Sempoyongan Yuzu memapah tubuh ke rumahnya. Bersama gitarnya yang berharga, ia berjalan seperti hilang nyawa. Bulan yang menyinarinya sekarang, cahayanya tak seglamour di atas panggung tadi. Sangat cocok bersanding bersamaan dengan mukanya yang tak nampak cahayanya.
Yuzu menarik gagang pintu dan mendorongnya, membuat pintu bobrok itu berdecit dan membuat penghuni di dalamnya menengok. Tak ia hiraukan, gadis itu langsung masuk kemudian menutup pintu. Tak lupa ia kunci karena sudah tak ada teman-temannya di luar sana, semua sudah pulang.
"Apa yang kamu dapat?" Tanya Ethanda langsung menghadang tanpa melihat raut wajah Yuzu. Dibelakang, dapat terlihat Ian menatap cemas.
Tanpa menjawab, gadis itu kemudian membuka tas peti gitarnya. Diberikan selembar kertas yang bahannya keras itu pada pemuda di hadapannya. Kertas itu berpindah tangan dengan cepat. Ethanda melotot ngeri melihat kertas yang dibacanya itu.
SRAK! Kertas itu dihempaskan pada wajah gadis yang murung dihadapannya.
"KAMU SADAR SEKARANG?! IMPIAN BODOHMU ITU CUMAN BUANG-BUANG UANG, BUKAN MENGHASILKAN UANG! KITA BUTUH UANG, BODOH! BUTUH UANG! TAHU UANG, TAHU? ITU KERTAS YANG SELEMBARAN YANG KECIL, YANG SERING KAMU DAPAT KALAU NGAMEN! BUKAN SELEMBARAN BESAR YANG KAYAK GITU!"
"Tapi, Ethanda! Seharusnya kamu hargai dong! Begini pun aku..."
"BODOH!" Sergan pemuda kasar itu cepat. "KAMU TUH GAK SEKOLAH! BUAT APA SERTIFIKAT INI, HAH?! BUAT APA?! BUAT DITERIMA DI SEKOLAH LEWAT JALUR PRESTASI, GITU?! BUAT KAMU, SERTIFIKAT TUH GAK GUNA!"
"Heh!" Pemuda dengan anting sebelah itu mencengkram rahang Yuzu kuat. "Asal kamu tahu, harusnya kamu ngaca, Yuz! Kamu itu, gak kan bisa berhasil. Impian kamu itu sia-sia... KELEWAT BATAS TAU GAK, TOLOL!"
DEG!!
"ETHANDA!" Suara kecaman yang berasal dari Ian itu tiba-tiba terdengar. Namun tak dihiraukannya, Ethanda lantas pergi ke luar rumah, pintu pun ditutupnya dengan sangat keras. Ia tak berpikir bahwa pintu itu bisa-bisa saja lepas dari engselnya.
Sedang gadis malang itu, yah benar-benar malang. Tak dirasa, kakinya mulai goyah. Kruk itu terhempas begitu saja untuk menopang tubuhnya. Yuzu ambruk terduduk. Ia merangkul kedua kakinya, membenamkan wajahnya di lutut.
"Yuz... Hei..." Ian menggoyangkan tubuh gadis itu. Suara panggilannya entah sengaja lembut, atau memang begitu. Ia memanggil gadis itu agar mau mendongak menatapanya. Usahanya berhasil, gadis itu menatap ke arahnya. Namun, Ian langsung gugup. Tak pernah lagi setelah sekian lama ia melihat Yuzu menangis.
"Aku bodoh... Harusnya aku sadar diri dari awal... Aaaahh tolol, aku emang tolol..."
"Yuz..." Ian bingung harus berkata apa. Apa yang harus ia tanggapi? Ah, suara pekikan gadis itu yang sudah sekian lama tidak terdengar membuatnya tegang. Lalu, Appo? Dia juga bingung. Lelaki itu hanya bisa pergi ke dapur dan mengambilkan segelas air untuk Yuzu, untuk menenangkannya.
"Hei, sudah.. sudah.. ini minum!" Serah Appo sembari terduduk di dekat gadis itu. Masih dihiraukannya gelas itu, Yuzu tak mau mengambilnya. Ia benar-benar menangis sejadi-jadinya. Yah, kedua laki-laki itu bingung. Biasanya paling hanya linangan air mata yang mereka lihat selama ini. Tapi kali ini? Mereka belum pernah melihat Yuzu seperti ini? Seperti jeritan yang ditahan-tahannya? Ah, mungkin.
"Kamu pasti kesal, Yuz. Ucapkan saja..." Seru Appo yang membuat Ian langsung menoleh dengan alis yang mengangkat satu.
"Apa sih?!" Tanya Ian sepelan mungkin, namun tetap berusaha agar Appo mendengarnya. Lelaki besar itu hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga berucap seperti itu karena benar-benar bingung.
"Yuz.. Dengar aku, Yuz.." Lelaki kurus itu memegangi kedua pipi Yuzu, berusaha agar kedua bola mata yang menangis itu mau melihatnya. "Aku yakin kamu sudah melakukan yang terbaik, aku percaya itu! Menang atau kalah itu biasa, kamu bisa mengulanginya lagi dengan semua pengalamanmu, okay! Hei dengar,aku iri lho padamu! Bisa berdiri di atas panggung itu juga merupakan impianku, tapi yang ada kesempatan malah kamu. Tapi di satu sisi, sebagai temanmu, aku sangat sangat bangga padamu!"
"Ya. Aku bingung" Sergap Appo tiba-tiba, membuat kedua teman yang dihadapannya itu menoleh aneh kepadanya.
"Aku bingung padamu, Yuz. Sudah dijatuhkan beberapa kali, kenapa masih mau mencoba? Kalau aku jadi kamu, mungkin kupikir semua itu sia-sia. Dan juga menurutku, di antara kita berempat ini, orang yang paling maju itu hanya kamu. Jadi, jangan berhenti!"
Perkataan Appo membuat Ian mangap dengan matanya yang melotot. Woah, bisa juga dia!, pikirnya.
"Nah, Yuzu..." Gadis itu sudah mulai tenang. Namun matanya masih sembap merah. Ia memperhatikan lelaki kurus yang ada di hadapannya. "Ceritakan sertifikat ini!" Pinta Ian pada Yuzu sembari memperlihatkan selembar kertas itu, gadis itu langsung menariknya.
"Ini sertifikat yang diberikan untuk 10 besar" Suara parau Yuzu menjelaskan. "Yang dapat hadiah hanya juara 1-3. Aku sih hanya juara ke-6. Jadi yang kudapat hanya ini saja" Kertas itu dihempaskan menjauh dari Yuzu. Bola mata Ian mengikuti bagaimana kertas penghargaan itu jatuh ke lantai, benar-benar ia ratapi kaget sekaligus sendu.
"Itu tidak berguna. Sudah ada beberapa lembar yang kupunya, tak mengubah apapun kan? Ghehe"
Gadis itu tersenyum sinis dengan mengangkat sebelah bibirnya. Kini, ia memperhatikan kertas itu dengan tatapan konyol. Melihat ekspresi Yuzu yang mengerikan, Ian mengambil kertas itu dan membersihkannya dengan tangan. Ditatapnya gadis itu dengan tajam, kedua alisnya menyatu.
"Kamu tidak akan pernah maju kalau kamu tidak menghargai usahamu sendiri, Yuz!"
"Masa bodoh dengan penghargaan! Ia tak menjaminku untuk hidup, kan? Yang kubutuhkan adalah uang!" Ucap Yuzu kini dengan ketus. Ekspresinya berubah drastis, yang awalnya pilu menjadi sarkas.
"Tapi kamu juga tidak bisa hidup tanpa bermimpi, kan?" Tanya Ian sembari tersenyum, berharap ia bisa melemahkan mood temannya itu yang sedang amat buruk.
"Kamu bercanda? Mimpiku itu hanya mimpi! Jadi tak berpengaruh apapun pada hidupku! Lihat, apakah dengan kertas seperti ini, aku bisa membeli gitar baru, peralatan yang rusak, atau bahkan hanya makanan? Bisa?...Tidak, kan?"
"Tapi kamu sangat suka bernyanyi, kan? Iya kan? Kamu suka kan ketika kamu bersinar di atas panggung dan mendapat tepuk tangan orang banyak? Tidak seperti kamu konser di lampu merah atau tempat-tempat ramai, yang mana orang-orang tak menghargaimu?!"
Tak dihiraukan kata-kata Ian yang kini mulai meninggi geram, Yuzu langsung mengangkat tubuhnya dengan kruk. Sudahlah dengan hari yang menyebalkan ini, ia ingin istirahat sekarang juga. Namun baru saja hendak melangkah pergi menuju belakang, langkahnya terhenti oleh perkataan Ian.
"Jawab! Kamu suka kan memberikan suaramu untuk mimpimu?"
Yuzu berbalik badan dengan tatapan matanya yang tak kalah tajam. "Ya, aku suka! Tapi, tidak lagi! Sekarang, suaraku hanya untuk kehidupanku! Bertahan hidupku! Suaraku hanya untuk uang yang mereka lempar di jalan! Bukan untuk sebuah mimpi yang hanya akan terwujud dalam tidur! Mimpiku adalah omong kosong terbesarku! Mimpiku adalah bunga tidur terindah dalam tidurku! Mimpiku hanyalah mimpi! Puas, kamu?!"
Gadis itu berlanjut menginggalkan kedua temannya. Ia tak memperdulikan raut wajah Ian waktu itu. Matanya yang cekung membulat tak percaya. Perkataan gadis itu seperti mengkhianati diri sendiri. Benar, terasa sakit hatinya. Ia serasa dikhianati oleh perkataan yang tajam itu. Kenapa, Yuz? Bukan itu yang ingin aku dengar!
"Ethanda..." Suara Ian terdengar menggeram oleh Appo. Lelaki besar itu melihat lengan kanan kurus Ian yang mengepal kesal.
"Jangan gegabah, Ian! Aku yakin Yuzu takkan berubah hanya gara-gara perkataan E. Kita biarkan dulu ia, pasti gadis itu banyak pikiran" Coba Appo untuk menenangkan seraya memegangi pundak temannya itu.
"Tapi–"
"Tidak, dengarkan aku! Jangan bicara dulu dengannya, biarkan ia tidur dulu! Siapa tahu besok atau beberapa hari ke depan dia kembali seperti semula!"
Ian menghela nafas, lalu membuangnya pasrah. Ia mengangguk menyetujui saran Appo. Mereka berdua pun bersiap untuk tidur.
Lalu? Ke mana Ethanda?
KAMU SEDANG MEMBACA
Yell in a Silent
Teen FictionNamaku Kirei, yang artinya "Indah". Tapi hidupku ini tidaklah indah sebagaimana namaku. Aku bernafas, aku hidup, layaknya manusia pada umumnya. Tampilanku biasa, tiada suatu pun yang spesial, yang mana bisa membuatmu betah melihatku lama-lama, dara...
