Kertas IV

5.3K 298 38
                                        

"FAISAL!" Teriak Nea murka sambil menjauhkan diri yang mulanya berada dalam pelukan cowok tengil itu. "KENTUT LO BAU BANGKAI!" rengeknya dengan tangan menutup hidung kuat-kuat. "GUE NGGAK SUKAAA!"

Sementara Faisal terbahak-bahak di atas karpet, seperti telah menemukan sesuatu paling bahagia di dunia. "Dulu waktu ditembak, bilangnya bakal nerima gue apa adanya. Sekarang ngomong nggak suka, yaudah putus aja kita mah."

"Ihhh!" Nea kembali menghampiri Faisal dengan kaki menghentak-hentak kesal. Kemudian, dengan ganasnya ia menjambak rambut sang kekasih. Dan bukannya memekik, Faisal malah terkekeh. "Kenapa lo enteng banget sih bilang putus?!"

"Serius ini," balas Faisal sambil mendongak, tidak merasa sakit sama sekali akan tarikan tangan Nea. "Biar gue bebas mabar sama anak-anak, nggak dilarang keluar malem, dan dicemburuin melulu."

Nea langsung diam, kepikiran. "Oh, gitu," kemudian menghembuskan napas panjang. "Yaudah. Terserah lo, sih. Sori kalau gue sukanya ngengkang."

"Putus berarti, ya?" Ulang Faisal serius sambil menarik kepala Nea yang berada di atas sofa buat disandarkan pada bahu kirinya. "Oke, putus!"

Nea cuma diam, bibirnya yang bergetar melengkung ke bawah, sementara tangannya mengalung erat pada leher Faisal.

"Tapi boong," lanjut Faisal terbahak saat Nea sudah terisak. Ditariknya turun cewek baby face itu supaya bisa leluasa didekap. "Bercanda, ah. Jangan nangis. Iya nggak putus, Sayang."

"Terlepas dari itu sih, Sal. Gue tau lo capek sama sikap gue yang nyebelin ini. Gue nggak papa kalau kita udahan. Serius deh," ucap Nea sungguh-sungguh.

"Apa sih?" Faisal mempererat pelukannya sambil mengecupi rambut Nea sementara cewek itu masih terisak-isak. "Ngaco. Kurang tidur kamu."

Sementara Angel yang dari tadi menyaksikan adegan tersebut, melayangkan tatapan sengit pada Faisal yang kebetulan menatap ke arahnya. Seolah ia tengah mengatakan, 'Bercandaan lo nggak lucu, dunguk! Sekali lagi lo gituin Nea, habis lo sama gue!'

Dan Faisal cuma bisa meringis. Gaya pacarannya dengan Nea memang agak berbeda, suka bercanda. Dan Faisal tahu, kadang guyonannya itu terlalu berlebihan sampai membuat Nea menangis. Sama. Hanya karna kata putus. Tapi itu tidak pernah benar-benar terjadi, sekalipun. Karna masing-masing dari mereka tahu, tidak akan melepas yang nyaman untuk yang baru. Dengan begitu saja.

"Udah pada dateng," sambut Ari setelah beberapa lama keheningan menyelimuti ruang tamu tersebut. Si pemilik rumah itu tengah menuruni anak tangga dengan tangan mengacak-acak rambut yang masih basah. Terlihat begitu segar. "Sori lama, gue habis mandi," katanya sambil melirik Rey yang tengah bermain game di sofa panjang, Angel dan Rachel dengan mata menghadap televisi, kemudian Nea yang terlelap dengan mata sembab di dada Faisal. "Cece mana?" Tanya Ari begitu matanya tidak menemukan sosok dambaan.

Angel langsung merubah posisi, menghadap pada Rey yang berada di sebelahnya dengan ekspresi campur aduk. Hendak mengatakan sesuatu.

"Gue kesel sama dia, sumpah!"

Mendadak, semua mata, kecuali Nea, di ruang tamu itu terpusat pada Angel. Seolah penasaran perihal apa yang membuat perempuan berambut ikat kuda itu tidak enak hati.

"Cece keluar sama temen barunya."

"Siapa?" Tanya Rey tidak paham.

Rachel (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang