13•[vpr]• All I Ever Need

436 31 5
                                    

Semuanya telah siap diposisinya ketika Rakha mulai memasukki lapangan. Ya, hari ini adalah hari dimana Rakha menembak Bella. Termasuk Tavela. Gadis itu telah siap ditempatnya dengan membawa balon warna pink.

Rakha memasukki lapangan, seketika suara murid menjerit terdengar semakin menjadi jadi. Rakha mengambil gitar yang berada dekat dengan tempatnya berdiri. Ia mulai memetik senar gitar itu dan memainkan lagu Lovestruck milik The Vamps.

Bella yang berdiri dipinggiran lapangan segera ditarik oleh seluruh murid ke tengah lapangan. Bella memutar bola matanya. Ketika lagu yang Rakha nyanyikan berhenti, Rakha tersenyum pada Bella.

"Woild you want to be mine, Bella?" Sorakkan seluruh siswa semakin menjadi jadi. Sementara Tavela, ia diam menunggu reaksi Bella.

Bella tersenyum sinis kemudian memperhatikan semua kerumunan siswa yang menyelubunginya.

"Apasih faedahnya kek beginian? Mau dikatain goals? Terus apa coba faedahnya dikatain goals?. Gaberfaedah, kha." Ucap Bella. Semua murid mendadak diam.

"Dan maaf kha, gue gabisa. Gue lagi males mikirin cowok. Gak guna. Lebih baik gue jadi fangirl daripada pacaran gajelas. Terus satu lagi, lo bener-bener cowok kurang ajar. Udah tau tuh cewek suka sama lu, tapi lu masih aja nyuruh dia buat beginian. Talal lu, yang setia malah disia sia in. Sekian, tq" Bella mengakhiri kalimatnya dan segera berlari kecil menuju perpustakaan.

Tak lama kemudian, Tavela masuk perpustakaan dengan muka cerianya. Dan Tavela melihat Bella membaca novel roman lama,entah karya sapa.Tavela tersenyum kemudian duduk disamping temannya itu.

"Kalo lu mau nerima Rakha, terima aja. Gue gapapa" Bella menolehkan kepalanya kemudian tertawa.

"Gue dijodohin. Sama orang yang gue suka. His name is Asyraf. Buat apa gue nerima Rakha? Mending gue ngejar Asyraf" Ucap Bella kemudian menatap Tavela detail.

"Lagian, He's all you ever need" Bella tersenyum setelah mengucapkannya. Tavela melengkungkan bibirnya sedikit, tersenyum tipis.

He's all i ever need, Tavela tersenyum kemudian menatap sahabatnya itu.
"Gue butuh dia, tapi mungkin dia bener bener gabutuh gue. iyakan? kita dari dulu emang ditakdirkan buat jadi sahabat. gabisa lebih, iya kan?" tanya Tavela sambil melihat gadis disebelahnya itu.

Bella menutup buku yang ia baca. Perempuan itu meraih tangan Tavela. "Takdir yg kek gini masih bisa dirubah. Sekarang tergantung sama orangnya. Kalo lu mau ngerubah, berusaha. Kalo gamau? yaudah gausah dirubah. Let it flow" Bella tersenyum kemudian berdiri meninggalkan Tavela yg masih tertegun.

Merubah takdir, merubah angan-angan. Tavela termenung.

***

Gadis itu melangkah disepanjang koridor dengan kaki yang ringan disertai senyum yg merekah. Entahlah, Tavela merasa bebannya sedikit terangkat karena ucapan Bella.

Tavela melangkahkan kakinya menuju kelas. Ketika ia masuk, seluruh tatapan murid didalam kelas kini tertujukan padanya. Tavela nengernyitkan alis melihat kelakuan semua teman sekelasnya. Mendadak semua menjadi diam hingga tiba-tiba Gita angkat suara.

"Seneng lu ngeliat Rakha malu didepan semua orang? Seneng lu? Sahabat macem apa sih yg lagi seneng disaat sahabat yg lainnya sedih? Sahabat gabecus itu mah" Tavela menahan nafas mendengar berbagai ungkapan kata yg muncul dari mulut Gita.

"Gabisa jawab kan lu? Gabecus sih jadi sahabat. Semua orang juga tau kali kalo lu suka sama Rakha. Udah bukan rahasia lagi. Tavela, Tavela. Masih aja sih berharap sama orang yg udah nolak lu mentah mentah" Gita terkekeh pelan.

VaporTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang