Chapter 16 || The Alpha's Mate? ||

383 35 3
                                    

Suasana hening kembali mememuhi ruang makan. Max, Rosetta, Serena, Romero, dan Vincent duduk di kursi makan yang berdekatan. Berbeda dengan Aness, perempuan itu masih setia duduk dengan jarak yang jauh.

Sesekali Rosetta melirik Aness yang sedang makan. Senyuman menghiasi wajahnya saat melihat Aness yang menyingkirkan brokoli di piringnya. Puterinya masih sama seperti dulu, sangat membenci brokoli.

Rosetta ingat saat dirinya memaksa Aness untuk memakan brokoli, karena brokoli itu sehat, tapi Aness tetap tidak mau. Walaupun Rosetta menjanjikan apapun yang Aness inginkan akan diberikan, asal puterinya mau makan brokoli. Namun, apa yang didapat Rosetta? Aness malah menangis hingga sesenggukkan.

Max yang melihat istrinya tersenyum sendiri merasa heran. Matanya lalu menatap Aness yang masih setia menyingkirkan brokolinya. Senyuman ikut terukir di wajah Max. Ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan istrinya.

Sepuluh menit berlalu, makan malam selesai. Beberapa pelayan datang dengan membawa cawan berwarna emas. Cawan yang isinya cairan berwarna merah pekat. Malam ini adalah waktunya mereka meminum darah.

Aness menatap kosong cawan emas di depannya, hidungnya mengendus darah apa yang ada di dalamnya. Tak lama keningnya mengernyit begitu tahu darah apa. Aness langsung berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata, meninggalkan banyak pertanyaan oleh semua yang ada di ruang makan.

"Dia tidak menyukai darah beruang," Vincent menjawab pertanyaan yang dipikirkan oleh semuanya.

Max mengangguk paham.

Saat puterinya masih berusia tujuh tahun, puterinya belum menjadi vampire dan Max menyesal tidak ada saat perubahan puterinya tepat di usianya yang kedelapan belas tahun. Begitu juga Rosetta. Dirinya menyesal karena tidak ada saat perubahan Aness. Tidak tahu apa darah favoritnya.

"Apa kesukaannya?" Tanya Serena.

"Darah kijang, Yang Mulia," jawab Vincent.

Max mengintruksi pengawal yang berdiri di dekatnya supaya mengikuti kemana puterinya pergi. Pengawal itu mengangguk dan langsung menjalankan perintahnya.

Max meminta Romero dan Vincent untuk meminum darah beruang yang telah disiapkan oleh pelayan. Romero langsung meneguk darah yang ada di cawan emasnya. Bagi Romero rasanya menakjubkan. Ini adalah pertama kali Romero meminum darah beruang.

Pengawal yang tadi di perintahkan Max untuk mengikuti Aness kembali dengan wajah takutnya. "Ma-af Raja," ucapnya dengan menunduk. "Putri Emerald tidak ingin diikuti," sambungnya.

Max mendesah kecewa. "Baiklah, kumaafkan. Sekarang pergilah," pelayan itu mengangguk lalu membungkuk, kembali ke posisinya tadi.

Rosetta mengelus tangan Max, mencoba membuatnya tenang. "Tenang saja. Dia perempuan yang kuat, dia pasti bisa jaga diri."

***TheUnknownPrincess***

Aness berjalan tanpa arah setelah melewati gerbang utama kerajaan Valletta. Kakinya terus melangkah hingga memasuki hutan lebih dalam. Jujur saja, dirinya tidak terlalu tahu dengan seluk-beluk hutan di sini. Sewaktu kecil, Aness belum pernah keluar dari kastil. Tidak heran jika dirinya tidak tahu.

Aness hanya ingin menikmati udara segar di luar kastil. Dirinya sedang tidak ingin melihat orangtuanya. Namun, disatu sisi, ada sebagian kecil dirinya yang merindukan orangtuanya. Perasaan rindunya semakin membuncah saat ibunya memeluk Aness dengan erat.

"Kenapa sangat susah membenci apa yang dulu pernah kucintai?" Aness bergumam.

Entah sudah berapa lama Aness berjalan. Aness membiarkan kakinya membawa kemana ia ingin pergi. Aness sebenarnya tidak memiliki tujuan ingin kemana. Kepala Aness mendongak saat sinar bulan bersinar dengan terangnya. Aness baru menyadari jika dirinya sudah berada di dekat tebing.

The Unknown Princess (On Hold)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang