Sebisa mungkin Julieta menyesuaikan langkahnya dengan Romero. Tapi tetap saja tidak bisa. Tinggi Julieta yang hanya sebatas bahu Romero tentu tak akan bisa menyamai langkah Romero yang terbilang cukup panjang. Julieta kewalahan.
"Romeo, kok tiba-tiba narik aku sih?" Julieta mengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Romero, tapi itu percuma karena Romero bergerak cukup cepat tak dapat mampu berbicara ataupun memperlambat jalan.
Romero membukakan pintu untuk Julieta kemudian memerintahkan Julieta untuk masuk. Tak mau menanggung resiko dimarahi akhirnya Julieta menuruti Romero. Tak lama, Romero masuk dan duduk di bangku kemudi, kemudian menjalankan mobilnya.
"Romeo?" Julieta dibuat penasaran dan meminta penjelasan.
Sambil mengendarai mobilnya meninggalkan kafe, Romero menjawab, "Gapapa."
Julieta menatap wajah Romero di sampingnya. "Katanya mau pulang tapi kok malah narik aku pergi?"
"Nggak jadi."
"Kenapa?"
"Bawel."
"Ish." Julieta melipat kedua tangannya di depan dada. "Padahal aku nggak sempet makan pesenan aku tadi."
"Terus?" Romero menambahkan, "Jangan jawab nabrak."
Julieta terkekeh. "Nabrak," jawabnya iseng. "Romeo gantiin pokoknya."
"Gue bawa ke kedai es krim."
"Romeo nggak mau nanya aku dulu gitu aku mau apa nggak?"
"Cewek kalo ditanya pasti jawabnya terserah."
"Terus kenapa nggak ngomong 'kita ke kedai es krim' aja gitu? 'Kan lebih enak didenger."
"Gue nggak suka kata 'kita'."
"Oh."
Sunyi menelusup keduanya.
Julieta teringat lagi ketika Romero menarik tangannya. Kemudian dia melihat tangan yang tadi digenggam oleh Romero dengan senyum semringah. "Kayaknya aku nggak bakal mandi berhari-hari deh."
Romero meliriknya sekilas. Dahinya sedikit berkerut.
"Ini pertama kalinya Romeo megang tangan aku," ucap Julieta dengan bahagia sambil memeluk tangannya sendiri. "Kalo perlu aku bungkus tangan aku pake kantong plastik."
Sadar, seakan-akan jijik, Romero mengelap telapak tangannya di celananya beberapa kali. Hal itu membuat Julieta tertawa. Romero memasang wajah bete.
Mereka sampai di kedai es krim langganan Romero. Selama Romero membeli es krim untuk Julieta dan dirinya, Julieta memainkan smartphone dan menggulir-gulirkan layar di aplikasi Instagram.
"Nih," Romero menyodorkan es krim stik rasa nanas.
Julieta memangku smartphone-nya lalu membuka bungkus es krim. Es krim berwarna kuning itu menyulurkan uap-uap dingin dan Julieta tertarik untuk memotretnya nanti. Dia melihat Romero yang sudah memakan separuh es krim yang sama sambil mengangkat satu kakinya ke lantai bagasi mobil.
Iya, Romero lebih memilih makan di luar dan menjadikan bagasi mobilnya sebagai tempat duduk, dia tidak suka keramaian.
"Romeo cuma beli dua?" tanya Julieta.
"Ngirit."
"Aku kurang kalo cuma makan satu."
"Beli sendiri."
"Pelit."
"Oh."
Kalau kalian jadi Julieta gimana rasanya? Kesel kesel greget gimana gitu? Kalau iya, berarti sama seperti Julieta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romeo-nya Juliet
Teen FictionMerupakan hal yang menjengkelkan bukan? Jika kamu diganggu oleh cewek ekstrover yang hiperaktif sekaligus suka menggoda banyak cowok dan penyandang nama playgirl, meskipun berparas sangat cantik. Jika 'ya', berarti kamu termasuk introver dan kamu se...
