Kertas XXIV

2.5K 189 19
                                        

Setelah berkonsultasi dengan Aldi di kantin, Rachel bertekad akan mengakhiri satu-satu masalah yang ia punya supaya tak jadi beban berat. Masih ada waktu sebelum bel masuk berbunyi lima belas menit lagi. Masuk ke dalam kelas, ternyata obyek yang ia tuju memang benar ada. Ia melangkah yakin, dengan sebelumnya melempar tatapan pada Faisal dan Nea yang sedang mendengarkan lagu lewat headset. Kelihatan sekali kalau mereka sedang heran karna sorot matanya memancar penuh tanya.

"Ce?" Sapa Rachel canggung setelah sampai di hadapan Michelle. Sahabatnya itu tak merespon, masih saja asik dengan novel terjemahan yang Rachel tahu sekali adalah kesukaannya. "Ce, dengerin aku dulu."

Tak ada sahutan, bukan Rachel namanya jika mudah menyerah.

"Kamu kenapa beda banget sama aku akhir-akhir ini? Apa gara-gara waktu Faisal nampar kamu? Kan harusnya aku yang marah sama kamu. Disitu kamu ngerendahin aku, kalau kamu lupa."

Michelle masih bungkam.

"Ce, jangan kayak gini. Kalau kamu marah, bilang. Jujur sama aku kenapa? Jangan malah diemin aku, Ce. Apalagi ke Angel, Nea, Faisal dan Ari. Mereka nggak salah."

Rachel menghela napas, paham sekali dengan tabiat Michelle.

"Yaudah aku ngalah, aku minta maaf. Aku mohon, Ce, mohon banget. Jangan cuma karna masalah sepele, kita jadi musuhan."

Michelle memberi reaksi dengan mendongakkan kepalanya. Lantas selang beberapa detik berdiri dengan tangan menggebrak meja. "Masalah sepele kata lo?!" Pekiknya kemudian.

Rachel yang bingung cuma bisa mengangguk.

"Gue nggak bakalan maafin seseorang yang udah ngerebut milik gue!!!" Seru Michelle dengan tatapan yang terlihat.. penuh kebencian.

"Maksud kamu?"

"Lo udah ambil Revan dari gue!!!" Michelle memekik. Rachel menggeleng kuat-kuat. Revan? Bahkan Rachel tidak pernah bertemu dengam orang yang lama disukai sahabatnya itu. Lalu, dari segi mana Michelle menuduh ia merebut Revan? "KAREV PACAR LO ITU REVAN YANG GUE SUKA!!!"

Rachel mematung. Ia mati kata. Apalagi ini? "Nggak mungkin, Ce, nggak mungkin!"

"Penghianat lo!!" Tembak Michelle dengan geram. Kedua tangannya mengepal. Giginya ia katup rapat-rapat sebagai tanda kemarahannya yang sudah tak bisa lagi ditoleransi. "Lo masih bilang nggak mungkin tapi lo nikung juga?! Kurang ajar! Nggak mikir apa perasaan gue gimana?! Ternyata selama ini gue curhat ke orang yang salah. Busuk lo, bangsat!"

Rachel meraih tangan Michelle yang langsung ditepis oleh gadis itu. "Ce, sumpah demi Tuhan, aku nggak tahu Revan yang kamu maksud itu Kak Karev."

"Halah!" Michelle mengibaskan tangannya ke udara seraya melirik ke arah lain yang ternyata sudah padat sekali akan teman-teman kelasnya. "Revan alumni sini, gue deketin adiknya. Revan juga tim basket tahun lalu. Apa itu nggak jelas buat lo ngenalin dia adalah sosok yang sama seperti cowok yang gue suka?! Sengaja lo emang! Kenapa cewek munafik kayak lo ini dibiarin hidup sih?!"

Rachel menggeleng, tangisnya pecah. "Aku beneran nggak tahu, Ce. Aku nggak nyangka semua bakalan jadi kayak gini. Aku nggak sengaja. Kalau aku tahu ini dari awal, aku nggak bakalan mau deket sama Kak Karev."

"Dan kalau lo udah tahu diakhir kayak gini, lo mau bilang nggak bakalan bisa lepasin Revan?" Michelle terkekeh kecut. Ia ingin sekali menjambak rambut Rachel agar sadar akan perbuatannya yang salah itu. "Nyesel gue pernah punya sahabat kayak lo!"

Rachel (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang