Jisoo benar-benar membawa Taeyong ke tempat favoritnya.. yaitu apartemennya. Entahlah apa yang ada di pikiran perempuan berumur 22 tahun itu untuk membawa seorang laki-laki ke apartemennya. Hanya berdua dengannya.
"Jis, serius deh. Masa kita ke apartemen lagi?"
"Katanya tempat favorit gue? Ya di rumah lah," Jisoo berucap sambil mengeluarkan 2 buah gelas dan melanjutkan, "home sweet home, Yong."
"Nggak usah dipanggil begitu gue juga udah tau kalau gue emang muda dan ganteng."
Jisoo mencibir mendengar perkataan lelaki di hadapannya itu. Tingkat kenarsisan seorang Lee Taeyong memang tiada tandingannya, sih.
"Jis, gimana kalau cerita tentang diri masing-masing? Lagian gue belum denger banyak tentang lo,"
"Nggak ada yang perlu diceritain juga sih, Yong." Balasan Jisoo itu merupakan tolakan secara halus. Ia belum siap menceritakan setiap detil kisahnya kepada laki-laki itu.
"Ayolah. Tujuan utama gue ke New York kan buat kenalan sama lo. Ntar kalau nyokap nanya terus gue nggak tau apa-apa tentang lo gimana?"
Jisoo terlihat berpikir sebentar. Mencari cara untuk menolak keinginan Taeyong. Perempuan itu berdehem pelan sebelum memulai kalimatnya.
"Kita main nanya-nanya aja gimana? Nanyanya gantian gitu. Biar fair." Taeyong mengajukan sebuah ide yang tentu dapat membunuh Jisoo kapanpun. Anehnya, perempuan itu malah mengangguk. Mungkin karena Jisoo pengaruh sekaleng bir yang barusan diminumnya?
"Call!"
"Gue mulai duluan ya?" Taeyong mendelik. Kemudian langsung melanjutkan kalimatnya ketika melihat anggukan dari Jisoo. "Hubungan terakhir kali dan dengan siapa?"
"1 tahun lalu. Dengan Song Mino."
Taeyong terperangah mendengar jawaban mantap perempuan itu. Bukan hanya itu. Tapi.. Song Mino. Di pelet apa Jisoo sampai-sampai mau berpacaran dengan lelaki playboy seperti Mino?
"Kalau lo sendiri gimana, Yong?"
Taeyong berdehem pelan sebelum menjawab,
"Krystal. Berakhir beberapa hari lalu. Gue nggak inget pastinya." Dusta. Padahal Taeyong ingat betul hari apa, jam berapa, dan dimana ia putus dengan Krystal. Dasar lelaki.
"Jis, kenapa lo putus sama Mino?" Akhirnya pertanyaan yang dihindari Jisoo dipertanyakan pula oleh Taeyong.
"Karena.. dia kasar sama gue," Jisoo mencari-cari sesuatu untuk ditatap kecuali Taeyong. Perempuan itu tidak mampu menatap mata yang terus-terus bertanya apa yang terjadi. Namun akhirnya perempuan itu tetap melanjutkannya,
"Gue nggak tau lagi mesti gimana. Setiap ketemu dia mukulin gue. Bahkan orang tua gue aja nggak pernah mukulin gue!" Emosi Jisoo sudah diubun-ubun. Ia ingin marah tapi yang keluar malah air matanya. Air mata itu keluar tanpa henti. Di hadapan Taeyong pula.
Taeyong gagap, tidak tau harus berbuat apa. Perlahan tapi pasti, ia mendekati Jisoo kemudian memeluk perempuan itu.
Taeyong menyesal. Menyesal telah membuat Jisoo kembali mengenang masa kelamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
fly | taeyong x jisoo
Fanfictionketika pesawat menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka. ©2016 jisoossi
