Everything change - 2 (Julieta PoV)

158 21 0
                                        

Satu demi satu, orang-orang yang membawaku ke sini dan penasaran apa yang terjadi pada diriku mulai berhamburan kembali ke kelas masing-masing. Tersisa satu orang yang masih setia memijat kepala serta pelipisku untuk meringankan rasa pusing dan sakit.

"Udahan aja, Kak. Kepala Juli tetap berasa pusing," pintaku menghentikan kegiatan memijatnya. "Kakak masuk ke kelas aja, 'kan jam istirahat udah abis dari tadi."

"Gapapa, kelas gue lagi free," kata Isyana. "Gue coba telepon Mero lagi deh, biar lo bisa langsung istirahat."

"Iya, Kak."

Isyana sangat baik. Pantas saja Romero sangat sayang dengannya. Dan melakukan apapun agar Isyana jangan sampai bersedih. Isyana yang beruntung, memiliki keluarga yang menyayanginya. Sedangkan aku apa? Paradina yang tadi kepohin kondisiku setelah pingsan malah memilih pergi dari UKS dan masuk ke kelas. Kakak yang jahat.

"Aduh, Mero nggak ngangkat teleponnya juga, ke mana sih tuh orang," desis Isyana kesal. "Padahal sedetik pun dia nggak pernah bisa yang namanya nggak megang hape." Isyana kembali menempelkan layar ponselnya ke telinga. "Telepon rumah juga nggak ada yang ngangkat."

"Tante Arina," kataku memintanya menelepon mamanya Romero.

Isyana menyetujui kataku. Lalu dia kembali mengeluh, "Aduh, malah nggak aktif. Pada ke mana sih mereka? Heran deh."

"Mungkin mereka lagi pergi. Aku pulang naik taksi aja kali, ya?" tanyaku menerawang.

"Naik taksi?" tampaknya Isyana tak setuju dengan ide itu.

"Iya Kak, biar aku bisa cepet istirahat sembari nunggu mereka pulang."

Isyana berpikir sebentar, memutuskan sesuatu. "Ya udahlah, kasian lo udah lemes banget. Gue pesenin taksi dulu, ya, nanti gue nganter lo sampai gerbang." Isyana mengotak-ngatik ponsel dan kembali menempelkan ke telinga.

Sembari menunggu, aku merapikan diri yang agak berantakan karena pingsan tadi. Sungguh, ternyata yang namanya pingsan itu nggak enak. Apalagi nggak enaknya itu saat suhu tubuh sangat panas disertai pusing. Rasanya kepingin pingsan lagi.

"Taksinya udah di depan, ayo."

Isyana membantuku untuk bangun, lalu memegang kedua bahu dan menuntunku hingga ke depan gerbang. Ketika mencapai pelataran parkir, bu Dena menghentikan kami.

"Kalian mau ke mana?" tanyanya dengan kedua tangan di pinggang.

"Saya mau nganter Juli ke depan doang, Bu, ya elah. Saya nggak bakal kabur. Nih, hape saya sebagai jaminan seandainya saya bener-bener kabur," kata Isyana sarkas sekaligus kesal sembari memberikan ponselnya.

Bu Dena memang gitu orangnya, suka negative thinking, kalau nggak ada benda yang bisa jadi jaminan dia nggak akan bisa percaya.

"Ya udah sana, saya liatin dari sini," kata bu Dena.

"Ih, Bu De tua. Tukang marah terus curigaan mulu sih," desisku tak senang.

"Biarin," tanggapnya sesantai mungkin, bahasanya bahasa remaja labil pula. Memang sih dia hanya berbeda 6 tahun denganku, jadi masih bisa terbilang muda dan masih labil.

Benar yang dikatakan Isyana, taksi pesanannya sudah menunggu di depan gerbang. Aku langsung memasuki taksi, sedangkan Isyana menyebutkan alamat serta ongkosnya.

"GWS, ya, Jul," kata Isyana sebelum taksi membawaku pulang ke rumah.

***

Sudah kukatakan 'kan sebelumnya kalau aku pulang ke rumah. Memang, aku benar-benar pulang ke rumahku sendiri. Tante Arina dan Romero masih belum pulang juga.

Romeo-nya JulietCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang