Chapter 4

823 59 0
                                        

-Ratna-

Semenjak bertemu kakak itu saat di perpustakaan, mereka menjadi sering bertemu tanpa sengaja berjalan berpas-pasan. Saling menyapa ketika bertemu. Berjalan menuju masjid untuk sholat Dhuha bersama Nadiva sambil mengobrol mengenai tugas bahasa indonesia membuat teks drama. Tidak direncanakan, tidak disengaja orang yang tidak diketahui namanya dan Ratna bertemu dengan cara yang menyakitkan bahu mereka yang saling membenturkan satu sama lain.

"Duh, maaf nggak ngeliat" ucap cowok itu Membalikkan badannya menatap mata Ratna. Ratna yang menyadari mereka saling menatap menundukkan kepala.

"Iya kak gapapa kok" jawabnya tersipu malu.

Aneh, apa ada yang membuat cewek itu keliatan malu gitu? Apa karena bibir saya yang terlihat merah karena makan pedas dikira memakai lipstick ? . Sebuah tanda tanya dipikirannya karena Ratna terlihat malu ketika melihatnya. I dont care, cowok itu hanya tersenyum membalikkan badan dan berjalan menjauhi Ratna yang masih memperhatikan punggungnya.

Nadiva melambaikan tangannya didepan wajah Ratna yang masih menunduk memainkan tangannya dan tersenyum. Bingung, ada apa dengan Ratna yang berubah menjadi seperti ini ? . Ditepuknya kedua telapak tangan Nadiva depan wajah Ratna membuat suara yang nyaring dan menyadarkannya dari lamunan.

"Kamu kenapa sih?" Tanya Nadiva heran.

"Hah? Ng ... Nggak kok Div" nyengir jeleknya Ratna.

Dih .. aneh ya ini anak. Nadiva menggeleng pelan
huft ..

Keduanya melanjutkan langkah menuju Masjid yang terletak dibelakang sekolah tepatnya dekat kantin.

15 menit kemudian..

Setelah sholat Dhuha Nadiva memandang heran Ratna yang sedari tadi tidak selesai melipat mukenanya. Ditepuknya bahu Ratna, membuatnya tersentak.

"Innalillahi" ucap Ratna kaget.

"Siapa yang meninggal Na?" Tanya Nadiva bingung.

"Apasih. Gaada yang meninggal, kamu ngagetin aja ih!" Mendorong bahu Nadiva.

"Abisnya kamu dari tadi aku tungguin buat ngelipat mukena sampai 2 menit aku nunggu kamu. Lihat! Belum kelipet sama sekali itu mukena, kamu cuma megang-megang doang sambil senyum gajelas" omel panjang Nadiva.

"Ohiya, maaf ya. Udah jangan marah entar bisa-bisa kamu terlihat sepantaran sama Bunda aku" ledek Ratna.

"Iihhh.." greget Nadiva mencubit pipi Ratna.

Ratna hanya bisa mengusap pipinya yang merah dan berkata aduh. Keduanya berjalan menuju kantin hanya untuk membeli sebotol minuman aqua.

"Nih kamu cocok deh minum ini, daritadi melamun terus kurang konsentrasi. Aku rasa kamu kurang minum air aqua deh" canda Nadiva sambil menyodorkan sebotol minuman.

Ratna hanya menggeram dan mengambil aqua dari tangan Nadiva.

"Bu aqua nya satu ya" menyodorkan uang.

seorang laki-laki yang suaranya Diva kenal, menoleh sedikit kearah samping kanan. Fahmi!
Mata Nadiva membulat, diam membeku tak bisa berkata apa-apa. Setelah membayar minuman, Fahmi menjauhinya tidak berkata sedikitpun kepadanya, apa mungkin dia tidak melihat ku?.

"Div kamu kenapa?" Tanya Ratna melihat Nadiva yang mendadak diam.

"Tidak. Masih ada yang mau kamu beli Na? Aku mau cepet-cepet ke kelas" Ratna hanya menggeleng.

Nadiva langsung menarik tangannya dan menjauhi kantin.

"Div.. eh kenapa sih? " tanya Ratna heran.

TakdirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang