Deru mesin mobil memecah kesunyian subuh itu. Semua orang yang terlelap di rumah pemberhentiannya terbangun dan menyambut kedatangannya di depan rumah, terkecuali dua insan yang seharusnya saling menyatu namun saling bertentangan. Ya, Romeo dan Juliet a.k.a Romero dan Julieta.
"Datengnya pagi banget, Yah?" tanya Sammy dengan mata terkejap-kejap masih mengantuk.
Pintu mobil berdebum menutup. "Papa cepet ke sini karena denger Mero diskors gara-gara berantem."
"Papa tau dari mana?" tanya Arina.
"Tau dari Fero, Fero tau dari Angga," jawab Om Fio. Fero yang dimaksudnya adalah kakak Fio, sedangkan Angga itu anak kedua Fero yang artinya keponakannya Fio dan sepupunya Sammy dan Romero.
Sammy mendengus kesal. "Oh, Angga Kassafa Rengga si bigos itu." Sammy sangat mengenal Angga. Walau berbeda kelas, tapi Angga terkenal di kelas dua belas berkat hobi kesukaannya yaitu ngegosip. Dan bigos itu sudah menjadi kata mutlak di nama belakang Angga, karena dialah gosip dari segala gosip atau biang gosip yang disingkat menjadi bigos. Lalu nama Angga pun bertambah menjadi Angga Kassafa Rengga Bigosah.
Aneh memang kenapa cowok suka menggosip, tapi memang itu realitanya. Jadi, ketika kalian mendengar nama Angga maka terlintaslah satu kata di kepala kalian, 'bigos'.
"Bigos bigos juga itu sepupu kamu," kata Fio balas ejekan Sammy. Pria itu memasuki rumah dan diikuti Arina dan Sammy.
"Mana Mero? Papa mau ngomong masalah skors itu," tanya Fio bersuara tegas.
"Ssttt, jangan berisik, Juli tidur di sini, di kamar sebelah Mero," kata Tante Arina.
"Oh," tanggap Om Fio datar dan berlalu ke kamarnya.
***
Ketika melangkah keluar ke teras, matanya menangkap sosok cowok di dalam mobil BMW putih. Cowok itu Romero.
Tadi saat sarapan, Fio meminta Julieta untuk berangkat dengan diantar Romero. Kata Fio daripada Romero nganggur nggak jelas di rumah mendingan mengantar Julieta ke sekolah, karena biasanya dia berangkat dengan Sammy. Dan katanya, Fio juga sengaja nyuruh Romero yang mengantar agar anaknya itu bisa dekat dengan Julieta. Ah, itu hanya sebuah harapan berekspektasi Fio saja, mana mungkin Romero dan Julieta bisa dekat?
Julieta menghampiri mobil putih itu dan membuka pintu. "Pagi ... Romeo," sapanya riang sambil menduduki bangku di sebelah Romero.
Tak ada jawaban. Hanya sebuah lirikan mata yang tak sampai bertempo tiga detik.
Setelah Julieta memakai seat belt, Romero menjalankan mobilnya.
Selama perjalanan, Julieta hanya sibuk dengan smartphone-nya dan itu terlihat tidak biasa bagi Romero. Biasanya dia akan mendengar berjuta celotehan dari bibir Julieta, tapi ini hanya sunyi yang ada di antara mereka, dan Romero jadi merasa ada yang kurang.
Beberapa kali Romero mencuri-curi pandang ke Julieta, mencari bahan obrolan saat akan mencapai sekolah. Dan Romero menemukan satu hal yang bisa dijadikannya bahan obrolan.
"Itu dasi sekolah apa bando sih? Pakenya di kepala," kata Romero yang fokus ke jalan di depannya.
Julieta menatap Romero dan memegang benda yang dijadikannya bando itu sambil tersenyum. "Ini dasi. Abis udah mainstream make bando. Aku juga nggak bisa make dasi."
"Hm," Romero hanya menyautinya dengan deheman.
Mobil putih itu sebelah trotoar yang berdekatan dengan pintu gerbang SMA. Julieta pun langsung membuka pintu dan melangkah keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romeo-nya Juliet
Teen FictionMerupakan hal yang menjengkelkan bukan? Jika kamu diganggu oleh cewek ekstrover yang hiperaktif sekaligus suka menggoda banyak cowok dan penyandang nama playgirl, meskipun berparas sangat cantik. Jika 'ya', berarti kamu termasuk introver dan kamu se...
