Rakha membalikkan ucapan Tavela membuat Tavela memutarkan matanya sebal.
"Gila, gue emang rajin. Tapi, ini tugas gak kira-kira lagi" ucap Tavela sambil menstretchingkan tubuhnya.

"Udah deh ya, gak usah dipikirin. Mendingan lo istirahat aja. Gue kasih salinan kakak gue tahun lalu aja. Entar ikut gue ke rumah" ucap Rakha santai sambil melirik Tavela.

Perlahan, Tavela mengangkat bibirnya membentuk senyuman dan semakin melebar setiap centinya. Tavela senang bukan main. Itu artinya, ia terbebas dari posisi duduk yang menyiksanya secara perlahan itu.
"Makasih banyak Rakhaa. Apa yang lo lakuin ke gue itu baik dan more than enough, kha" Tavela tersenyum kemudian membaringkan dirinya dikarpet perpustakaan.

"Kalo lo mau tidur, ayo gue temenin tidur di uks" ucap Rakha sambil mengelus lembut rambut Tavela. Tavela menggeleng.
"Sini aja. Sini deh" ucap Tavela sambil menepuk posisi disebelahnya. Rakha tersenyum kemudian ia mengalah dan ikut berbaring disamping gadis itu.

"Kha, lo ngerasa gak sih hidup ini gak adil? Disaat gue mencintai orang dan orang yang gue cintai itu cinta sama orang lain. Cinta banget malahan sampe dia rela ngelakuin apa aja asal cewek itu bahagia?" ucap Tavela sambil memejamkan matanya. Ia menahan tangis.

Rakha tertawa meremehkan, "Bukannya kita memang selalu nungguin orang yang gak pernah nungguin kita, Tav? Gue ngerasa kayak orang yang lo cintai, Tav. Gue sendiri gak tau kalo gue terluka cuma demi Aqilah" Rakha menghela nafasnya.

Memang lo, kha. Iya Rakha Athala. Orang yang gue sayang dari awal gue ketemu sama dia, batin Tavela.

"Apasih kok gue jadi ngelantur ginideh. Kha, bentar lagi pulang. Kita langsung ke rumah lo atau gimana?" tanya Tavela sambil memejamkan mata.
"Langsung aja. Gue kekelas dulu. Beres-beres. Temui gue diparkiran ya" ucap Rakha kemudian bangkit dan menepuk ujung kepala Tavela lembut.

Setelah kepergian Rakha, Tavela terduduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Meluapkan semuanya dalam tangisannya. Bahkan Rakha tidak sadar, Tavela disini. Menunggu Rakha untuk menyadarinya.

Kenapa cinta sama orang harus sesakit ini? Apa bisa gue bertahan kalo cinta memang sesakit ini?

Tavela segera bangkit dan membereskan buku yang ia pinjam. Setelahnya, perempuan itu segera menuju wc untuk mencuci mukanya. Ya, mana mungkin ia akan kembali ke kelas dalam keadaan mata sembab menjijikkan seperti itu.

Tavela memutar air wastafel di wc dan mulai membasuh mukanya.
"Tavela?" Tavela segera menoleh dan mendapati Ozka dengan senyum cerahnya. Sedetik kemudian senyumnya pudar melihat mata bengkak milik Tavela.

"Lo kenapa, Tav? Bilang ke gue, kenapa lagi?" ucap Ozaka kemudian memegang kedua pundak Tavela. Tavela menggeleng pelan.
"Gue tadi cuma ngantuk. Eh, btw tugas gue aman kok. Gue dikasih salinan punya kakaknya si Rakha" Tavela berusahakan dirinya untuk tersenyum.

Ozka mendecak melihat tingkah sahabatnya itu. Sedetik kemudian, Ozka tertawa remeh.
"Gue gak segampang itu ditipu. Gue sahabatan sama lo dan Aqilah udah dari smp. Emang gak selama lo sama Aqilah. Tapi cukup untuk paham gimana sikap lo, Tav" ucap Ozka sambil memukul pelan tembok disampingnya.

Tavela menarik nafas. "Gue cuma capek. Kalo cinta sesakit ini, gimana caranya gue untuk bertahan lebih lama lagi?" Dan kalimat itu sukses menghantam Ozka telak.

***

Tavela melangkahkan kakinya masuk menuju kamar Rakha. Sementara didepannya, Rakha sudah berlari mendahului menuju kamar kakaknya. Baru kali ini Tavela melihat fotonya dan Rakha dipajang dikamar Rakha. Tavela tersenyum kecil.

Dibelakangnya, Rakha datang membawa salinan yang lumayan tebal bagi Tavela. Tavela memutar bola matanya. Tugas sialan.
"Foto itu, kenapa lo pajang?" tanya Tavela sambil tertawa kecil.

"Gak papa. Unyu aja gitu liatnya. Tenang aja kok, cuma foto itu yg gue pasang. Lainnya foto gue sama Aqilah" ucap Rakha sambil tersenyum lebar saat mengucap nama Aqilah. Dan itu membuat Tavela tersenyum miris.

"Masalahnya rakha, gue aja gak inget kita pernah foto bareng" dan setelah itu, Rakha tertawa kecil. Ia menepuk ujung kepala Tavela, kemudian segera berbaring dikasurnya. Sementara Tavela hanya duduk dikursi belajar milik Rakha.

Tavela tersenyum memandangi fotonya dan Rakha yang dipajang oleh sang empunya kamar.
"Tu foto kenapa diliatin aja, mbak? Kalo mau, itu di laci ada foto yang lainnya" ucap Rakha sambil menunjuk laci yang bisa dengan mudah Tavela jangkau.

Tavela membuka laci itu. Dan benar saja disana terdapat banyak foto. Fotonya dengan Rakha. Ya, walaupun kebanyakkan foto Rakha dengan Aqilah. Setidaknya, Tavela memiliki alasan untuk bertahan.

"Lo kenapa sih, Tav? Aneh gitu, masa ngeliatin foto sambil senyum-senyum sendiri" ucap Rakha mengerutkan dahi. Tavela tersenyum.
"Gue cuma heran. Kenapa gue bisa lupa sama kapan foto itu diambil" bohong. Tavela hanya terlalu senang bahwa fotonya dipajang dikamar Rakha.

Mana mungkin Tavela melupakannya? Ya, saat itu mereka berfoto dirumah boneka. Ya, walaupun bagi Tavela semua boneka disitu terlihat menyeramkan.

"Yaudah deh, udah sore. Gue pulang ya. Rumah gue deket kok gak perlu dianter" ucap Tavela sambil mengedipkan matanya.

"Ye, ni anak pdnya overdose banget. Siapa juga yang mau nganterin lo. Gue mau tidur. Hush sana" usir Rakha.
"Sialan" gumam Tavela.

Tapi tetap saja, Tavela keluar rumah Rakha dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya. Setidaknya, Tavela tau bahwa ia masih dianggap oleh Rakha. Ya, mungkin Ozka benar. Tavela harus let it flow.

***

Hai guys, gue minta maaf dengan amat sangat kalo ada typo disitu. Btw dimulmed ada foto Rakha sama Tavela ya. Itu foto yg dipajang dikamar rakha. Itu castnya pokoknya. Hehe. Entar cast oza sama ozkanya menyusul.

Jadi Kyle Harris as Rakha Athala
Dan Emma Ishta as Tavela Abelia

Vommentsnya guys jangan lupa yak. Maaf kalo masih ada typo kawaan. Ai lopyu somuch. Bhai!

Vienzo.

VaporTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang