Chapter 3 - The First Day

528 31 3
                                        

Pagi ini, ku langkahkan kakiku dengan jantung penuh debar. Hari ini adalah hari pertamaku memulai aktifitas sebagai Santriwati di pesantren ini. sejenak, langkahku terhenti saat kami tiba di depan sebuah ruangan yang tadi Husnah katakan kalau itu adalah Ruang Kelas Kami. Kembali ku hela nafas ini dalam-dalam. Entah kenapa, hari ini aku merasa begitu gugup.

"Ulah (jangan) gelisah kitu (begitu) atuh, Nis. Santai aja. Rileks kayak di pantai." Celotehan Husnah membuatku tertawa. Sejenak, kegugupanku dapat terkendalikan.

"Masuk Yuk." Husna menarik tanganku. Aku hanya diam dan mengikutinya saja.

"Pagi teman-teman. Hari ini kita ada temen baru loh. Namanya Nisa, nih dia orangnya." Husnah kembali memperkenalkanku di depan kelas. Saat itu aku hanya bisa tersenyum kepada mereka yang kini menatapku dengan berbagia tatapan yang berbeda-beda. Ada yang tersenyum menyambut baik kehadiranku. Ada juga yang tampak acuh.

Tapi diantara mereka, ada seseorang yang menatapku sangat intens. Dia memperhatikanku dari bawah sampai atas dengan begitu cermatnya. Perasaanku mulai tak enak. Ini untuk pertama kalinya aku mendapatkan teman seperti itu.

"Duduk yuk, Nis." Husnah kembali menarik lenganku. Dia mengajakku duduk disalah satu bangku yang berderet di ruangan itu. Bangku itu berada persis di samping tempat duduk gadis yang sejak tadi memandangku dengan tatapan anehnya. Jujur saja, aku sedikit tak nyaman berada disampingnya. Tapi aku mencoba tak menghiraukannya dan lebih terfokus menatap Husnah dan beberapa orang yang kini datang menghampiriku untuk berkenalan. Aku menyambut baik kehadiran mereka.

"Oh, jadi ini santri barunya."

Aku terkaget mendengar seruan itu disebelahku. Gadis yang sejak tadi menatapku kini berdiri di sampingku dan memandangiku dengan tatapan yang semakin aneh. Dan itu sangat menggangguku.

"Iya, Wirda. Namanya Nisa. Annisa Nurul Namirah. Namanya cantik kan. Seperti orangnya." Kata Husnah.

"What? Cantik?" Gadis yang bernama Wirda itu mulai menatapku sinis. "Cantikan juga gue kali."

Aku hanya tersenyum kaku menanggapinya. Aku tak mengerti kenapa dia bersikap seperti itu padaku. Tapi yah sudahlah. Aku tak mau memusingkannya. Tujuan utamaku ke Pesantren ini hanya untuk menuntut Ilmu. Bukan untuk meladeni segala tingkah aneh dan sinisnya.

Tak lama setelah itu, seseorang memasuki kelas kami. Dan Wirda kini kembali ke tempat duduknya.

"Assalamu Alaikum, Santriwati-Santriwati cantik."

"Wa'alaikum salam, Ustadzah cantik."

"Ahh. Good."

Ternyata yang datang tadi adalah guru kami.

"Itu Ustadzah Fitri, Nis. Dia guru yang paling cerewet di Pesantren ini tapi orangnya baik kok. Dia memang suka begitu kalau masuk kelas. Maunya dibilang cantik terus." Husnah berbisik padaku. Dia terkekeh pelan dan Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Ustadzah Fitri menatapku. "Ohh iya. Hari ini kita kedatangan teman baru, pindahan dari jakarta. Nisa, Kamu sudah memperkenalkan dirimu?"

"Sudah, Ustadzah."

"Ohh bagus kalau begitu. Baiklah, langsung saja kita mulai pelajaran kita hari ini. Naikkan buku kalian semua."

Cinta Dalam DiamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang