Chapter 14 || The Dark Side ||

310 29 0
                                    

Sudah satu jam lamanya Aness berdiri di depan pohon besar, pohon oak yang menjadi saksi bisu tewasnya William. Sepupunya yang sangat ia sayangi. Aness belum mau beranjak dari tempatnya. Entah sudah berapa pelayan atau pengawal yang menc­oba mengajak Tuan Putri mereka untuk masuk ke dalam atas perintah orangtuanya, tapi tak ada yang didengarkan oleh perempuan itu.

Teriknya matahari tidak membuat dirinya pergi dari tempat itu. Pohon besar itu terus dipandanginya. Matanya hanya tertuju ke sana. Otaknya terus memutar pengalaman yang pernah ia lakukan bersama William. Terlahir sebagai anak satu-satunya membuat Aness merasa kesepian. Namun, rasa sepinya hilang saat William datang bersama Douglas, menemani hari-hari Aness supaya lebih berwarna. Bermain petak umpat, makan kue kering buatan Mina atau hanya sekadar berlari-larian menyelusuri kastil kerajaan Valletta.

Semilir angin membuat rambut panjang Aness sedikit berantakan, tapi itu sama sekali tidak mengganggunya. Aness bahkan tidak repot-repot merapikan rambutnya. Tubuh Aness memang berdiri di sana, tapi jiwanya menghilang entah ke mana. Dirinya terhanyut dalam kenangannya sendiri.

Sementara itu, seorang pria memperhatikan Aness dari pinggir luasnya taman belakang kastil Valletta. Matanya belum beranjak dari perempuan itu sejak dirinya sampai ke sana. Pria itu mencekal tangan pelayan yang baru saja melewatinya. "Apa yang dia lakukan di sana?" Tanyanya.

Pelayan itu tampak gugup mendengar pertanyaan pria berambut pirang. Perasaan ragu hinggap saat ingin menjawab pertanyaannya. Pelayan itu jelas tahu apa yang dilakukan Tuan Putrinya di sana. Namun, dia tidak ingin menjawabnya. Rasa penyesalan masih mendominasi dirinya.

Pelayan itu akhirnya menggeleng lemah. Tubuhnya membungkuk pada pria di depannya. "Aku harus pergi, Pangeran Jason." Ucapnya lalu pergi dari hadapannya.

Jason hanya menatap punggung pelayan yang pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya. Meninggalkan ekspresi bingung di wajahnya. Senyum Jason mengembang saat dirinya mengingat Vincent Sinclair. Bukankah perempuan di depan sana adalah adik dari Vincent Sinclair? Mantan kepala pengawal yang dipecat secara tidak hormat oleh keluarganya karena satu kesalahan. Namun, Jason masih bingung. Sebenarnya apa yang dilakukan perempuan itu di kerajaan Valletta. Apa urusannya di sini? Bukankah dia hanya vampire biasa?

Jason berdiri di samping Aness, menatap Aness yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya. Jason mencoba berdiri di depannya, tapi Aness juga masih terdiam di tempatnya. Matanya memang menatap ke arahnya, tapi Aness memang tidak melihatnya.

Tangan Jason bergerak di hadapan wajah Aness, mengibas-ngibas udara. Jason mengernyit karena tindakannya sama sekali tidak direspon. Dirinya merasa seperti sedang berhadapan dengan patung. Menatapnya, tapi tidak melihatnya.

Tubuh Aness tersentak saat Jason memegang pundak Aness dengan tiba-tiba. Membuat perempuan itu menatap Jason dengan pandangan menusuknya. Jason meneguk ludahnya melihat tatapan bagai laser oleh Aness. Baru pertama kali ini dirinya takut ditatap perempuan selain ibunya.

Tanpa minta izin terlebih dahulu, Aness melangkahkan kakinya meninggalkan Jason yang masih terpaku di tempatnya. Jujur saja, Jason takut ditatap seperti itu oleh Aness. Tatapan Aness seperti tatapan iblis bagi Jason. Walaupun sebenarnya Jason belum pernah melihat iblis secara langsung. Ia hanya pernah mendengar cerita tentang iblis dari ayahnya. Yang entah kejadian nyata atau hanya karangan kerajaannya saja.

***TheUnknownPrincess***

Makan malam telah disiapkan oleh pelayan. Kali ini, makan malam yang dilakukan tidak seperti biasanya. Makan malam kali ini adalah makan malam kerajaan Valleta bersama sang Putri, setelah sekian lamanya pewaris tahta tidak ikut di dalamnya.

The Unknown Princess (On Hold)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang