Flashback
Yoga POV
"Yog, kita putus. "
Kata-kata yang kau ucapkan begitu remehnya. kau pandang remeh hubungan kita. Aku tak tahu jika “terbiasa sendiri” akan jadi lebih menakutkan daripada apapun. Aku tak mengenali hatimu, hingga akhirnya kau mengucapkan kata perpisahan padaku. Hari berganti, ruang kosong yang kau tinggalkan bertambah besar. Tapi sekalipun kita bersama, aku tahu kalau hatimu bukanlah untuk ku.
Taman belakang sekolah ini menjadi saksi bisu kebahagianku sekaligus rasa kekecewaan akan kisah cintaku. Mungkin Tuhan memang benar-benar sudah membuat skenario yang sulit untuk kisah cintaku.Ternyata dia tidak mencintaiku, melainkan sahabatnya yang sudah sejak lama suka padaku. Dia Berlin, gadis yang sudah ku anggap sebagai adikku walaupun umur kita sama. Setidaknya aku lebih tua 5 bulan darinya.
Setelah uci meminta putus dengan ku. Aku hanya membiarkannya pergi begitu saja. Aku mengerti alasannya itu cukup bijak dalam membuat keputusan.
Tiba-tiba ada yang menarik bajuku dengan kasar dari belakang, otomatis aku hampir terjungkal.
"Eh lo?"Aku tersadar ternyata yang dihadapanku adalah Davin ia mencengkram kerah bajuku kuat. Aku balik memegang kerah bajunya tak kalah kuat darinya.
"lu jangan ngebuat berlin sedih lagi kalau lu gamau tangan lu patah hari ini juga. " Ancam davin. Mendengar nama berlin disebut Yoga mengedurkan cengkramannya. Davin bingung, tapi ia tetap mencengkram kerah baju yoga.
"Berlin? Berlin dimana?gue mau ngomong sama dia"
"Ck. Dia udah pulang barusan, gue ga akan ngebiarin lu pergi sebelum lu janji ke gua kalau lu gabakal ngebuat berlin sedih lagi." Yoga tetap enggan menjawab pertanyaan davin. ia malah mendorong davin dan pergi meninggalkan davin yang sudah terduduk di tanah.
Flashback off
***
@Taman Buana
Berlin dan davin sudah kembali dari membeli minuman. Mereka langsung menghampiri shellyn dan uci yang sedang duduk di tepi danau buatan.
Mereka berempat berbincang-bincang layaknya remaja normal pada umumnya. Senyuman terus mengembang seperti tak terjadi masalah yang menimpa mereka akhir-akhir ini.
"Ih, gue laper nih. "celetuk shellyn.
"Sama gue juga. " Timpal Davin.
"Tumben kalian kompak, ada apa nih? " Davin dan shellyn yng mendengar itu langsung saling tatap dan mengernyitkan dahi masing-masing.
Tiba-tiba davin ingat sesuatu. Davin tau kalau ini kesempatan dia buat ngebiarin berlin ngomong berdua sama uci. "Shellyn, temenin gua beli cemilan di depan yuuk. "Ajak Davin yang langsung di iyakan shellyn. Kemudian mereka pergi dan meninggalkan berlin dan uci berdua.
"Uci? " seru berlin di tengah keheningan. Uci tertegun beberapa detik mendengar panggilan berlin. Tak lama uci menjawab "iya" sambil menautkan jari-jarinya.
"Tentang masalah itu, mungkin ini salah gue karena gue ga mau ngedenger penjelasan dari lu. Tapi gue tau kalau lu salah satu sahabat setia yang gue punya. "
"Maksudnya?"
"Davin udah cerita ke gue tentang hubungan lu sama yoga. Dan gue tau kalau ini hanya kesalapahaman belaka. "
"Ini bukan salah lu kok. Ini salah gua karena gue udah nerima cinta dari gebetan sahabat gue sendiri. Tapi gue ga bermaksud mengkhianati lu kok lin. "
"Iya gue tau. Gue juga udah ikhlas kok kalau lu sama Yoga lagi. Gue juga mau memulai hidup gue dari awal. Minggu depan bokap gue dipindah tugaskan ke Bali, jadi gue akan tinggal disana. "
"Maksud lu, lu mau pindah rumah sekaligus sekolah? Trus persahabatan kita gimana? "
"iya gue mau pindah. Tenang aja kita masih bisa chattan kok. Lagi pula persahabatan kita ga akan gue biarin hancur begitu aja. Karena persahabatan ini udah banyak beri kita kenangan baik suka maupun duka. Bahkan ada pengorbanan juga di dalamnya.
"Hiks... hiks...Berlin lu Yakin? Itu bohong kan, semua ga bener."
"Maaf, ci. Tapi itu emang bener gue harus pindah. "
"Hiks... Hiks... Hiks..."Tangisan uci semakin menjadi-jadi.
" Tapi Nanti kalau kita udah pada lulus gue bakal ngadain reunian khusus buat persahabatan kita yang ga akan pernah gue lupain selamanya. "
"Janji! "Ujar Uci sesenggukan.
"Persahabatan kita akan selalu abadi. Janji." Berlin dan Uci saling menautkan jari kelingking mereka masing-masing kemudian mereka saling berpelukan.
••••
Berlin POV
Kini aku sedang duduk di salah satu cafe yang ada di Jakarta. Posisi ku cukup strategis apabila dilihat dari pintu masuk. Di sini aku sedang menunggu kedatangan seseorang. Dia sudah berjanji akan menemuiku di tempat ini.
Sambil menunggu kedatangannya aku memesan Iced Americano ke Waiters yang datang ke arah meja ku.
Hampir 15 menit aku menunggu disini. Dan Seseorang yang ku tunggu- tunggu akhirnya datang juga. Ia memperlihatkan senyuman manisnya padaku. Aku pun membalas senyuman manis itu.
"lu udah mesen makanan? " Tanyanya padaku. "Belum."Ujarku. Jujur saja aku belum makan siang hari ini. Aku hanya baru memesan minuman saja. Padahal perut ini sudah mengeluarkan bunyi khas layaknya orang kelaparan. Lagi pula tidak enak kan memesan makanan duluan.
"Gue pesenin ya. "Ujarnya.
"Nanti aja, lu juga baru sampae kan."Ujarku pada Yoga. Entah kenapa dia bersikap manis padaku sejak kemarin.
"Please jangan bikin baper. "batinku.
-
-
TBC
Hoi.. Hoi.. Hoi..., tara udah updet lagi nih ceritanya. Seru ga? Kalau ga seru sih gapapa. Bentar lagi udah mau end nih, tunggu aja ya...!!
Don't forget to vote & comment, please. 😁
KAMU SEDANG MEMBACA
Impossible Love
Dla nastolatkówMungkin aku terlalu bertindak kejauhan padamu.Mungkin aku terlalu obsesi padamu. Mungkin aku terlalu menyukaimu atau mencintaimu. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi. Because it is "IMPOSSIBLE LOVE"
