"Iya...iya pak tidak apa - apa. Iya sama - sama."
"Hari libur masih aja ditelepon masalah kerjaan," gumam Mino, "Sopan banget kalo di telepon, ngomongnya bener," gumam Mino.
Tapi gue gak peduliin itu sih.
Gue...
"Napa lo Ga?" tanya gue langsung pas Suga nutup telepon.
"Besok gue disuruh ngajar olahraga lagi, gantiin guru olahraga yang gak masuk," jawab Suga.
Demi apa?
Sejak kapan guru BP harus gantiin tugas ngajarnya guru olahraga?
"Lha lo guru apaan sih Ga?" Mino ikutan tanya.
"BP."
"Kenapa guru BP yang disuruh gantiin? Guru olahraganya cuma satu?" tanya kak Irene, gue mau nanya tapi keduluan kak Irene, gak apalah.
"Ada tiga sih sebenernya kak, yang satu ikut diklat, satunya ada jam ngajar kelas lain, satunya yang gak masuk itu yang gue disuruh gantiin."
"Napa itu yang ada jam ngajar di kelas lain gak dirapel aja? Sekalian gitu."
"Beda kelas No, dia ngajar kelas VIII nah yang gue suruh ngajar ini kelas VII. Bedalah materinya."
"Tapi kamu bisa ngajar olahraga emang Ga?"
Suga ketawa, "Bisa sih dikit, ya untung materinya pas basket kak. Nah gue pas SMA sama kuliah dulu kan anak basket."
Gue dengerin mereka ngomong. Mau ikutan tanya, tapi gengsi. Tapi kalo gak tanya penasaran, haduh kepo gue.
"Cedera apaan lo?"
Akhirnya gue tanya juga.
Suga noleh ke gue, "Khawatir ya lo?"
"Dih ngapain?! Gak peduli..."
"Cedera punggung gue kambuh," jawab Suga motong perkataan gue.
Sakit dong?
Dia kan jarang basketan lagi gegara cedera punggung itu.
"Lo ngajar sekali langsung encok Ga?" tanya Mino.
"Jatoh gue."
"Malu - maluin, ngajar sekali aja pake atraksi," aduh mulut gue, sebenernya sih khawatir, tapi gak tahu kenapa yang keluar dari mulut gue justru kalimat ini.
"Lo pikir gue mau jatoh? Gue sendiri juga malu kali. Untung murid gue baik - baik, mereka nahan tawa di depan gue."
"Di belakang lo mereka ngakak," Mino ketawa.
"Gue gak peduli."
"Nah besok kamu suruh ngajar lagi gak sakit lagi?"
"Biasalah kak, gue cowok, kuat kalo cuma ini mah."
Sebenernya sih gue mau tanya 'Lo udah ke dokter belom?' tapi sumpah gue gengsi. Halah, paling nanti juga sembuh sendiri.
*
Sorenya, gue balik ke rumah abis Maghrib. Diantar Minolah, tapi dia gak ikut masuk. Gue buka pintu rumah dan suasana ruang depan sepi. Ya iyalah, ngapain juga orang - orang pada di ruang depan. Pas jalan ke arah ruang tengah gue denger daddy ngomong ke mommy dalam bahasa mandarin. Yang kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia kira - kira jadi gini, 'Iklan ini tidak mendidik. Anak muda bersenang - senang seperti itu, lalu berbohong pada orang tua dengan suara dan wajah memelas mengatakan kalau dia tidak bisa pulang.'
Gue denger mommy cuma bilang 'Biarin aja', gue ngelirik ke arah tv dan paham iklan mana yang daddy maksud. Gue duduk di sofa, gabung sama mereka.
"Baru pulang? Mana Mino?" tanya mommy.
"Langsung pulang dia, disuruh masuk gak mau," jawab gue santai, bener kok, gue jujur.
"Kalian darimana?" tanya daddy.
"Ketemu temen, terus nonton sih tadi, makan, jalan - jalan di mall itu aja."
Daddy sama mommy cuma ngangguk.
"Mom, kak Nita mana?"
"Masih belum pulang, keluar sama Okie," jawab Mommy.
Gue cuma ber-Oh aja, gue liat ekspresi daddy. Biasa - biasa aja. Dia gak pernah keberatan kalo kak Nita keluar sama Okie. Padahal ya, Okie itu usianya setahun lebih muda dari gue, tapi si daddy fine - fine aja. Malah di mata daddy, Okie itu keliatan dewasa dan dapat dipercaya. Gue tahu karena daddy pernah ngomongin itu ke gue, dia banding - bandingin Okie sama Suga waktu itu. Bahkan dia bilang 'Kalau kamu cari calon suami, yang sopan, dewasa dan dapat diandalkan seperti Okie itu'.
Jiah, dikira Suga gak bisa diandelin apa? Suga itu bertanggung jawab dan pekerja keras, cuma aja daddy gak tahu. Jadi, selain jadi guru BP di salah satu SMP swasta, Suga juga kadang nerima tawaran nge-mc, ngisi acara nikahan, dan dj radio. Gak sering - sering amat sih, tapi lumayanlah. Itu juga yang bikin dia punya banyak degem, femes tuh anak. Hhh, padahal Suga bilang dulu pas dia SMA banyak yang benci sama dia gegara dia kerjaannya ngatur kedisiplinan, mungkin maksud Suga itu dia anggota OSIS ato gimana gitu gue juga gak paham. Ya, intinya Suga itu pekerja keras. Kalo masalah sopan sih...ya gitu itu Suga, gak bisa lebih sopan lagi. Cuma kalo dia bergaul sama yang lebih tua, dia bisa lebih sopan. Buktinya ke mommy juga dia sopan. Ke rekan kerjanya yang sebagian lebih tua juga dia sopan.
Padahal nih sebenernya gue kenal Suga dari Okie juga hahaha. Soalnya Okie itu adik kelasnya Suga jaman SMA. Belom tau aja daddy.
"Lagi nonton apaan?"
Gue kaget pas tiba - tiba kakak gue duduk di sebelah gue. Nih orang datengnya kapan? Tiba - tiba nongol gitu. Gue noleh dan kak Nita cuma bales pake senyum sumringah. Gue amatin dandanan kak Nita. Beneran girlfriend materials dia. Dandanannya cewek dan cantik, feminin. Kak Nita mah emang kecewekan, nah gue pecicilan. Gak tahu ini yang salah didikannya apa gimana. Padahal kata mommy pas gue kecil dulu gue mainnya sama si Edison -- anak uncle Xingxing yang sampe sekarang masih manja dan eum polos - polos bego nyebelin gimana gitu -- tapi kenapa gue jadinya kayak gini? Kali pergaulan gue ya yang salah.
"Tau tuh nonton apa, iklan mulu daritadi."
"Acara talkshow," mommy benerin kalimat gue buat jawab pertanyaan kak Nita.
"Okie langsung pulang?" tanya daddy.
Iri gue iri!
"Iya dad, tadi disuruh cepet pulang sama sepupunya, ada perlu kayaknya," jawab kak Nita.
"Oh iya, catering acara wedding anniversary daddy sama mommy jadi memakai milik sepupunya Okie?" tanya daddy lagi.
"Iya dad, tadi aku udah bilang kok sama Okie dan dia juga udah ngabarin sepupunya. Sepupunya bilang bisa."
Oiya, bulan depan kan wedding anniversarynya daddy sama mommy yang ke-24. Cateringnya pake sepupunya Okie?
Emang Okie punya sepupu yang buka cateringan?
Kok perasaan gue gak enak ya?
Jangan - jangan sepupunya Okie itu...
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Daddy and Me (Complete)
RandomGue punya daddy yang syukur alhamdulillah ganteng, kekinian dan cakep. Tapi sayangnya, dia orangnya nyebelin dan overprotektif banget pas gue pacaran sama Suga. Rate : PG-17 Warning : Banyak kata kasar! Note : Ini bukan yadong, tapi karena mungkin n...
