Chapter 31 : for the second time

419 49 18
                                    



Author's POV

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari ini adalah hari jadi atau Anniversarry pernikahan Niall dan Tay yang pertama. Sampai saat ini Tay dan Niall masih saling awkward. Mereka berdua masih tinggal di kamar masing-masing.

Niall yang baru saja pulang kerja dengan sengaja mampir ke toko kue untuk mengambil pesanan yang sudah ia pesan sejak 3 hari lalu. Sampai hari ini, Tay belum bekerja sehingga sudah dapat dipastikan, Taylor ada di rumah sekarang. Niall juga sudah membeli tiket pesawat khusus untuk hadiah ulangtahun pernikahan. Meskipun Niall tidak tahu kalau Tay akan ingat dengan hari spesial ini apa tidak.

* *

Nall sudah tak sabar untuk memberi kejutan di hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Jantungnya berdetak kencang, napasnya tak beraturan, rasanya sama seperti ingin melamar dengan sungguhan. Bahkan saat Niall melakukan pemberkatan di pernikahan dirinya dengan Tay ia sama sekali tidak merasakan hal aneh ini. Semua terbalik.

Niall menyalakan sumbu lilin yang berbentuk angka 1 dengan perlahan dan sebelah tangannya membuka pintu dengan perlahan, "kejutan!" Niall bingung, karena lampu rumah semuanya padam padahal sekarang sudah pukul tujuh sore, harusnya semua lampu baik dalam maupun luar sudah dinyalakan.

Niall menghembuskan napasnya lalu memencet saklar lampu. Dan ....

"Happy Anniversarry, Niall!" ucap Tay sambil menggendong Nick dan satu tangannya menyalakan glow stick yang bertuliskan 'NiallxTay', Niall tersenyum lebar. Tak sangka kalau hal seperti ini akan terjadi.

"Happy Anniversarry, Tay! Maaf aku sudah nyalakan lampunya! Tapi astaga! Glow stick itu keren sekali!"

"Ayo sekarang tiup lilin kue ini bersamaan!" ajak Niall menyodorkan kue tar ke arah Tay.

1 ... 2 ... 3 ...

"Aku kira kau lupa, Tay ..." Niall menaruh kue ke meja lalu langsung memotongnya untuk Tay.

"Tidak lah, suamiku," balasnya yang membuat pipi Niall mendadak merah, Tay mencubit pipi Niall yang seperti bayi.

"Astaga! Kau masih saja merah, santai saja. Aku dan kau kan pasangan! Jangan seperti orang yang tak kenal satu sama lain,"

"No, Tay. Kalau orang yang tak aku kenal malah sebaliknya. Aku akan ilfeel lalu pergi. Kau gadis terakhir yang membuatku gila,"

"Kau tak terlihat gila,"

"Aku tergila-gila padamu," Niall mengedipkan sebelah matanya, sangat menawan.

"Tak lucu, baby!"

"You call me baby?"

"Iya, kau adalah bayi, kau lebih cocok jadi kakak laki-laki Nick daripada jadi ayah,"

"Eits! Tak lebih dari setahun aku akan jadi ayah sesungguhnya!"

"Sekarang juga sudah,"

"Bukan, Tay. Kau dan aku akan memberi adik untuk Nick!" Niall mulai berkhayal hal yang selama ini ia idam-idamkan.

"Sudahlah, Niall. Oh yaa, sebentar, sebaiknya kau gendong Nick dulu, aku meninggalkan kado untukmu di atas, wait ya,"

Tay segera berlari ke lantai atas dengan cepat dan segera kembali, kini ia membawa bungkusan berwarna merah muda berbentuk hati, namun ukurannya agak besar.

"Untukmu!" Tay menjulurkan kado tadi.

"Astaga! Bahkan ini bukan valentine, Tay."

"Untuk apa valentine? Bagiku setiap hari adalah hari kasih sayang," timpal Tay pasti yang membuat Niall menyunggingkan senyumnya.

Niall segera membuka kado itu, dan ternyata isinya adalah sebuah jaket dan selembar sapu tangan yang di sulam 'Just for you, Nick's dad!❤'. Niall kembali tersenyum, ini adalah kado terbaik bagi dirinya. Padahal menurut Niall, Tay tak perlu menghadiahi Niall seperti ini, baginya, senyum Tay, kebaikannya, kasih sayangnya, sudah lebih dari apapun, tak ternilai harganya.

"Wah! Kau menyulamnya sendiri?" tanya Niall menempelkan sapu tangan itu pada pipinya yang halus.Tay mengangguk.

"Aku suka sekali!! Ini sangat spesial! Dan ini ... Jaket, darimana kau tahu kalau aku menginginkan sebuah jaket baru?"

"Aku punya indra keenam!" seru Tay yang tentunya main-main.

"Oohh, coba tebak apa yang ada dipikiranku sekarang?" Niall mengetes kemampuan Tay yang pastinya tidak benar adanya.

"Kau memikirkan aku?" tanya Tay sambil berpura-pura meletakkan kedua ujung telunjuknya di kedua sisi kanan-kiri kepalanya.

"No, Tay! Aku memikirkan Teressa!"

"Dia siapa?" Tay menunjukkan wajah menyesalnya.

"Kekasih baruku!"

"Kau bercanda!"

"Tidak! Ini fotonya!" Niall menunjukkan foto hasil photoshop dirinya dengan Britney Spears sedang selfie berdua.

"Hahahaha, ini bahkan Britney!" Tay terpingkal-pingkal melihat foto yang Niall tunjukkan. Awalnya Tay sudah khawatir.

"Jangan banyak tertawa, sekarang aku Nick akan menyuapimu kue ini!" Niall memainkan tangan Nick seolah-olah Nick yang memegang sendok dan memotong kue hingga potongan kecil.

Saat sampai di mulut Tay, Niall sengaja menorehkan sendok kue ke pipi Tay lewat tangan Nick, alhasil pipi Tay kini banyak butter cream yang menempel.

"Ih Niall nakal!" Tay membalas aksi jahil Niall.

"No! Baby Nick did it!" Niall malah menyalahkan bayinya yang tak mengerti apa-apa.

"Apa saja tak apa kau lakukan, Tay." ucap Niall lembut ketika Tay melukis dengan butter cream di pipi dan dahi Niall.

"Maaf," Tay memberhentikan aksinya setelah mendengar ucapan Niall yang terdengar begitu serius.

"Eh? Bukan begitu," Niall yang tak mau Tay salah persepsi langsung menyanggah.

"Maksudku, aku senang kau memegangi wajahku, eh!" balas Niall yang membuat Tay kembali tersenyum dan kembali melakukan aksi lukisnya di wajah Niall. Kini Niall terlihat seperti sinterklas bayaran yang biasa ada di pusat perbelanjaan ketika natal tiba.

"Sebentar," sebelah tangan Niall yang tidak memegang Nick langsung mencengkram tangan Tay yang sedang memainkan butter cream.

"Kau terlalu asyik sehingga lupa dengan kadoku!" Niall mengingatkan.

"Kado darimu?"

"Ya! Masa' hanya kau yang memberi kado, itu tak adil!"

"Apa kadonya?" tanya Tay mengadahkan tangannya.

"Pejamkan matamu!"

"Aku takut!" Tay ragu dengan permintaan Niall, karena waktu ia masih duduk di bangku SMP ia pernah dijahili ketika temannya menyuruh untuk memejamkan mata.

"Aku tak akan berbuat yang aneh-aneh, serius!" Niall membentuk angka 'v' pada jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Baik." Tay menutup kedua matanya, Niall meletakkan dua buah tiket pesawat di pangkuan Tay.

"Buka!" perintah Niall yang sekarang asyik menciumi Nick.

"Bali? Manila? Tokyo? Kau akan mengajakku jalan-jalan ke Asia?"

Niall mengangguk pasti, lalu Tay loncat-loncat kegirangan. Memang selama ini Tay ingin sekali bisa berangkat ke Asia, karena itu jaraknya sangat jauh dari Inggris. Terutama Bali, Indonesia.

"Eits! Ini honeymoon, Lho. Bukan holiday." Niall menunjukkan wajah nakalnya tapi tetap sambil memainkan Nick.

"Hah? For the second time?" Tay masih tak percaya.



________________

(w/n) yuhuuuu update chapter 31 di tanggal 31. di hari terakhir tahun 2016. okesip.

Pretend a Happy Family (Taylor Swift and Niall Horan)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang