2. Hari yang Panjang

75 10 3
                                        

Bersandarlah seorang gadis pada sebuah sofa, matanya tertutup sedari tadi ia beres keluar dari kamar mandi. Nyaman benar terasa baginya sore yang hangat itu.

Seorang anak lelaki kemudian datang dengan rambutnya yang masih basah dan handuk yang menudungi kepalanya, menghampiri sebuah meja. Ditempelkan gagang telepon itu di telinganya sembari menekan-nekan beberapa nomor. Tubuhnya berdiri agak merengkuh santai sembari menusap-usap rambutnya dengan handuk, sembari menunggu jawaban di ujung telepon sana.

"Ya? Siapa?"

Mendengar teleponnya sudah di angkat, tubuhnya kini berubah tegak dan wajahnya berseri-seri. "Ayah" Ucap permulaan Hiraki tanpa memedulikan pertanyaan ayahnya. Sudah pasti tahulah lelaki itu kalau dipanggil ditelepon dengan sebutan ayah.

"Oh, Hiraki. Ada apa, nak?" Tanya sang ayah dengan suaranya yang lelah namun tetap berusaha baik-baik saja itu kepada anaknya. Ia pun melepaskan sejenak stetoskop yang terlingkar di lehernya.

"Ayah mau makan apa hari ini? Aku dan Rei akan pergi berbelanja".

"Entah. Apa mau ayah belikan saja pas nanti ayah pulang?"

"Ummm..."

Hiraki membisu sejenak, jari jemarinya ditempelkan di dagunya, ia pun sedang bingung hendak masak apa untuk makan malam nanti.

"Pak, no 65!" Ucap seorang wanita dengan baju putih dan topi yang khas diujung sana, rupanya tertangkap masuk lewat telepon. Sadar ternyata ayahnya masih harus berurusan dengan pasien, anak lelaki itu pun cepat memutuskan.

"Oh, ayah sibuk ya, maaf. Tapi, kalau aku masak kari, ayah mau?"

Usulan sang anak pun diterima. Kini gagang telepon itu di simpan kembali, langsung dihampirinya gadis yang tengah tertidur di kursi sofa.

"Rei, bangun!"

Tubuh yang beristirahat pulas itu terpaksa sedikit diguncangkan untuk mempercepat ia terbangun.

"Ayo, kita belanja!"

Seirama dengan suaranya yang semangat, Hiraki pergi ke halaman untuk menaruh handuknya kemudian berlari ke kamarnya. Di ambilnya sebuah sisir dan dirapikannyalah rambutnya dengan cepat-cepat. Tanpa menunggu waktu lama, pergilah mereka berdua ke supermarket di kota itu.

═════════════

"Aku kira semua bumbunya selesai. Tinggal kita pilih dagingnya!"

Dua orang itu pun pergi menghampiri tempat daging dijajarkan. Di atas hamparan es batu, mereka memilih-milih daging mana yang kiranya akan dipakai.

"Daging ayam?"

Tanya Hiraki sembari mengangkat sebungkus daging ayam yang terbungkus rapi dan bersih. Kepala Kirei menggeleng, namun jawabannya membuat Hiraki menatapnya sebentar, terasa ambigu baginya.

"Tidak mau atau tidak tahu?"

Rei hanya bisa tersenyum dan akhirnya mengangkat kedua bahunya saja. Maksud ia adalah tidak tahu, itu terserah pada Hiraki saja. Namun, baginya agak tidak afdol sebuah kari dengan daging ayam, jadi ia menunjuk sebungkus daging sapi dan kambing yang sama terbungkus rapi dan bersih.

"Kambing apa sapi?" Tanya Hiraki lagi seolah tak ada pegangan hidup. Gadis itu memiringkan kepalanya ke samping sembari menadahkan tangannya ke hadapan Hiraki, seperti orang mempersilahkan.

"Ah, Rei! Ya udah sapi aja!"

Berengut Hiraki agak kesal sembari memasukkan bungkusan daging itu ke keranjang. Ia segera mengambil keranjang itu dan langsung bergegas berjalan ke meja kasir. Akhirnya, mereka pun mengantri untuk membayar. Rupanya bibir Hiraki masih manyun saja mengenai hal sepele tadi. Usilnya Kirei, menarik ujung bibir yang cemberut itu ke atas, seolah memaksanya tersenyum.

Yell in a SilentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang