Five : Click

24 4 0
                                        

Sidang akhir Seokjin sunbae, Yoongi sunbae, Namjoon sunbae, dan Hoseok sunbae akan diadakan terbuka minggu depan. Aku ingin melihat mereka untuk yang terakhir kalinya selagi masih menjadi mahasiswa disini. Tapi pasti fans-nya akan banyak sekali yang akan menonton dan memenuhi hall, aku tidak mungkin bisa melihat mereka.

Aku menghela napasku pelan, merasa kecewa. Terasa seseorang sedang menyenggol lenganku berkali-kali. Aku menolehkan kepalaku ke samping dan melihat wajah Yerim yang pucat. Aku menunjukkan ekspresi bertanya. Ia menunjuk ke arah depan kemudian aku mengikuti arah jarinya. Disana sudah berdiri Song Ssaem, dosen paling tidak enak dipandang karena wajahnya yang terlihat sangat jutek. Dan ia sedang melihatku.

"Nona Yoon..." Panggilnya dengan suaranya yang husky karena terlalu banyak merokok. Seketika semua mata tertuju pada ku.

"Ya, Ssaem?" Tanyaku polos. Pasti ia memergokiku melamun.

"Bisa anda jelaskan sampai mana saya menjelaskan tadi?" Jantungku mulai berdetak tak karuan dan keringat dingin mengalir sedikit demi sedikit dari pelipisku. Aku buru-buru melihat catatanku. Nihil. Hanya ada tanggal yang tidak berarti untuk menunjukkan kapan mata kuliah Sejarah Sastra ini dilaksanakan. Aku buru-buru mengalihkan mataku ke papan tulis dan membaca semua tulisan disana secara memindai, menebak-nebak mana yang paling terakhir dijelaskan. Ya Tuhan, sudah berapa lama aku melamun?

"Kahlil Gibran...?" Kataku lebih kepada pertanyaan. Song Ssaem mengangkat alisnya, pertanda kalau aku menjawab pertanyaannya dengan benar. Ia berjalan mengelilingi podiumnya dan mengarahkan matanya lagi padaku, kali ini dengan pandangan yang lebih tajam.

"Apakah anda memiliki kutipan favorit dari beliau?" tanyanya lagi. Ia ingin membuat ini lebih rumit rupanya.

"Ya, Ssaem. Ada," jawabku pelan, sedikit tidak yakin.

"Dan apakah itu?" Tanyanya 'pura-pura' penasaran. Sudah lama sekali aku tidak membaca buku karya Kahlil Gibran karena aku tidak punya waktu seleluasa dulu. Hanya ada satu syair darinya yang kuingat. Ku harap tidak ada kata-kata yang salah atau terbalik.

Aku berdehem,"one day you will ask me which is more important? My life or yours? I will say mine and you will walk away not knowing that you are my life", aku mengatakannya dengan sedikit dramatis sama seperti adegan film Twilight ketika Edward diminta mengutip dialog Romeo and Juliette karena tidak memperhatikan film yang sedang dimainkan di kelasnya. Seisi kelas diam mengheningkan cipta. Apakah ada kata-kata yang salah? Atau jangan-jangan yang tadi itu bukan syair Kahlil Gibran?

"Nice one. Jangan melamun lagi, Nona Yoon", aku membuang napasku lega karena telah berhasil keluar dari jeratan maut Song Ssaem.

"Eyes on board, people", murid-murid lain kembali menghadap ke depan setelah beberapa orang mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum padaku. Huft, nyaris saja.

---

Kriiiing

Bel yang terdengar seperti alarm kebakaran itu berbunyi menandakan jam kuliah sesi ke tiga sudah selesai. Aku tahu kampusku sudah seperti sekolah karena masih menggunakan bel untuk menandakan jam mata kuliah. Tapi kalian tahu semua dosen di jurusanku suka sekali lupa waktu karena sibuk bercerita.

"Kupikir kau akan mati tadi, Cher", kata Yerim sambil menengadahkan kepalanya melihat langit-langit dan menyandar ke sandaran kursi, tidak lupa membuang napasnya lega.

"Kupikir juga begitu. Aku bahkan tidak yakin apakah yang tadi itu kutipan dari Kahlil Gibran", kataku sambil meringis dan Yerin ikut meringis.

"Hey, sabtu kemarin kau jadi datang menontong Bangtan?" Tanya Yerim sambil menegakkan tubuhnya dengan tiba-tiba. Matanya kembali berbinar.

Twenty TwoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang