Selesailah ia, mulutnya kini kembali merapat. Pandangannya yang semula ke atas menatap langit, diturunkan menatap peti tempat gitarnya bersemayam. Beberapa receh tergeletak di sana, agak susah dihitung, ada juga yang lembaran, namun masih dapat dihitung banyaknya. Dipeluknya gitar itu, seakan mengucapkan terimakasih telah mengiringinya. Damailah hatinya terasa. Namun tak berapa lama, sebuah suara parau terdengar ditelinganya, ia pun menolehnya.
"Yuzu..." Ucapan lirih kakek itu sama dengan keadaan tubuhnya yang terduduk payah. Seakan sebuah alarm, gadis itu langsung menyimpan gitarnya ke peti dan menguncinya. Tak bisa ia berlari kencang lagi, ia hanya bisa memapah tubuhnya dengan kruknya itu sambil menjinjing peti gitar di tangan kanannya.
"HEI!!!"
Teriakkan itu membuat gadis pengamen itu menoleh, matanya melotot melihat sosok tangguh yang masih jauh di sana, namun tak butuh waktu lama untuk mengejarnya. Ia segera membawa tubuhnya lari dengan kruk itu, ala kadarnya, kalahlah ia. Kecepatan jantungnya tak sebanding dengan kecepatan ia berlari. Sedang petugas di ujung sana mengejarnya seperti seekor mangsa.
BRUK! Gadis itu terjatuh terpelungkup. Sengaja dilakukan agar tak kabur, padahal sebenarnya tak dijatuhkan pun, ia sangat payah untuk kabur. Petugas garang berbaju biru dongker itu langsung memaksa sang pengamen untuk bangun, ditatihkannya pengamen itu seakan bukan manusia, sangat kasar. Namun, gadis itu berusaha untuk tetap terpelungkup, ia tak mau dibawa oleh petugas itu.
"Kalian, bersikaplah sedikit lebih baik!"
"Diamlah, kakek! Urus saja daganganmu sendiri!"
Suara kakek tua yang tak berdaya itu bagai disambar oleh sebuah petir yang maha dasyat. Tak diindahkannya peringatan orangtua, malah ia semakin kasar pada gadis itu. Dimaki-makinya dengan perkataan yang tak sesuai dipakai kepada manusia.
"Cepatlah bangun, b*bi! Dasar kamu, bisanya cuman jadi sampah masyarakat!"
Petugas itu menarik paksa lengan sang gadis, terasa nyata olehnya tulangnya bagai hendak dipatahkan. Namun ia tak mau mengalah, ia tak mau, tak mau kalau harus pergi dengan petugas yang sangat ditakuti oleh para gelandangan dan pengamen ini. Nyata benar kini semakin terasa, ia sudah tak kuat menahan sakitnya lengannya yang terus dicengkramnya dipaksa untukterbangun,
"Sialan!!!"'
Bugh! "Agh!"
Petugas itu dengan cepat terdorong ke pinggir dan akhirnya terguling konyol. Pipinya seketika lebam dengan satu pukulan dari sebuah sikut yang tiba-tiba datang menghajarnya. Matanya begitu panas melihat apa yang ada di depannya. Dengan segera tangannya mengambil talky walky dan memerintahkan rekan-rekannya untuk datang ke perempatan itu.
Sadar akan ada masalah lagi, lelaki besar itu pun segera menarik gadis itu. Dimasukkannya lengannya ke bawah lutut gadis itu dan diapitnya, segera pergilah mereka. Perjuangannya susah, lelaki yang memangku gadis cacat itu hampir saja tertabrak beberapa kali saat ia hendak menyebrang. Begitu juga dengan beberapa petugas yang mengejar mereka.
"Minggir! Minggir!" Teriakkan mereka seakan jalan itu punya nenek moyangnya. Lelaki penuh otot yang mengembang itu terus berlari kencang, hingga akhirnya berbeloklah ia ke sebuah gang buntu yang terlihat kumuh. Ternyata, di balik tumpukkan benda-benda yang tak bertuan itu ada sebuah pintu. Dibukanya pintu itu dengan bersusah karena sambil harus memangku gadis itu. Ciiitt.. pintu pun berdenyit terbuka.
"HOI!!"
Kaget mendengar petugas yang ternyata sudah menemukannya, malang, spontan saja gadis itu dilemparnya ke dalam beserta dengan semua barangnya. Dibantingnya keras pintu itu agar tertutup, berharap petugas tidak tahu kalau di jalan buntu itu ada sebuah rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yell in a Silent
Teen FictionNamaku Kirei, yang artinya "Indah". Tapi hidupku ini tidaklah indah sebagaimana namaku. Aku bernafas, aku hidup, layaknya manusia pada umumnya. Tampilanku biasa, tiada suatu pun yang spesial, yang mana bisa membuatmu betah melihatku lama-lama, dara...
