Chapter 33 : Is she sick?

510 46 12
                                    

Author's POV

Matahari sudah terbit di ufuk timur dan siap menerangi kehidupan dunia. Niall sudah siap dengan seragam kerja dan tas kerja sejak matahari belum menampakkan dirinya, sekarang Niall akan berangkat kerja, namun sebelum itu ia akan berpamitan dengan Tay yang masih terlelap dalam tidur cantiknya. Hal ini menjadi rutinitas Niall setelah bulan madu waktu itu, mereka sekarang benar-benar pasangan.

"Aku berangkat ya, Tay, Nick." Niall merapikan selimut yang dipakai Nick dan Tay.

* * *

Di kantor, Niall hari ini sangat berbeda. Ia tak bersemangat seperti hari-hari lainnya. Terdapat perasaan ingin segera bertemu Tay dan Nick di rumah. Entah mengapa tingkat kecemasan Niall sudah pada puncaknya, memang aneh, bahkan tadi Tay terlihat baik-baik saja, dan Nick juga masih bayi sehat yang kini sudah bisa berjalan meski harus sesekali dituntun. 

Hampir semua karyawan yang mengumpulkan proposal dan dokumen ke ruangan Niall menyadari kemurungan Niall, karena Niall lebih sering termenung dan kurang mendengar perkataan mereka.

Berbeda dengan Niall yang sedari tadi memasang wajah tidak bahagia, Tay justru sedang pesta makan di rumah. Tanpa mengundang siapa pun. Maksudnya adalah dia makan besar hari ini. Setelah tadi mengurus Nick, ia langsung memesan pizza, kentang goreng, burger ukuran besar, beberapa gelas soft drink dan ice cream. Ini adalah hal ganjil untuk orang seperti Tay. Biasanya Tay malah paling susah untuk makan, tapi hari ini semua yang ada di depannya akan dilahap, walau belum tentu dilahap habis. Tetap saja ini masih ganjil.

* * *

Pada sore hari, Taylor masih juga merasa kelaparan. Sejujurnya sudah banyak kalori disantapnya hari ini, tapi nafsu makannya kali ini sangat tak bisa ditahan lagi. Maka ia memutuskan untuk memesan beberapa makanan manis untuk penutup makan besarnya hari ini.

[ O N THE P H O N E]

Niall : Hello, sweetie!

Tay : Hello, Ni. Boleh aku minta beberapa makanan untuk kau bawa saat pulang?

Niall : Ya, mengapa tidak?

Tay : Oke, lebih baik sekarang kau siapkan secarik kertas dan pulpen.

Niall : Sebanyak itu kah?

Tay : Sudah jalani saja, aku lapar Ni!

Niall : Baik, apa saja?

Tay : Aku mau Cheesecake, pie apel, pie susu, cereal, mexican bun, dan es krim.

Niall : Astaga, banyak sekali. Kau mengundang teman-temanmu ke rumah?

Tay : Tidak, sudah jangan banyak tanya lagi, Ni. Bye!

[ END T H E P H O N E]

Niall yang seharian ini termenung, kini pikirannya campur aduk.

sesuatu terjadi pada Tay, sudah kuduga. Itu mengapa sejak tadi aku khawatir- pikir Niall.

Meski rasa bingung melanda dirinya, itu tak mengurungkan niat Niall untuk membelikan apa yang Tay inginkan. Baginya, apapun yang Tay inginkan adalah prioritasnya. Ia selalu ingin menjadi orang terbaik untuk Tay.

Saat sampai di rumah, Niall semakin bingung melihat Tay yang langsung menyambut makanan yang Niall beli, bukan menyambut Niall. Rasa lapar yang Tay rasakan seperti sudah tak makan selama setahun, menurutnya. Memang sangat berlebihan. Niall hanya menghembuskan napas atas perilaku Tay lalu mulai bermain dengan Nick yang sedang duduk di sofa sambil menonton channel televisi khusus bayi.

Ketika tengah asyik melahap roti meksiko, Tay muntah-muntah. Niall langsung menengok ke arah Tay. Wanita itu segera berlari ke arah kamar mandi, sudah tak kuat ingin muntah dan mengeluarkan makanan-makanan yang baru setengah tercerna oleh tubuh.

Niall menggendong Nick, lalu berlari juga ke kamar mandi. Ia sangat cemas dengan Tay. Yang kini Tay rasakan adalah mual. Ia tak tahu mengapa rasa lapar itu secara mendadak berubah menjadi rasa mual yang tak dapat dikontrol.

"Tay, ada apa denganmu?" Niall masuk ke kamar mandi yang memang tak ditutup oleh Tay.

"Aku tak tahu, aku sepertinya sakit, aku mau memuntahkan semua yang kumakan!" kini Tay sebal dan membasuh wajahnya dengan air terus menerus.

"Kau sudah makan banyak ya?" tanya Niall menyentuh pundak Tay setidaknya agar Tay tak marah.

"I-iya ..." jawabnya agak terbata, lalu dilanjutkan dengan muntah-muntah lagi.

"Baik, sekarang lebih baik kita ke klinik dan membeli obat mual," ajak Niall sembari sebelah tangan yang tak dipakai untuk menggendong ia pakai untuk menarik tangan Tay.

 * * *

Jantung Niall tak dapat berhenti berdegup kencang, sejak pagi ia sudah mengkhawatirkan Tay dan sekarang ternyata benar. Sesuatu terjadi pada Tay. Niall terus berdoa di ruang tunggu, berharap agar tak ada sesuatu yang buruk menimpa Tay. Ia tak mau Tay sakit. 

Beberapa menit kemudian akhirnya dokter yang memeriksa Tay keluar dari ruangan dan berancang-ancang untuk berbicara dengan Niall.

"Jadi ada apa dengan istri saya, dok?" tanya Niall gugup.

"Selamat! Istri Anda tidak sakit, ia hanya mengalami hal yang biasa dialami wanita hamil di trimester awal,"

"Hamil?" Niall kaget, senang, tak percaya. Semua teraduk. Ia sangat bahagia lebih tepatnya.

Mulut Niall masih terbuka. Dia tak dapat berkata apa-apa lagi. Ini adalah hal yang paling mendebarkan dan berita terbaik dalam hidupnya. 

"Iya, ini baru bulan awal kehamilannya. Saya belum beritahu ini pada istri Anda, tapi lebih baik Anda yang beritahu, ini akan sangat menyenangkan!" usul si dokter membuat Niall menyunggingkan senyum manisnya, yang kni tak terlihat kekanakkan seperti dahulu lagi.

Akhirnya, Tay keluar dari ruangan dengan wajah sebal.

"Ayo pulang, sepertinya aku tak sakit, dokter malah langsung keluar dari ruangan meninggalkanku," kecewa Tay.

"Calm down, sweetie. Kau itu memang tak sakit, tapi kau hamil!" seru Niall dengan wajah sumringah.

"Apa?" Tay membulatkan matanya lalu memeluk Niall dan Nick secara bersamaan.

"Aku tak menyangka akan punya anak!" sorak Tay, si dokter hanya menggeleng, senyum, lalu meninggalkan keluarga kecil yang bahagia ini.

"Nick juga anakmu, jangan pernah lupakan itu!"

"Astaga! Maafkan Mama Tay! Maksudku, kita akan beri adik untuk Nick!" 

"Iya! Aku juga tak menyangka, Tay. Ternyata benar ya apa kataku dahulu, aku akan punya anak denganmu,"

"Jadi, kau sudah rencanakan semua ini? Aaaak kau ini ya!" canda Tay lalu mencubit perut Niall.

"Aww! Oh ya, lebih baik ayo sekarang beritahu kabar bahagia ini pada nenek, ibu, ayah, dan keluarga besar kita!"

"Ayo!"

Pretend a Happy Family (Taylor Swift and Niall Horan)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang