Pintu kamarku berderit ketika aku baru saja menumpahkan segala apa yang dirasakan hati ini ke dalam buku Diary pemberian kak Hafidz. Aku menoleh dan ku lihat seorang Gadis sebayaku berdiri di depan pintu dengan wajah kagetnya. Tapi perlahan ekspresi kaget itu berganti keceriaan. Senyumnya merekah. Langkah kakinya menghampiriku.
"Kamu Santri baru yah?" Tanyanya dengan mata yang berbinar.
Ku lukiskan senyum untuknya. "Iya."
Wajahnya tampak semakin berseri. Dia mengulurkan tangannya dan perlahan aku pun menjabatnya. "Aku Husnah. Ayatul Husnah."
Senyumku merekah setelah ia menyebutkan namanya. Ternyata inilah kawan sekamarku yang tadi Ustadzah Ayda katakan padaku. Hati ini merasa lega karna aku kembali dipertemukan dengan orang-orang yang baik.
"Kok bengong. Nama kamu siapa?"
Ucapannya membuatku tersadar. "Ehh maaf. Aku Nisa. Annisa Nurul Namirah."
"Wah nama kamu cantik. Sama seperti wajah kamu." Godanya. Membuatku tertawa mendengarnya.
Senyumnya sangat manis. Aku menyukai senyum tulusnya itu. Ku lihat dia adalah sosok yang baik, ramah dan juga banyak bicara. Aku menyukai teman baruku ini. Dan sepertinya Adaptasi pertamaku berjalan sangat lancar. Tak buruk ternyata.
"Ohh iya. Kamu kapan datangnya? Terus kapan kamu mulai menginap?"
Ternyata dugaanku benar. Dia memang banyak bicara. Tapi tak apa, aku justru menyukainya. Dengan kepribadianku yang cukup pendiam ini, mendapatkan seorang teman seperti Husnah adalah suatu kemudahan tersendiri bagiku. Aku rasa kami bisa akrab dengan cepat.
"Nisa. Kok kamu bengong lagi sih."
Tegurannya kembali menyadarkanku. Saat ini dia sudah duduk dihadapanku. Entah sejak kapan dia mengambil kursi yang kini didudukinya itu, aku tak begitu memperhatikannya. Tapi perilakunya membuat hatiku gembira. Dia mengingatkanku pada sosok sahabatku di Jakarta. Namanya Kanaya. Melihat Husnah aku bagaikan melihat dirinya.
"Nis. Nisa. Hey kok kamu bengong terus sih?"
"Ahh.. eee.. maaf. maaf Husnah." Aku jadi malu sendiri dihadapan kawan baruku itu. "Oh iya. Tadi kamu ngomong apa yah?" Tanyaku.
"Ya Ampun, Nis. Kamu tuh yah. Aku dari tadi nanyain kapan kamu datang ke sini? Terus kapan kamu mulai menginap?"
"Ohh itu. Aku baru saja datang. Dan mulai hari ini aku akan menginap di sini."
"Ahh serius, Nis?"
"Iya, serius."
"Yaeiiyy... Alhamdulillah. Akhirnya malam ini aku nggak tidur sendirian lagi dong."
Husnah tampak sangat gembira. Kedua tangannya menggenggam erat tanganku sambil mengguncang guncangnya. Tampak jelas sekali bagaimana gembiranya gadis cantik berkulit putih itu. Yuforia itu juga dia tularkan padaku. Dan kami pun tertawa bersama.
Semula Aku berfikir dia akan marah setelah beberapa kali tadi aku mengacuhkannya. Tapi ternyata tidak, dia masih saja mengukir senyum tulusnya dihadapanku. Sungguh, sifatnya ini mirip sekali dengan Kanaya. Entah kenapa tiba tiba saja hati ini terasa perih. Oh Ya Allah, aku sangat merindukan sahabatku itu.
"Nis, kamu kenapa?"
Pertanyaan Husnah berhasil mengeluarkanku dari jerat keperihan hati ini. Aku berusaha tersenyum dihadapannya. Tapi sepertinya dia mengetahui kalau saat ini aku tidak baik-baik saja. Genggamannya pada kedua tanganku mengerat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dalam Diam
RandomTim Author : Hasna_Anna Jawara Indonesia Arena-1 Tim Rabu Berawal dari suara Hati ini bergetar untuk pertama kalinya Saat dimana bait-bait adzan itu dikumandangkan Dan saat dimana ayat-ayat suci itu dilantunkan dengan begitu merdunya Disitulah hati...
