1. Kunjungan Pada yang Tenang

81 12 1
                                        


"Kirei!"

"Kirei!!..."

"Kireeeeii!!!...."

Teriakan kekesalan Hiraki membuat gadis yang biasa dipanggil Rei itu bangun tiba-tiba. Matanya celingukan bingung karena lingkungannya berada terasa asing. Namun, saat ia menatap lurus ke hadapannya, ditangkapnyalah sesosok yang tadi berteriak memanggil namanya itu. Tangannya memegang kepalanya yang pusing, baru ingat bahwa ia baru bangun dari tidurnya.

"Apa? Kamu diganggu dengan masalah yang sama?"

Gadis itu hanya mengangguk pelan. Pasalnya hari ini guru-guru rapat, membuat para siswa malah ribut di kelas. Naasnya, seekor kupu-kupu terjebak dalam ruang kelas, tentu kesempatan ini bagus untuk mengerjai salah seorang dalam kelas itu yang takut pada hewan cantik tersebut, salah seorang dari mereka pun menangkapnya.

Kirei yang tengah duduk-duduk saja tak banyak tingkah waktu itu, langsung diseret ke dekat jendela oleh beberapa orang. Seorang lelaki yang tadi menangkap hewan terbang itu sedang menunggunya tersenyum dengan satu tangan di belakang tubuhnya.

Saat lelaki itu menyerahkan apa yang di bawa di belakang tubuhnya, meronta-ronta kuatlah gadis itu berusaha melepaskan tangan teman-teman yang memeganginya, hendaknya jika ia berhasil terlepas, ia akan pergi.

Sayang, karena terlalu banyak yang mencegahnya, usahanya tak membuahkan hasil. Kupu-kupu itu diletakannya di atas rambutnya, membuat kepalanya ditundukkan agar ia tak bisa melihat wujud menyeramkan makhluk itu. Lidahnya kelu tak bisa meminta tolong siapa pun, hinga akhirnya ia pun menangis. Sampai ia dilepaskan teman-temannya pun, ia masih saja menangis di bangkunya, walau kupu-kupu itu sudah tak lagi menempel. Yah, dan akhirnya ia pun malah tertidur.

"Oh" Jawaban singkat Hiraki saat membaca cerita Kirei yang ditulisnya. Bibirnya malah tersenyum kecil membaca cerita itu, entah merasa konyol apa kasihan. Mungkin keduanya. "Rei, kurasa mereka menunggu kita", sambungnya tak lama.

═════════════

Sekiranya lima tahun lalu, dipandanginya gundukan tanah ini dengan ratapan kesedihan dan air mata yang luar biasa oleh seorang gadis kecil yang cacat dipenuhi perban. Ia memeluk batu nisan dan berteriak memanggil mereka. Namun, apa yang ia teriakkan hanya sebuah suara yang tidak pernah jelas di telinga orang. Teriakkan kesedihannya memanggil mereka, hanya bisa dimengerti oleh malaikat dan Tuhan.

Kini, Kirei memandangi mereka tanpa ada lagi air mata yang jatuh. Tubuhnya berlutut lalu tangan ditadahkan, tanda ia meminta lagi pada Tuhan tanpa bosan-bosannya. Ya Tuhan, maafkanlah segala dosa mereka. Ya Tuhan, tempatkanlah mereka di sampingmu. Jagalah mereka dalam keadaan damai surga-Mu. Sampaikanlah rasa sayang dan rinduku pada mereka, Ya Tuhan! Aamiin!

Kedua tangannya diusapkan pada seluruh wajah. Selesai mendoakan orangtuanya yang tewas terpanggang lima tahun silam itu, ia menoleh ke belakang. Ternyata anak lelaki itu pun sudah selesai mendoakan ibunya.

Ibunda Hiraki meninggal saat anak itu masih duduk di TK. Dari cerita yang Kirei dengar darinya, ibunya meninggal saat mengantar ia ke TK. Sepeninggalan ibundanya, Hiraki merasakan penyesalan yang amat sangat.

Pagi hari saat sarapan, Hiraki marah karena ibunya tidak menyediakkan makanan kesukaannya karena ia tak sempat memasak, maklumlah ibunya pun bekerja, padahal ia sudah janji dari jauh-jauh hari pada Hiraki. Saat ibunya pamitan setelah mengantarnya sampai di gerbang sekolah, Hiraki masih marah dan tidak mau bersalaman dengan ibunya.

Ibunda Hiraki pun akhirnya pulang dengan rasa bersalah karena mengingkari janjinya itu dan tanpa mendapatkan salam dari anaknya. Naas, karena tidak fokus saat menyebrang utnuk kembali ke rumah... JEGERR!!!

"A-a-a-a.... T-ti-dak..... IBU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Dengan air mata yang langsung berjatuhan, Hiraki langsung menghampiri ibunya yang telah tergeletak berlumuran darah. Ia mengangkat kepala ibunya lalu menaruh di pangkuannya. Darah mengotori seragamnya yang berasal dari bocornya kepala ibundanya.

"Aaaaaaa!!!!! Bangun, bu! Bangun!!!"

Teriakkan tangisnya yang lantang, membuat para warga sekitar termasuk warga sekolahnya berhamburan keluar. Mereka langsung membawanya dengan ambulan. Tidak lupa dengan Hiraki yang menemani ibundanya bersama perasaan bersalahnya juga karena telah bersikap buruk padanya.

Dalam perjalanan, anak lelaki dengan baju biru bernoda darah itu terus-menerus memanggil ibunya. Berharap sang ibu terbuka matanya dan mengucapkan "hai, nak. Ibu baik-baik saja". Namun, ibunya tidak menyahut sama sekali. Saat sampai di gerbang rumah sakit, monitor detak jantung yang berbicara pada Hiraki. Garis lurus horizontal di monitor dan suaranya yang lurus, membuat lelaki kecil itu diam dengan hati yang tertusuk.

"Udah nyampe, bu! Dokternya baru mau meriksa ibu, kan?! Ibu... bu bangun, bu! Ibu... ibu bangun! Ibu mau ke mana?! Aku janji gak bakal lagi marah sama ibu! Bu maafin Hiraki, bu! Bu! IBU BANGUUUNNN!!!"

Saat itu juga Hiraki berteriak sambil memeluk tubuh ibunya yang sudah tak berisi. Tidak gentar sedikitpun melihat darah yang ada di hadapannya. Baginya saat itu, kengerian yang ia lihat adalah hukuman yang Tuhan berikan padanya. Hiraki kecil yang malang dan penuh penyesalan.

Yell in a SilentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang