Chapter 12 - Permulaan

334 14 2
                                        

"Insya Allah, Jika memang takdirku ada bersamamu, Maka apa yang kita mulai ini akan berhujung pada Ridhonya"

~~♡☆♡~~

Ridwan menyudahi tegupannya pada minuman kaleng yang tadi ku suguhkan. Terlihat jika dia lebih tertarik mendengar ceritaku. Kemarin, setelah teh Sofia menasehatiku di Taman itu, Aku langsung menghubungi Ridwan, memintanya untuk datang ke rumah. Berhubung jarak antara rumahnya dan rumahku tak begitu jauh, jadilah hari ini ia bertandang ke mari.

"Jadi, loe sekarang ini setuju dengan keinginan Abi Loe?" Tanyanya Masih dengan sikap yang tenang. Entah kenapa kali ini sahabatku itu dapat bersikap sebijak ini.

"Setuju, sebetulnya nggak juga. Tapi menolak, juga aku nggak bisa. Lebih tepatnya, aku hanya mencobanya saja. Dan hasil akhirnya aku serahkan kepada Allah."

"Hmm.. terus, tanggapan Abi loe gimana?"

Di sini aku terdiam cukup lama, kilasan kejadian semalam masih membekas dan kini kembali terulang dalam ingatanku. Ku ingat jelas sekali bagaimana perubahan sikap Abi saat Teh Sofia mengatakan jika aku ingin mencoba Ta'arufan dengan Gadis pilihannya. Abi malam itu tentu saja terlihat bahagia. Dan sikap dinginnya perlahan berubah menjadi Abi yang dulu, yang sangat hangat padaku. Sebelumnya aku juga sudah menebak jika Abi akan bereaksi demikian.

"Abi sangat senang mengetahui aku akhirnya mau melakukan apa yang ia inginkan. Meski semalam Abi tak mengatakan apa-apa, tapi perubahan sikapnya yang membuatku paham."

Ridwan terdiam, barang sejenak untuk menghela Nafas beratnya. Ku tahu, masalah yang ku ceritakan kali ini cukup rumit untuknya. Dia terlihat tak ingin banyak berkomentar, takut komentarnya mungkin akan mempengaruhi keputusanku. Sebisa mungkin dia mencoba mendukung segala yang menjadi keputusanku.

"Tawakkal aja Sob. Jangan lupa istikhoro. Biar pegangan loe makin kuat." Itulah kalimat terakhir yang ia lontarkan sebelum Teh Sofia bergabung dengan kami.

"Ehh, ternyata ada Ridwan toh. Udah lama?"

"Belum kok Teh, baru sejaman. Iya nggak, Emyl." Aku menganggukinya.

Teh Sofia duduk bersama Ridwan di Gazebo mini Halaman rumah kami. Mereka membicarakan beberapa hal sebelum akhirnya aku ikut duduk bersama. Cukup lama Teh Sofia memonopoli perhatian Ridwan dariku, hingga Mas Arfan Datang dengan menyampaikan bahwa Ia dan Teh Sofia akan pulang hari ini.

"Loh, bukannya besok yah mas kalian pulangnya?" Tanyaku sedikit heran dengan keputusan Kakak iparku itu.

"Rencana awalnya sih begitu, Emyl. Tapi siapa yang tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Ya, kan?" Aku mengangguk menyetujui. Betul sekali apa yang dikatakan kakak iparku itu. Dan kalimatnya itu menambah keteguhanku dalam mengambil keputusan ini. Pada hakikatnya manusia hanya mampu berencana, tapi hasil akhirnya tetap ada pada keputusan sang Khalik.

"Memang ada apa, Mas. Kenapa kita harus buru-buru pulang." Teh Sofia yang juga kebingungan ikut bertanya.

"Begini, Sayang. Cafe kita yang di Kemang lagi kena masalah. Dan cuman Mas yang bisa mengatasinya... Kamu nggak keberatan kan kalau kita pulang hari ini juga."

"Aku sih nggak keberatan, Mas. Terserah mas Aja. Aku ikut kok setiap keputusan Mas."

"Tapi Abi yang keberatan." Suara berat beribawa itu mengalihkan pandangan kami semua. Tak jauh dari tempat kami berkumpul, Abi berdiri dengan tegapnya menatap kami satu persatu. Meski tadi Abi berkata 'Keberatan' tapi raut wajahnya sama sekali tak menunjukkan hal yang buruk. Malah sebaliknya, terlihat begitu sumringah.

Cinta Dalam DiamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang