New Neighbor

312 44 14
                                        

Dengan cepat Julieta bergegas ke kamar mandi. Menyalakan shower sebentar, mencuci mukanya, menggulung rambutnya, dan melepas semua pakaian yang melekat lalu melilitkan handuk pada tubuhnya. Pakaiannya yang dipakai tadi dia sembunyikan ke kolong ranjang.

Julieta tersenyum miring melihat kenop pintu bergerak, pasti papinya sedang membuka pintu untuk membuktikan pada Paradina bahwa Julieta juga dikurung.

Pintu terbuka dan Julieta pura-pura mencari pakaian di lemari. "Eh? Ada apa?"

Paradina melebarkan mata melihat Julieta baru selesai mandi, sedangkan Cancero menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang Paradina dengan tatapan kesal.

Masih dengan wajah kagetnya, Paradina menukas, "Gue yakin pasti lo yang ngeledek gue di luar tadi 'kan?! Iya 'kan!!"

"Ngeledek? Di luar?" Juli pura-pura bingung. "Oh... bener tuh, gue yang ngeledek lo."

Cancero melipat kedua tangan di depan dada dengan lirikan bak elang.

"Tuh 'kan Papi, apa yang aku bil—" seruan Paradina terpotong oleh Julieta.

"Tapi dalem mimpi, tadi malem," Julieta nyengir iseng.

Paradina skakmat. Dia sungguh malu sekaligus dongkol, yang dilihatnya barusan benar-benar Julieta. "Ta-tapi Pi—"

Cancero menjentikkan jari telunjuk di depan Paradina, tanda agar Paradina berhenti bicara. "Cukup, Papi nggak percaya kalo kamu nuduh tanpa bukti."

Kepala Paradina bergerak ke arah sana dan kemari, mencari-cari bukti bahwa Julieta baru saja sampai di sini. Matanya terpusat pada kalung tali yang tergeletak di ranjang. Tanpa banyak bertanya lagi, dia mengambil kalung itu. Paradina kira itu adalah kunci tapi ternyata cincin.

"Umm ... itu kalung cincin gue mau lo apain?" tanya Julieta polos.

Paradina menatap Julieta dengan benci. Cewek beramput pirang itu melempar kalung itu ke Julieta dan dengan sigap ia tangkap, setelah itu dia pergi kembali ke kamarnya. Cancero memandang kepergian Paradina yang diekori Erdogan, lalu menatap Julieta bersama senyuman yang sulit ditebak.

"Kenapa senyum Papi kayak gitu? Apa aku salah?" tanya Julieta polos.

"Gapapa, Papi cuma seneng aja anak kesayangan Papi pinter banget," pujinya sambil melangkah mendekati anak kesayangannya.

"Pinter apa dulu nih?"

"Pinter ngibulin orang." Cancero mencubit kedua pipi Juli dengan gemas lalu mencium keningnya dengan sayang. "Oh iya, besok tetangga baru udah dateng, kamu bantuin mereka, ya?"

"Sip deh, Bos."

***

"Hai, boleh aku bantuin?" tawar seorang cewek di halaman depan. Romero mendengarnya saat sedang menaiki tangga sambil membawa kardus besar miliknya.

"Boleh banget dong," jawab mamanya Romero di luar sana.

Dia membuka pintu menggunakan punggungnya dan menaruh sembarang kardus itu. Romero mengembus napas lelah. Pekerjaannya memindahkan semua barang-barang ke kamarnya telah selesai dan tinggal dirapikan.

Ponsel Romero bergetar di dalam saku. Dia merogoh dan melihat nama Isyana tertera di sana. Isyana menelponnya. "Halo, Sya, kenapa?" tanya Romero, dia sudah yakin untuk bertanya kenapa mengingat Isyana hanya akan menelponnya ketika sedang sedih.

Terdengar isakkan dari seberang sana. "Maaf, ya, Ro, gue nggak bisa bantuin beres-beres di sana."

"Gapapa. Lo kenapa? Sammy ngapain lo?" tanya Romero tanpa khawatir sedikitpun. Dia yakin yang ditangisinya sekarang adalah kakaknya itu.

Romeo-nya JulietCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang